Loading
Meta Dikabarkan Tengah Siapkan PHK Massal, Imbas Biaya Investasi AI yang Membengkak. (Pixabay)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Meta dilaporkan tengah menyiapkan pemutusan hubungan kerja dalam skala besar di tengah meningkatnya biaya investasi kecerdasan buatan atau AI. Langkah ini disebut bisa memengaruhi 20 persen atau lebih dari total karyawan perusahaan, seiring upaya Meta menekan beban pengeluaran dan meningkatkan efisiensi kerja dengan dukungan teknologi AI.
Menurut sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut, hingga kini belum ada tanggal pasti untuk pelaksanaan PHK dan besaran akhirnya juga belum ditetapkan. Meski demikian, para eksekutif puncak Meta disebut telah memberi sinyal kepada jajaran pemimpin senior untuk mulai menyusun rencana pengurangan jumlah karyawan.
Jika angka 20 persen benar-benar diterapkan, PHK ini akan menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah Meta sejak restrukturisasi besar pada akhir 2022 dan awal 2023. Dalam laporan keuangan terbarunya, perusahaan tercatat memiliki hampir 79.000 karyawan per 31 Desember.
Sebelumnya, dilansir The Guardian, Meta pernah memangkas 11.000 pekerjaan pada November 2022 atau sekitar 13 persen dari total tenaga kerjanya saat itu. Empat bulan kemudian, perusahaan kembali mengumumkan pengurangan 10.000 karyawan dalam langkah yang saat itu disebut sebagai bagian dari tahun efisiensi.
Dorongan untuk melakukan efisiensi kali ini muncul di tengah ambisi Meta yang semakin agresif dalam pengembangan AI generatif. Selama setahun terakhir, CEO Meta Mark Zuckerberg mendorong perusahaan untuk bersaing lebih ketat di sektor tersebut, termasuk dengan menawarkan paket gaji bernilai sangat besar untuk merekrut peneliti AI terbaik ke tim superintelijen baru.
Perusahaan juga berencana menggelontorkan investasi besar untuk membangun pusat data hingga 2028. Di saat yang sama, Meta terus memperluas langkahnya di sektor AI, termasuk dengan mengakuisisi Moltbook, platform jejaring sosial yang dibangun untuk agen AI, serta menghabiskan sedikitnya 2 miliar dolar AS untuk membeli startup AI asal China, Manus.
Zuckerberg sebelumnya juga telah memberi sinyal bahwa investasi AI akan berdampak pada efisiensi tenaga kerja. Pada Januari lalu, ia mengatakan proyek yang sebelumnya membutuhkan tim besar kini mulai bisa dikerjakan oleh satu orang yang sangat berbakat.
Rencana Meta ini mencerminkan tren yang lebih luas di kalangan perusahaan besar Amerika Serikat, terutama sektor teknologi, yang mulai menjadikan perkembangan AI sebagai salah satu alasan untuk merombak kebutuhan tenaga kerja. Perusahaan-perusahaan besar kini semakin melihat AI sebagai alat untuk menjalankan lebih banyak pekerjaan dengan tim yang lebih kecil.
Namun, langkah ekspansi AI Meta juga tidak lepas dari sejumlah hambatan. Perusahaan disebut sempat menghadapi kemunduran pada model Llama 4, termasuk kritik karena model tersebut menghasilkan keluaran yang menyesatkan dalam tolok ukur yang digunakan untuk versi awal. Meta juga membatalkan peluncuran model terbesar mereka, Behemoth, yang sebelumnya direncanakan rilis pada musim panas.
Tim superintelijen Meta kemudian berupaya memperkuat kembali posisi perusahaan dengan membangun model baru bernama Avocado. Akan tetapi, performa model tersebut juga disebut masih belum memenuhi harapan.