Loading
Ilustrasi penggunaan aplikasi WhatsApp. (Foto: iStock/georgeclerk)
MOSKOW, ARAHKITA.COM – Pemerintah Rusia resmi memutus akses WhatsApp di seluruh wilayahnya. Langkah ini diambil setelah aplikasi pesan milik Meta dinilai tidak mematuhi aturan hukum nasional yang berlaku.
Keputusan tersebut dikonfirmasi langsung oleh Kremlin pada Kamis (12/2). Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyebut pemblokiran ini sebagai konsekuensi dari sikap Meta yang menolak tunduk pada regulasi Rusia.
“Karena Meta tidak bersedia mematuhi hukum Rusia, keputusan tersebut memang telah diambil dan diterapkan,” ujar Peskov kepada wartawan.
Sebagai pengganti, pemerintah memperkenalkan MAX, aplikasi pesan instan yang didukung negara dan diposisikan sebagai “messenger nasional”. Menurut Peskov, MAX saat ini sudah tersedia luas dan terus dikembangkan agar bisa menjadi alternatif utama bagi warga.
Namun, kehadiran MAX tidak lepas dari kritik. Sejumlah pengamat dan aktivis menilai aplikasi ini berpotensi menjadi alat pengawasan digital. Pemerintah Rusia menepis tudingan tersebut dan menegaskan bahwa MAX dikembangkan untuk memperkuat kemandirian teknologi nasional.
Pemblokiran WhatsApp menandai puncak tekanan yang telah berlangsung sekitar enam bulan. Selama periode itu, layanan panggilan dibatasi, lalu akses aplikasi kian dipersempit hingga akhirnya terputus total. Kini, WhatsApp hanya bisa digunakan melalui jaringan pribadi virtual (VPN).
Kebijakan ini sejalan dengan strategi Rusia di tengah situasi perang untuk membangun infrastruktur komunikasi yang “berdaulat”. Perusahaan teknologi asing dihadapkan pada dua pilihan: patuh pada hukum setempat atau angkat kaki dari pasar Rusia.
Sebelumnya, Meta telah ditetapkan sebagai organisasi ekstremis oleh otoritas Rusia. Perusahaan tersebut sempat memperingatkan bahwa pemblokiran penuh WhatsApp akan berdampak besar pada keamanan komunikasi masyarakat.
“Upaya mengisolasi lebih dari 100 juta pengguna dari komunikasi yang pribadi dan aman adalah langkah mundur dan justru menurunkan tingkat keselamatan publik,” kata Meta dalam pernyataan resminya dirangkum dari berbagai sumber.
Dari sisi teknis, sejumlah domain terkait WhatsApp telah dihapus dari sistem nama domain nasional Rusia. Akibatnya, perangkat di dalam negeri tidak lagi menerima alamat IP aplikasi tersebut. Regulator komunikasi Roskomnadzor belum memberikan tanggapan resmi atas perkembangan terbaru ini.
Reaksi Warga Moskow Terbelah
Di Moskow, respons publik muncul dengan nada beragam. Sejumlah aktivis melakukan aksi simbolik dengan menggantung gembok sepeda di pintu kantor Roskomnadzor, disertai poster bertuliskan tuntutan akan internet tanpa regulasi ketat.
Sebagian warga mengaku kecewa. “Saya melihat ini sebagai pelanggaran hak konstitusional karena membatasi kebebasan memilih,” ujar Anna, seorang warga Moskow. Namun ada pula yang bersikap lebih santai. Elena, misalnya, menilai pemblokiran bukan masalah besar karena masih tersedia aplikasi pesan lain.
Sementara itu, Alyona memilih bertahan menggunakan WhatsApp melalui VPN selama mungkin sebelum akhirnya mencoba MAX.Rusia sebelumnya juga telah membatasi atau memblokir sejumlah platform global seperti Snapchat, Facebook, Instagram, dan YouTube.
Pemerintah beralasan, pembatasan dilakukan demi keamanan nasional, termasuk pencegahan penipuan, perekrutan kriminal, hingga terorisme.
Pengadilan Rusia pun telah beberapa kali menjatuhkan denda kepada WhatsApp karena dianggap gagal menghapus konten terlarang. Pemerintah menegaskan, setiap platform asing wajib memiliki kantor perwakilan lokal agar dapat diawasi dan dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum Rusia.