Laporan Microsoft: AI DeepSeek Kian Populer di Negara Berkembang


  • Senin, 12 Januari 2026 | 09:00
  • | Tekno
 Laporan Microsoft: AI DeepSeek Kian Populer di Negara Berkembang Laporan Microsoft: AI DeepSeek Kian Populer di Negara Berkembang. (Q3 Technologies)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Perusahaan rintisan teknologi asal Tiongkok, DeepSeek, semakin mendapat tempat di negara-negara berkembang dan dinilai berpotensi mempersempit kesenjangan adopsi kecerdasan buatan antara negara maju dan berkembang. Hal tersebut terungkap dalam laporan terbaru Microsoft yang dirilis pada Kamis.

Dalam laporan tersebut, dilansir Asahi Shimbun, Microsoft mencatat bahwa adopsi global alat kecerdasan buatan generatif mencapai 16,3 persen dari populasi dunia dalam tiga bulan hingga Desember. Angka ini meningkat dibandingkan periode tiga bulan sebelumnya yang berada di level 15,1 persen. Meski demikian, kesenjangan adopsi AI antara negara maju dan berkembang masih terlihat jelas.

Microsoft menyebutkan bahwa tingkat adopsi AI di kawasan yang dikategorikan sebagai belahan bumi utara tumbuh hampir dua kali lebih cepat dibandingkan dengan belahan bumi selatan. Kepala ilmuwan data Microsoft AI for Good Lab, Juan Lavista Ferres, mengatakan bahwa perbedaan ini menimbulkan kekhawatiran akan semakin lebarnya jurang pemanfaatan teknologi AI secara global.

Negara-negara yang lebih awal dan konsisten berinvestasi dalam infrastruktur digital tercatat memimpin dalam adopsi AI. Uni Emirat Arab, Singapura, Prancis, dan Spanyol menjadi contoh negara dengan tingkat penggunaan AI yang tinggi. Temuan ini sejalan dengan survei Pew Research Center yang menunjukkan antusiasme tinggi terhadap AI di negara-negara tersebut, termasuk Korea Selatan.

Microsoft mengakui memiliki kepentingan bisnis dalam pertumbuhan adopsi AI, namun Lavista Ferres menegaskan bahwa riset laboratoriumnya melihat fenomena ini dari perspektif yang lebih luas. Salah satu temuan utama adalah meningkatnya penggunaan DeepSeek di negara berkembang berkat modelnya yang gratis dan berbasis sumber terbuka.

DeepSeek, yang didirikan pada 2023, menarik perhatian global setelah merilis model AI penalaran R1 pada Januari 2025. Model ini diklaim lebih hemat biaya dibandingkan produk sejenis dari perusahaan teknologi Amerika Serikat. Keberhasilan tersebut memicu diskusi luas di industri teknologi global mengenai percepatan kemajuan AI di Tiongkok. Bahkan, jurnal ilmiah Nature menyebut riset yang ditulis bersama pendiri DeepSeek, Liang Wenfeng, sebagai makalah penting.

Menurut Microsoft, DeepSeek memiliki keunggulan dalam tugas-tugas seperti matematika dan pengkodean, meski memiliki pendekatan berbeda dalam topik tertentu seperti politik. Perbedaan tersebut disebut terkait dengan akses dan kebijakan internet di Tiongkok, yang memengaruhi cara model AI menjawab pertanyaan sensitif.

Model gratis tanpa biaya berlangganan dinilai menjadi faktor utama yang mendorong popularitas DeepSeek di wilayah yang sensitif terhadap harga. Akses terbuka bagi pengembang untuk memodifikasi model inti juga mempercepat penyebaran teknologi ini di pasar yang selama ini kurang terlayani oleh platform AI Barat.

Laporan Microsoft mencatat bahwa penggunaan DeepSeek relatif rendah di Amerika Utara dan Eropa, seiring dengan pembatasan yang diterapkan sejumlah negara maju karena kekhawatiran keamanan. Namun, pangsa pasarnya justru tinggi di Tiongkok, Rusia, Iran, Kuba, dan Belarus, wilayah di mana layanan teknologi AS menghadapi keterbatasan.

Di Tiongkok, pangsa pasar DeepSeek diperkirakan mencapai 89 persen. Belarus dan Kuba masing-masing mencatatkan 56 persen dan 49 persen, sementara Rusia berada di kisaran 43 persen. Di negara-negara seperti Suriah dan Iran, pangsa pasar DeepSeek berada di atas 20 persen. Di sejumlah negara Afrika, termasuk Ethiopia, Zimbabwe, Uganda, dan Niger, pengguna DeepSeek mencapai kisaran 11 hingga 14 persen.

Microsoft juga menyoroti bahwa kehadiran DeepSeek sebagai aplikasi bawaan di perangkat buatan perusahaan teknologi Tiongkok turut mendorong adopsinya. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa AI sumber terbuka seperti DeepSeek berpotensi menjadi instrumen geopolitik, memperluas pengaruh Tiongkok di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau oleh platform AI Barat.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tekno Terbaru