Selasa, 20 Januari 2026

Saat Dua Ibu Tak Akur Menjelang Pernikahan


 Saat Dua Ibu Tak Akur Menjelang Pernikahan Ilustrasi - Konflik antara ibu pengantin wanita dan ibu pengantin pria bisa muncul menjelang hari bahagia. (Foto: Getty Images/Brides.com)

MENYATUKAN dua hati lewat pernikahan tak sekadar tentang dua orang, tapi juga dua keluarga besar yang ikut bergabung menjadi satu. Idealnya, ini adalah momen penuh cinta dan kebersamaan. Tapi kenyataannya, masa persiapan bisa penuh drama—apalagi kalau dua sosok penting, ibu pengantin wanita dan ibu pengantin pria, ternyata tidak akur.

Dari urusan daftar tamu, konsep dekorasi, sampai tradisi yang ingin dipertahankan, perbedaan pendapat bisa muncul kapan saja. Kalau dibiarkan, suasana bahagia bisa berubah jadi tegang. Jadi, bagaimana cara menjaga kedamaian tanpa kehilangan kebahagiaan menjelang hari besar?

Berikut langkah-langkah bijak yang bisa membantu menghadapi dua ibu yang tak sejalan menjelang pernikahan dilansir dari laman brides.com

1. Tenangkan Diri dan Jangan Memihak

Saat konflik muncul, hal pertama yang perlu dilakukan adalah menarik napas dalam-dalam. Ingat, keduanya adalah orang dewasa dengan niat baik untuk kebahagiaan anaknya. Cobalah untuk tidak langsung memihak salah satu pihak, meski terkadang sulit.Biarkan mereka punya ruang untuk menenangkan diri sebelum Anda ikut campur.

2. Kenali Akar Masalahnya

Setiap perbedaan pasti punya sumber. Bisa karena perbedaan budaya, cara komunikasi, atau bahkan rasa kehilangan posisi penting di keluarga.Dengan memahami akar masalahnya, Anda bisa menentukan pendekatan terbaik untuk menenangkan suasana tanpa menambah ketegangan.

3. Tetapkan Batasan dengan Lembut

Dalam euforia persiapan, sering kali orang tua ingin ikut menentukan banyak hal. Di sinilah pentingnya menetapkan batasan yang jelas tapi tetap sopan.Sampaikan bahwa Anda menghargai pendapat mereka, namun keputusan akhir sebaiknya dibicarakan bersama pasangan. Batasan yang sehat membantu mencegah konflik yang tidak perlu.

4. Dorong Dialog yang Tenang

Daripada menjadi penengah terus-menerus, coba bantu keduanya bertemu dalam suasana santai. Misalnya saat fitting kebaya bersama atau makan siang keluarga.Anda bisa menjadi jembatan yang lembut—bukan wasit. Fokuskan pembicaraan pada tujuan utama: menciptakan hari pernikahan yang membahagiakan semua pihak.

5. Tahu Kapan Harus Turun Tangan

Jika konflik mulai mengganggu hubungan Anda dan pasangan, saatnya turun tangan. Bicaralah langsung dengan ibu Anda, dan biarkan pasangan melakukan hal yang sama dengan ibunya.

Pendekatan personal jauh lebih efektif dibanding saling menyalahkan. Namun, bila masalahnya sepele, kadang lebih baik membiarkan waktu yang menyelesaikan.

6. Jaga Komunikasi Sebagai Pasangan

Di tengah segala dinamika keluarga, Anda dan pasangan tetaplah tim utama. Gunakan momen ini untuk melatih komunikasi yang sehat.Bicarakan semua dengan tenang, gunakan kalimat “saya” bukan “kamu”, dan fokus pada solusi. Dengan begitu, hubungan justru makin kuat meski berada di tengah tekanan menjelang pernikahan.

7. Jangan Ragu Minta Bantuan Profesional

Jika situasi terasa sulit dikendalikan, tak ada salahnya berkonsultasi dengan konselor keluarga atau terapis. Pandangan dari pihak ketiga bisa membantu menemukan cara lebih netral untuk menjaga kedamaian.

Hubungan antara ibu pengantin wanita dan ibu pengantin pria memang bisa jadi ujian sebelum hari bahagia. Tapi dengan empati, komunikasi yang baik, dan batasan yang sehat, semua bisa dihadapi dengan kepala dingin.

Ingat, pernikahan bukan sekadar acara satu hari—melainkan awal dari keluarga besar yang baru, tempat cinta dan pengertian terus tumbuh.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Wedding Terbaru