ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Update News

Suara Kita

Doa Bersama Lintas Agama dan Kemanusiaan Mengatasi Pandemi COVID-19

Jumat , 09 Juli 2021 | 21:30
Doa Bersama Lintas Agama dan Kemanusiaan Mengatasi Pandemi COVID-19
Dr. Salman Habeahan, S.Ag,MM. (Foto-Foto: Istimewa)
POPULER
Potensi Ekonomi Maritim Indonesia Capai 1,4 Triliun Dolar AS

 

Oleh: Dr. Salman Habeahan, S.Ag,MM

“Ikhtiar lahir sudah, dan akan terus dilakukan pemerintah. Bukan hanya itu, ikhtiar batin juga terus ditingkatkan dan semoga pandemi lekas sirna. Ayo kita sama-sama #PrayFromHome, tutur Gus Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas (Antara, 7 Juli 2021). Tagar #PrayFromHome Gus Menteri Yaqut Cholil menjadi salah satu trending di Twiter.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar doa kebangsaan dan kemanusiaan, Kamis, (14/5/2020). Kegiatan ini juga bertepatan dengan Hari Doa Sedunia. Memperhatikan kondisi pandemi COVID-19 yang masih terus bertambah sampai masa PPKM darurat, jumlah yang terkonfirmasi positif COVID-19 sudah sampai 2.455.912 orang, sembuh 2.023-548, meninggal 64.631 jiwa dan dirawat 367.733 Orang (Detik/Rakyat Merdeka, 9 Juli 2021). Doa lintas agama yang kedua dimasa pandemi digagas oleh Gus Yaqut dan akan dilaksanakan bersama 6 tokoh agama (Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha dan Konghucu) yang memimpin doa kebangsaan dan kemanusiaan, memohon agar pandemi COVID-19 cepat sirna dari bumi Indonesia.

Doa dan Hening Cipta lintas agama dan kemanusiaan untuk keselamatan bangsa  diawali  tanggal 10, Juli 2021,  jam 10.07 WIB, selama 60 detik menghentikan segala aktivitas sejenak untuk mengenang dan mendoakan para tenaga kesehatan, relawan, masyarakat yang menjadi korban COVID-19. Hening Cipta Indonesia dilaksanakan dengan berdiam diri di rumah dapat menumbuhkan kekuatan solidaritas bersama untuk bersinergi dan bergotong royong dalam menghadapi pandemi. Dan Hening Cipta Indonesia juga diharapkan memberikan kesadaran tentang betapa pentingnya nikmat kesehatan sehingga harus dijaga dengan baik, ajak Gus Yaqut melalui Siaran Pers Kementerian Agama, 09 Juli 2021. “Mari seluruh rakyat Indonesia, kita heningkan cipta bersama, melangitkan doa, agar pandemi COVID-19 segera sirna, berdoa bagi keselamatan bangsa”,ajak Gus Menteri Agama Yaqut Qoumas. Dan doa bersama lintas agama  akan dilaksanakan secara virtual Zoom diikuti sekitar 10.000 peserta dan akan disiarkan melalui Televisi dan media mainstream, dan akan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Maruf Amin bersama Manteri Kabinet yang dilaksanakan dari rumah masing-masing (#PrayFromHome).

4eb279c6-110f-4118-903c-34d061d6fbdf

Ungkapan Iman

Doa merupakan ungkapan iman (kepercayaan), harapan, dan kasih kepada Tuhan yang dapat dilakukan baik secara pribadi maupun bersama. Doa juga merupakan sumber kekuatan bagi kehidupan orang beriman. Melalui doa, iman, harapan dan kasih dalam hidup kita semakin diteguhkan agar kita menjadi semakin bertumbuh, meskipun kita harus menghadapi beratnya perjuangan hidup; rasa takut, was-was, galau dan sedih akibat pandemi COVID-19 yang membelenggu hidup manusia tanpa kecuali. Masyarakat Indonesia yang religius percaya bahwa dengan berdoa, keyakinan pribadi seseorang dapat bertumbuh semakin kuat dan dapat menjalani kehidupan ditengah pandemi yang semakin menakutkan rakyat Indonesia. Dan dengan keyakinan yang kuat, apa yang menjadi permohonan, harapan serta ketakutan yang diungkapkan di dalam doa, didengar oleh Tuhan.

“Janganlah kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal kekawatiranmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur”. Sikap dasar inilah yang melandasi umat beragama dalam menghadapi rasa takut, galau, kawatir akibat pandemi COVID-19 yang memakan korban puluhan ribu setiap hari. Doa bagi umat beriman menjadi jalan terakhir ketika ikhtiar untuk menanggulangi pandemi COVID-19 yang dilakukan oleh pemerintah bersama masyarakat baik melalui vaksinasi, penerapan protokol kesehatan secara ketat dan PPKM darurat, agar pintu langit dibuka oleh Tuhan.

Doa bersama, selain mengungkapkan iman dalam kebersamaan lintas agama, juga memperteguh harapan bersama. Doa bersama dapat dikatakan sebagai bentuk komunikasi bersama yang menjembatani setiap hati, sehingga apa yang menjadi harapan serta permohonan bersama, menjadi komitmen bersama lintas agama, pemerintah bersama seluruh anggota masyarakat konsistensi menjalankan protkol kesehatan, mengikuti PPKM darurat, dapat diperjuangkan secara bersama-sama. Dan dalam hal inilah, Tuhan berkarya serta mengabulkan doa-doa bersama.

Doa adalah sumber kekuatan hidup umat beriman. Doa merupakan cara terbaik untuk menangkal segala musibah, (Prof. Dr. KH M Quraish Shihab). Dengan berdoa kepada Allah, maka kita akan diselamatkan. Dalam doa bersama terpancar sebuah keyakinan bahwa hari-hari ini rakyat menyadari bahwa melalui kesulitan hidup yang menimpa bangsa Indonesia bersama bangsa lain di dunia percaya bahwa Indoensia akan berdiri menjadi satu bangsa yang akan lebih kuat, tegar dan dapat keluar dari persoalan hidup akibat pandemi COVID-19. Ketika rasa takut datang, terpancar kekuatan yang mampu mengubah menjadi harapan, dan saat kami tenggelam Engkau bangkitkan. Dan ketika rasa kesedihan menyelimuti warga kami, Tuhan datang memberi penghiburan, kekuatan. Ketika kami dilanda suatu penyakit positive Covid 19 engkau hadir sebagai penyembuh. Kehadiran Tuhan menjadi harapan kerinduan masyarakat Indonesia sehingga pandemi COVID-19 segera berlalu.

Kesalehan

Doa merupakan salah satu cermin umat beriman yang hidupnya saleh. Menanggapi sekelompok masyarakat yang berkata; “manusia hanya takut kepada Tuhan, kita tidak boleh takut kepada Virus Corona”, kordinator Gusdurian Alisa Wahid, mengajak masyarakat untuk tidak mengabaikan kesehatan. Dia mengatakan umat beragama jangan hanya menjadi saleh atau saleha dengan beribadah saja. “Jangan memandang  orang saleh itu yang ibadahnya di Mesjid dan mengabaikan wabah”. Jadilah muslih/muslikah, orang yang membawa kebaikan, beribadah di rumah, karena ingin sesama warga saling menjaga kesehatan (Antara, 7 Juli 2017).

Hakekat doa adalah bahwa Allah menguasai seluruh kemampuan manusia, khususnya akal budi-daya kritis, daya kreativitas penalarannya untuk dituntun oleh karya Roh Allah yang membimbing umat manusia dalam doa dan permenungannya. Berdoa dari rumah, atau berdoa di rumah ibadah bukanlah menjadi persoalan yang perlu diperdebatkan apalagi dipertentangkan, karena pada hakekatnya doa dan ibadah kepada Allah berlangsung secara personal atau komunal dimana Tuhan hadir yang bekerja menggerakkan hati manusia, sebab kehadiran Allah tidak terbatas pada ruang dan waktu.

e2059f74-2df3-4cd2-8e0f-7828611d8e30

Seorang beriman mengalami arti iman dalam menghadapi tantangan hidup sehari hari. Hidup beriman tercermin dalam sikap berdoa yang selalu siap sedia untuk melepaskan segala rasa aman, rasa takut dan melangkah lebih jauh dalam harapan akan kehidupan yang lebih baik sebagai karunia dari Tuhan. Dalam keheningan doa seseorang menangkap makna kehidupan dari dalam ruang batin, di mana Tuhan yang memberikan bisikan; “Jangan takut”. Dalam doa dimana ruang batin perasaan cinta dan benci, kelembutan, dan kepedihan, pengampunan dan keserakahan manusia dipisahkan, dikuatkan dan dibentuk kembali dengan berpegang pada penyelenggaran Ilahi Tuhan. Dalam keheningan seperti itulah berdoa berrarti menerima, berharap, berbela rasa dan memperharaui hidup (Tobat).

Dalam kekuatan doa, seseorang dapat merentangkan tangan untuk merangkul alam, Tuhan dan sesama dan sekaligus mengharapkan datangnya kehidupan baru. Dan orang yang mempunyai pengharapan tidak terjebak oleh rasa was-was, rasa takut yang berlebihan terhadap virus Corona, dan bahkan keinginan sekalipun tidak terpenuhi. Doanya tidak tertuju pada pemberian tetapi pada Dia yang memberi kehidupan. Harapan yang dilandaskan pada keyakinan bahwa Allah akan memberikan yang terbaik, dan melaksanakan janji-Nya dengan penuh kasih, sekalipun jika kita tidak tahu, kapan, di mana, dan bagaimana janji itu terlaksana. Doa yang penuh harapan bersama, ibarat melepaskan senjata dari genggaman kita dan memperluas cakrawala kita sampai melebihi batas-batas keinginan kita sendiri. Doa yang sejati tidak pernah menyingkirkan sesame, tetapi memungkinkan kita melihat masa depan bersama lebih baik (John Hnery Nouwen, 2013).

 

Doa bersama untuk bangsa menuntun kita pada kesadaran bahwa kita (bangsa) tidak sendirian, hidup sebagai manusia berarti hidup bersama. Dalam kesadaran dan komitmen inilah belarasa lahir dan bertumbuh untuk memperteguh persaudaraan bahwa sesame adalah orang yang mengambil bagian pada kemanusiaan yang sama. Belarasa membuat kita berani mengakui bahwa kita mempunyai tujuan hidup yang sama, sehingga kita dapat bergerak maju bersama melaksanakan protokol kesehatan, menaati PPKM, mengikuti vaksinasi sehingga pandemi COVID-19 berubah menjadi endemik.

Anugerah besar yang dikaruniakan dalam keheningan doa adalah jati diri yang baru sebagai manusia yang dicintai Tuhan, sehingga mampu hidup dan bekerja bersama sebagai komunitas bangsa. Selama kehidupan dan karya manusia dilandaskan pada pengenalan diri yang keliru dan cacat, kita akan terbelunggu  dalam konflik dan kehilangan perspektif (Kardinal Ignatius Suharyo). Doa bersama untuk bangsa dan kemanusiaan memberikan harapan baru, hidup baru di tengah-tengah peradaban yang sedang goyah akibat pandemi Covid 19 melanda dunia. Dan sebagai umat beriman kita percaya: “ketika ikhtiar manusia lemah, Tuhan akan hadir dan bekerja dengan cara-Nya sendiri”. Amin.

Dr. Salman Habeahan, S.Ag.MM, ASN pada Kementerian Agama, Dosen Pascasarjana Universitas Budi Luhur Jakarta, Dewan Pakar Gerakan Pembumian Pancasila dan Fox Voint Indonesia. E-mail: salman.habeahan@yahoo.co.id.

                           

 

Editor : Farida Denura
KOMENTAR