ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Update News

Suara Kita

Pancasila: Nilai-nilai Spiritual yang Memerdekakan

Selasa , 01 Juni 2021 | 06:00
Pancasila: Nilai-nilai Spiritual yang Memerdekakan
Dr. Salman Habeahan, S.Ag.MM. (Foto: Istimewa)
POPULER
Menteri Tjahjo Kumolo Sebut Pemerintah Belum Berlakukan ‘Lockdown’

Oleh: Dr. Salman Habeahan, S.Ag.MM

Sebagian besar masyarakat menganggap Pancasila sebagai ideologi untuk mewujudkan Indonesia religius berdasarkan Agama (Islam). Pandangan itu diketahui melalui survei Pusat Studi Pancasila UGM bersama Indonesia Presidential Studies (IPS) berjudul Pandangan Publik tentang Pancasila. Sebagian besar masyarakat menganggap Pancasila sebagai ideologi untuk mewujudkan Indonesia religious, (Yogyakarta, kabardamai.id, 9 April 2021).

Rumusan Pancasila dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ketiga menegaskan jiwa pengakuan akan adanya rahmat Tuhan Yang Maha Esa dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pancasila diyakini sebagai ideology yang membangkitkan keyakinan ideologis; sebagai dasar Negara mengembangkan keyakinan konstitusi; dan sebagai spiritualitas meneguhkan keyakinan sipiritual bangsa. Pancasila merupakan nilai-nilai Spritual yang memerdekakan sebagai sendi-sendi kehidupan berbangsa.

Salah satu problem sosial di masyarakat adalah semakin tergerusnya nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. Fenomena adanya infiltrasi terhadap ideology Pancasila dengan menggunakan doktrin paham keagamaan yang sempit. Dalam kondisi yang demikian,  masyarakat/bangsa Indonesia harus berani memberikan tafsiran-tafsiran baru-genuin atas Pancasila untuk menggali nilai-nilai dasar yang terkandung di dalamnya terhadap proses perkembangan masyarakat. Teori problem solving (Karl Popper 1972) menuntut kita mengarahkan perhatian pada problem riil yang dihadapi oleh bangsa Indonesia; seperti pemerataan pendapatan, timpangnya pembangunan demokrasi, lemahnya penerapan rule of low dan bertumbuhnya sikap intoleransi. Pancasila harus dapat menjadi spirit yang memerdekakan dalam mengatasi problem kebangsaan.

Pancasila adalah spiritualitas yang mendasari Negara Kesatuan Republik Indonesia,  ruh yang menghidupkan bangsa Indonesia. Dibutuhkan pendekatan heuristik agar dapat bermakna sebagai suatu perspektif yang lebih segar untuk membangun pemahaman baru atas Pancasila, misalnya, perspektif atau pengertian yang bermakna spiritual agar menuntun kita pada visi tertentu tentang Pancasila sebagai spiritualitas kehidupan bangsa Indonesia.

Nilai-nilai Spiritual Bangsa

Perjumpaan Pancasila dan Agama-agama di Indonesia melahirkan sebuah spiritualitas yang menarik untuk didalami. Mengamalkan Pancasila ternyata bukan hanya sekedar ideology bangsa, tetapi nilai-nilai Pancasila merupakan spirit yang memerdekakan dan sangat aktual, relevan dihayati dalam perjumpaan roh kebangsaan dan keagamaan, menghayati keberagamaan dalam konteks keindonesiaan, Bhineka Tunggal Ika. Common platform Pancasila yang memiliki asas pluralitas dan unitas (kesatuan) sebagai bangsa yang mendasari berdirinya Negara ini memiliki nilai-nilai spiritual yang kaya untuk digali dalam membangun spirit kebangsaan. Pancasila adalah nama dari suatu semangat dan jiwa dari realitas pluralitas Nusantara yang menghidupkan bagi setiap warganya.

Presiden Sukarno yakin bahwa Pancasila itu berakar dalam konteks bangsa Indonesia. Hal itu berarti bahwa hakekat Pancasila itu bercorak khas manusia di Indonesia atau mengandung spirit kehidupan manusia di Indonesia. Ibaratkan sebatang pohon, akar tunjang Pancasila itu tertanam dalam wilayah kebangsaan dan kemanusiaan Indonesia. Pancasila itu tumbuh dari gelora jiwa bangsa Indonesia. Ia adalah spiritualitas hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia. Nilai-nilainya menjadi daya yang menghidupkan dan mendorong manusia di Indonesia untuk bertumbuh dan berkembang sebagai bangsa yang cinta akan Tuhan, persaudaraan, kedamaian, kesetaraan, dan keadilan. Pancasila adalah prinsip dasar atau azas kehidupan, mengisyaratkan bahwa Pancasila adalah inti kehidupan bangsa Indonesia, artinya, kehidupan bangsa Indonesia selalu berada di dalam kerangka nilai-nilai spiritualnya (William Chang. 1997).

Pancasila sebagai sebuah rumusan pada tanggal 1 Juni 1945, oleh Ir. Soekarno, bahwa Pancasila merupakan rumusan pandangan hidup yang dapat diterima semua suku, agama, kelompok, golongan dalam masyarakat Indonesia karena dianggap sebagai dasar ideal bersama bangsa Indonesia. Pancasila merupakan jalan tengah (moderat) yang mendamaikan pertentangan antara bentuk Negara agama (khilafah) dan Negara sekuler; jalan keluar dari kebuntuan dua konsepsi (Agama Vs Sekuler) yang saling bertentangan. Pancasila merupakan konsensus dasar yang menjadi legacy dari para founding Fathers yang harus dijaga, digali nilai-nilai spirit sosial-spiritual untuk membangun Indonesia sebagai rumah bersama seluruh anak bangsa dari berbagai etnik/suku, budaya dan agama.

Bicara  tentang spiritualitas dalam nafas Pancasila memang tidak bisa dipisahkan. Keduanya melekat dalam setiap aspek prinsip pancasila dan spiritualitas itu bukan hanya menyangkut aspek teologis, religius tapi terkait ke semua aspek kehidupan, seperti kebangsaan, kesejahteraan, budaya, politik,  perekonomian, kejiwaan, gerakan, dan lain-lain. Pancasila yang mengandung nilai-nilai spiritualitas yang memerdekakan kita dari pikiran, gerakan diskriminatif, yang membawa pelanggaran terhadap hak azasi manusia. Bagaimana manusia beriman merayakan kesadaran dan rasa ketergantungan makhluk sementara kepada penyelenggaraan Ilahi. Nilai Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai jagat spiritual bangsa ingin menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang religious yang kaya nilai-nilai Spiritual dan sekaligus kebebasan beragama, kepercayaan dan penghormatan akan martabat manusia dijamin eksistensinya.

Kemanusiaan kita yang adil dan beradab, sebagai orang Indonesia, sama seperti bangsa lainnya berasal dari Sang Pencipta sendiri. Manusia adalah mahluk yang suci karena ia diciptakan oleh Allah. Allah memberikan martabat kemanusiaan yang sangat tinggi kepada setiap dan semua orang. Nilai spiritual martabat manusia sebagai pemberian Allah inilah yang harus dipakai sebagai ukuran untuk menghargai sesama manusia (Mgr. Hadisumarta, 2009).

Spritualitas dalam praksis orang beragama (beriman) merupakan wujud pengharapan untuk dapat menemukan suatu makna spiritualitas yang lahir dari realitas kehidupannya sendiri. Dengan demikian mereka mampu melihat dalam perspektif yang utuh perihal kebenaran dari kekayaan iman dan kehidupan sosialnya. Spiritualitas tersebut tidak lain adalah spiritualitas yang memerdekakan (Brown, 1988), dimana setiap pribadi orang beriman terperangkap, baik secara potensial maupun aktual, dalam praksis solidaritasnya dimana keprihatinan sosialnya mendorong untuk bertindak memerdekakan diri dari kehidupan sosial yang tidak adil dan beradab. Pribadi-pribadi demikian adalah pribadi yang telah sampai pada taraf pemahaman akan pentingnya keterbukaan terhadap nilai-nilai roh kebangsaan, sebagai jalan orang beriman dalam menemukan bentuk spiritualitas yang memerdekakan.         

Pancasila sebagai spiritualitas yang memerdekakan secara ontologis-substansial ada dalam kelima silanya yang sejalan dengan nilai-nilai universal semua agama, sehingga Pancasila dapat menjadi dasar kehidupan bersama sebagai anak bangsa. Pancasila diyakini mampu mempersatukan setiap suku, ras, agama, bahasa dan budaya dalam satu ikatan kebersamaan saudara sebangsa dan se tanah air. Bangsa Indonesia akan kehilangan rohnya jika hidup tanpa penghayatan nilai-nilai Pancasila. “Sebagai Lebenschauch, Geitsbraus ternyata roh kebangsaan sangat mempengaruhi dan menentukan seluruh ritme hidup anak bangsa dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik”, (Dr. William Chang, 2009). Roh itu tidak lain adalah Pancasila. Inkarnasi roh itu nampak dari buah-buah berbangsa, seperti kerukunan, tenggang rasa, damai dan kehidupan beragama yang otentik, kesetaraan harkat dan martabat setiap manusia Indonesia di hadapan hukum. Negara harus hadir menjamin agar nilai-nilai Spritual Pancasila tegak lurus dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pancasila sebagai spiritualitas bangsa tentu dapat menjadi roh, spirit yang mampu memerdekakan dalam berbagai aspek kehidupan utamanya dalam bidang politik, ekonomi, dan budaya (Trisakti). Sila Ketuhanan Yang Maha Esa seharusnya dapat mengembangkan nilai-nilai etik, moral, spiritual dan terwujud dalam sikap saling menghormati antar agama dan kepercayaan yang berbeda. Nilai-nilai spiritualitas yang terkandung dalam sila Katuhanan Yang Maha Esa bukan sekedar ritualisme sipirtual tetapi mengakar dalam hati dan pikiran (roh dan Jiwa), tercermin dalam kebudayaan dimana peziarahan spiritual bersifat kontekstual sesuai dengan kondisi bangsa dan tanah air, bukan sebaliknya mendikotomikan agama dan Pancasila sebagai dasar Negara sehingga melahirkan spirit radikalisme yang menginfiltirasi Pancasila. Spiritualitas yang memerdekakan memungkinkan tumbuhnya suatu komitmen untuk hidup seturut nilai-nilai moral Pancasila dapat mewujudkan kepenuhan martabat manusiawinya yang luhur dan mulia.

Pemaknaan Pancasila sebagai Sipiritualitas bangsa berdaya emansipatif, transformatif, dan liberatif dalam praksis kehidupan berbangsa dan bernegara. Selaras dengan makna mendasarnya, Pancasila sebagai spiritualitas mestinya memang bersifat mempersatukan, menghidupkan, dan membebaskan. Artinya, Pancasila menjadi spiritualitas kehidupan bangsa Indonesia mengisyaratkan bangsa Indonesia selalu berkomitmen untuk mengikuti, menghayati, dan mewujudkan nilai-nilai mendasarnya dalam praksis kehidupan personal dan sosial.

Perspektif Pancasila menjadi spiritualitas bermakna menghidupkan, menggerakkan kesadaran bangsa Indonesia untuk mewujudkan nilai-nilai mendasar Pancasila dalam praksis kehidupan berbangsa dan bernegara dalam berbagai macam aspek. Bangsa Indonesia diharapkan untuk menjadi bangsa yang religius, hormat pada martabat kehidupan, hidup dalam persaudaraan, menjunjung kesatuan dalam kebersamaan, bermusyawarah untuk menentukan kepentingan bersama, peduli dan solider terhadap sesama.Itulah nilai-nilai dasar Pancasila yang menjadi spiritualitas kehidupan bangsa Indonesia yang dinamis.

Pancasila: Memerdekakan

Pancasila sebagai Spiritualitas bangsa berdaya menghidupkan, mengutuhkan, menumbuhkan kesadaran akan pentingnya bangsa Indonesia menjadi bangsa yang cinta akan kehidupan, persaudaraan, kesatuan dalam kebersamaan, musyawarah untuk menentukan kepentingan bersama, dan keadilan sosial. Ketika bangsa Indonesia berkomitmen pada nilai-nilai mendasar itu, Pancasila: nilai-nilai spiritualitas yang memerdekakan menempatkan Pancasila sebagai paradigma kehidupan bangsa Indonesia. Artinya, kehidupan bangsa Indonesia mengikuti, menghayati, dan mewujudkan nilai-nilai mendasar Pancasila dalam praksis kehidupan yang bercorak bhinneka.

Dalam konteks inilah, ajakan Presiden Jokowi untuk memperkuat internalisasi dan implementasi Pancasila menemukan relevansinya. Bahwa ancaman terbesar bagi keberlangsungan negara ini adalah kehilangan orientasi. Tanpa ideologi, sebuah bangsa kehilangan kerangka solidaritas bersama dan bintang penuntun untuk bertindak (Yudi Latif, 2021).

Pancasila sebagsi Spiritualitas berdaya memerdekakan, membebaskan setiap warga negara dari rasa takut dan kekuatiran untuk menyatakan pendapat, memerdekakan setiap insan dari kekuasaan otoriter, bebas dari berbagai gerakan intoleran, radikalisme, dan terorisme, roh yang menghidupkan semangat iman dan ketakwaan, roh yang menyatukan dan merekatkan dimensi kemanusiaan dengan berbagai latar belakang suku, agama, budaya dan kepercayaan.

Pancasila sebagai spiritualitas bangsa melahirkan roh yang menghidupkan demokrasi dan gotong royong; roh yang menggerakkan sikap inklusif dan pembauran; roh yang menuntun untuk  bersatu,  bersikap adil dan hormat terhadap setiap manusia. Pancasila merupakan rangkuman dari spirit universal cinta kasih yang menuntun persatuan manusia dengan Tuhan pencipta alam semesta, dan sesama manusia, bukan hanya di Indonesia melainkan di seluruh dunia (GPP, Rm. Max, 2020).

Nilai-nilai Spiritual Pancasila mampu mempersatukan orang-orang dari pelbagai agama dan kepercayaan, budaya, ideology politik yang berbeda tampaknya sulit bersatu. Potensi besar Pancasila sebagai spiritualitas untuk seluruh bangsa Indonesia, bukan sebagai ideology sempit yang bermaksud  mengarahkan dan membawa orang kepada tujuan politik kekuasaan, tetapi sebagai filsafat dan dasar moral-spiritual,  religiositas milik bersama bangsa Indonesia yang senantiasa dapat dikembangkan bersama apapun agama dan kepercayaannya  (Driyarkara, 2006). Semua komunitas agama, budaya, dan kepercayaan diundang agar berpartisipasi aktif dan kreatif dalam menggali, merevitalisasi dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai spiritualitas yang memerdekakan.    

Kearifan sosial agama-agama yang berusaha menghayati nilai-nilai spiritualnya dalam bingkai roh Pancasila: “Amalkan Pancasila”, layak menjadi pijakan bangsa dalam memupuk persatuan dan kesatuan antar etnis, kepercayaan maupun agama. Dan meningkatnya kecenderungan eksklusi social yang menampakkan diri dalam aneka bentuk kekerasan sosial berbasis fundamentalisme agama, tribalisme, dalam perspektif Pancasila mencerminkan lemahnya proses instusionalisasi, implementasi nilai-nilai Pancasila dan pengamalan keagamaan yang tidak lagi mencerminkan semangat “ketuhanan yang berkebudayaan” sebagaimana ditandaskan Bung Karno.

Menyebut Pancasila menjadi spiritualitas bangsa Indonesia memberikan makna imperative bahwa kehidupan bangsa Indonesia hendaklah menghayati nilai-nilai mendasar Pancasila dan mengaktualisasikannya dalam praksis kehidupan. Jika bangsa Indonesia tidak hidup berdasarkan nilai-nilai mendasar Pancasila, maka ia terancam kesaktiannya, mengalami kelabilan, kemunduran, dan ketidakseimbangan yang bermuara pada kejatuhan dan kehancuran sebagai bangsa sebab tidak menjadikan Pancasila sebagai “Ruh” dan bangsa Indonesia sebagai “Tubuh” yang dihidupinya dan harus menghidupinya agar tetap jaya. Selamat Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni 1945: “Pancasila dalam Tindakan, Bersatu untuk Indonesia Tangguh” (SE: BPIP, 2021).  

Dr. Salman Habeahan, S.Ag.MMPembimas Katolik Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Dosen Pascasarjana Universitas Budi Luhur Jakarta, dan Anggota Dewan Pakar Gerakan Pembumian Pancasila

Editor : Farida Denura
KOMENTAR