ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Update News

Suara Kita

Mensana in Corpore Sano, Manusia ‘Makhluk Misteri‘

Selasa , 24 Maret 2020 | 16:30
Mensana in Corpore Sano, Manusia ‘Makhluk Misteri‘
Ilustrasi: Jiwa yang sehat terdapat dalam tubuh yang sehat. Manusia memiliki segi badaniah dan rohaniah. (Net)
POPULER
12 Bandara Indonesia Terapkan Layanan Pelanggan Virtual

Oleh: Simply Yuvenalis

JIWA yang sehat terdapat dalam tubuh yang sehat. Manusia memiliki segi badaniah dan rohaniah, insaniayah dan ilahiah. Dalam kajian filsafat, disebut manusia sebagai makhluk 'multidimensi'. Dimensi phisik-ragawi, dimensi sosial, dimensi antropologis, dimensi metafisik-supra natural-spritual, dimensi psikologis, dimensi moralitas dan masih bisa dipilah beberapa dimensi lainnya. Manusia juga 'homo mystericum', yang diciptakan Sang Pencipta-Maha Misteri.

Dalam menghadapi bahaya pandemi wabah COVID-19, sudah membanjir begitu banyaknya informasi, dimana satu akibatnya adalah kepanikan dan ketakutan terserang wabah, takut akan mati. Berbagai pihak pembuat berita, dengan kemudahan teknologi yang ada zaman now, kiranya mempunyai ikhtiar positif membuat berita; baik untuk mencegah penularan, maupun untuk mengobati pasiennya. Namun, pihak penerima berita, karena begitu boomingnya informasi, dan berbeda kemampuan mencerna berita, akhirnya malahan bingung, panik dan ketakutan. Takut terserang virus berbahaya dan mati. Bingung mengikuti petunjuk siapa, panik harus berbuat apa, bahkan hilang harapan akan kehidupannya.

Tidak seorang pun yang waras, mau membahayakan kehidupannya dan kehidupan orang lain. Alasan mendasarnya adalah hidup sungguh disayangi dan mau terus dijaga, dimiliki, dialami. Meskipun kita tahu, bahwa kita pasti mati pada saatnya.

Kerena itu, selain upaya menjaga keamanan badan, kesehatan tubuh dari serangan wabah virus ini, kiranya ada dimensi lain dalam setiap pribadi perlu dimanfaatkan maksimal untuk menjaga dan menjamin keselamatan hidup. Dimensi sosial sudah dianjurkan dengan menjaga jarak relasi dalam kehidupan sehari-hari, kalau tidak sangat perlu, diminta tinggal di rumah. Tujuannya agar memutus rantai penyebaran virus.

Dimensi kognitif- rasiinalita, seharusnya juga saling mengingatkan agar membatasi dan bertanggungjawab dengan informasi. Sebaran informasi verbal maupun audio-visual kiranya perlu disortir oleh pihak berwenang, sambil menghimbau kesadaran setiap pengguna alat komunikasi. Jika sungguh disadari kemampuan mencerna informasi bervariatif, dmana mayoritas masyarakat berkemampuan rata-rata, maka informasi yang sifatnya menghasut dan menakutkan, perlu dibatasi bahkan dihentikan. Foto dan video tentang korban virus di negara lain, mungkin perlu disortir.

Salah satu alasannya, konteks bangsa dan tanah air kita berbeda. Indonesia tidak sama dengan China dan Italia. Indonesia negara kepulauan dan beriklim tropis, juga mempunyai sistem pertahanan hidup berbeda. Lebih mendasar, pikiran manusia dan ilmu pengetahuan harus dimanfaatkan dengan bijak, tetapi akal pikiran manusia ada batasnya dan ada dimensi lain dalam diri manusia yang harus juga didayagunakan.

Salah satu sistem pertahanan hidup yang khas Indonesia adalah warisan kearifan adat budaya, yang dimiliki setiap komunitas adat budaya di tanah air kita. Warisan adhikuhung kearifan adat budaya itu antara lain, nilai dan prinsip relasi dengan alam lingkungan, relasi dengan sesama, relasi dengan leluhur dan alam gaib, serta relasi dengan Sang Pencipta. Ini menyentuh multi dimensi manusia sebagai makhluk sosial, makhluk yang terbaring mutlak dengan alam dan makhluk yang Spiritual.

Inilah hakekat manusia sebagai Homo Mystericum' dari Sang Pencipta Maha Misteri. Karena itu, selain mengandalkan kemampuan akal budi, mutlak tidak boleh diabaikan khasanah adat budaya dan agama yang mengajarkan kekuatan Spiritual. Kepanikan, kecemasan dan ketakutan akan wabah dan akibnya yang mematikan, sangat besar berpengaruh membuat kita meragukan dan melupakan dimensi Spiritual. Dimensi yang menjadi kekuatan integral dan dasariah kehidupan serta eksistensi kemanusiaan kita.

Dari khasanah adat budaya yang mengajarkan kearifan, maka saat ada bencana dan mata bahaya, selalu muncul pertanyaan - pertanyaan introspektif. Kita ada kesalahan dan dosa apa dengan sesama, dengan para leluhur dan alam gaib, dan dengan Sang Pencipta? Mengapa terjadi bencana dan wabah penyakit mematikan? Ada ritual untuk menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan kemudian ada upacara-ritual membuat permohonan maaf dan ampun, penolakan bala bencana dan permohonan keselamatan. Yang membingungkan, dalam perspektif ini, ketika kegiatan ibadah keagamaan dibatasi demi mencegah dan memutus rantai penularan, bagaimana dengan ritual adat budaya? Mungkin jawabannya ada dalam setiap komunitas adat budaya, karena pelaku ritual ada batasannya.Tidak selalu melibatkan seluruh anggota komunitas dalam jumlah yang banyak.

Untuk konteks bangsa dan tanah air kita Indonesia, kiranya dimensi spiritual dalam warisan ada budaya juga menjadi satu kekuatan dan berkah yang mesti diandalkan; selain pengetahuan dan sarana medis hasil akal pikiran manusia.

Pada hakekatnya, kehidupan kita manusia dengan kelengkapan multi dimensi, yang harus seimbang dan harmonis, harus selalu dijaga bersama relasinya yang harmonis dengan sesama yang lain, relasi harmonis dengan alam lingkungan, relasi harmonis dengan arwah leluhur dan alam gaib, dan segala dalam hormat sujud sembah kita kepada Sang Pencipta-Tuhan Yang Maha Esa, ALLAH SANG MAHA MISTERI. Allah, Sang asal, penyelenggara dan tujuan kehidupan kita Manusia, 'makhluk multidimensi dan 'Homo Mystericum'.

Wabah penyakit ini, COVID-19 dengan korban ribuan orang, tiada yang bakal bisa menjawab, hanya kepadaNYA-ALLAH YANG MAHA ESA, kita kembali dan tunduk sujud. Jiwa yang sehat, terdapat dalam tubuh yang sehat. Sehatkan tubuh dengan sehatkan pikiran, hati nurani dan jiwa kita; bukan hanya memutlakkan kehebatan pikiran.

Penulis adalah Pemerhati masalah Budaya dan HAM, tinggal di Jakarta.

Editor : Farida Denura
KOMENTAR