ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Update News

Teologi Selfie (III)

Selfie, Dambaan Manusia yang Mendalam Ingin Diterima, Diakui

Sabtu , 16 November 2019 | 16:30
Selfie, Dambaan Manusia yang Mendalam Ingin Diterima, Diakui
Ilustrasi: Selfie, dambaan manusia yang mendalam ingin diterima, diakui. (Foto: Istimewa)
POPULER
Lampard Tak Mau Bahas Pemainnya yang Habis Kontrak

Oleh: Andreas B. Atawolo, OFM

DUA artikel sebelumnya memuat pandangan bahwa selfie menyingkap naluri manusia untuk menjadi diri sendiri. Manusia makhluk indrawi. Ia tampil dengan tubuh. Ia menampakkan wajah. Menjadi diri sendiri merupakan langkah penting menuju relasi sosial. Relasi interpersonal dapat terjalin baik ketika setiap pribadi telah berhasil mengenal dan menerima diri.

Momentum dan Durasi
Mengambil foto selfie adalah cara mengabadikan momen. Selfie berkaitan dengan momen dan tempat tertentu. Para penikmat selfie rela mencari spot-spot sulit dan beresiko untuk memenuhi kepuasan selfie: area tinggi, kemiringan ektrim, bahkan posisi tubuh yang sulit dilakukan. Tetapi apakah orang mau berlama-lama di area tinggi atau ekstrim? Kiranya tidak; lagi pula hanya sedikit orang melakukan hal-hal ekstrim. Sebenarnya dalam momen sesaat saja orang menghasilkan selfie. Ia ingin segera memviralkan momen itu dan lebih lama berselancar menikmati like, comment dan share yang datang dari para netizen.

Timer sebagai batas
Salah satu hal yang dilakukan pada saat mengambil foto selfie ialah memasang timer pada ponsel pintar. Timer selfie diset sedemikian sehingga berdurasi singkat, hanya dalam hitungan detik. Durasi selfie yang terlalu lama justru membuyarkan konsentrasi atau menjadi tontonan lucu. Durasi singkat foto selfie menunjukkan bahwa manusia pada dasarnya tidak betah dengan kesendirian: Ia tidak ingin terlihat aneh. Ia butuh saat sendirian, tetapi menjadi aneh kalau terus-menerus dalam kesendirian. Sejenak saja manusia ada dalam kesendirian, tetapi ingin merasa nyaman dalam kebersamaan. Sejenak manusia mencari keheningan, namun tidak ingin tenggelam dalam kesendirian. Orang yang berkepribadian wajar menolak kesepian, dan merindukan perjumpaan dengan sesama.

Cermin diri
Di era sebelum kecanggihan ponsel pintar, cermin mungkin menjadi semacam sarana untuk selfie. Anak-anak sering berbicara sendiri di depan cermin sambil memperhatikan wajahnya atau melakukan gerak tubuh aneh: menunjuk, menjulurkan lidah; sering kali sembil bernyanyi, menari, atau meniru gerak tokoh idola. Ini suatu tahap pertumbuhan pada anak. Tentu pada masanya tahap itu harus ditinggalkan, dan ia mulai belajar berinteraksi dengan teman-teman. Anak yang bertumbuh lebih banyak dalam kesendirian sering kali sulit berinteraksi dengan sesama. Artinya corak dasar manusia ialah relasional, bukan individual.

Ilmu Public speaking menganjurkan orang untuk berlatih di depan cermin sebelum tampil ke publik. Berlatih di depan cermin untuk membangun rasa percaya diri. Semakin sering melatih, semakin yakin untuk tampil. Di pusat-pusat senam kebugaran juga disediakan cermin, karena semakin sering orang melihat penampilan, semakin ia termotivasi untuk lebih berlatih. Tentu yang utama bukan tampilan di cermin, tetapi hasil nyata: ketika berada di hadapan ratusan pasangan mata. Saat sendiri itu penting sebagai persiapan tampil di publik. Orang hanya berani di depan cermin (selfie) tetapi takut di publik (sosial), terindikasi kurang percaya diri.

Memberi atau Menerima?
Kita terbiasa mendengar atau mengatakan bahwa seseorang itu aktif di media sosial. Artinya sering tampil dengan foto-foto, video, atau unggahan lain yang menarik. Sebenarnya kita tidak melulu aktif. Kita juga pasif: yaitu menikmati interaksi-interaksi yang terjadi di medsos, baik yang terkait dengan diri sendiri, atau dengan teman-teman lain. Kepuasan yang dicari dalam medsos tidak hanya datang dari keaktifan, tetapi juga kepasifan, maksudnya reaksi ketika kita telah berhasil mencuri perhatian warga net lainnya. Hal ini menyingkapkan naluri manusia untuk selalu mendapat pengakuan dari sesama.

Selfie bukan Selfish
Dalam Injil dikisahkan bahawa pada banyak kesempatan Yesus pergi menyendiri, di gunung atau di tempat sunyi. Di sana Ia berdoa. Ia berdiam diri. Ia hanya berbicara dengan Bapa-Nya lewat doa. Saat hening itulah yang menguatkan Dia ketika harus melakukan hal-hal penting: memilih 12 Rasul atau pergi mewartakan Kerajaan Allah di kota-kota lain, sehingga tidak terikat pada wilayah dan orang tertentu saja.

Santo Paulus terpanggil menjadi Rasul Kristus ketika ia berada pada puncak momen menjadi diri sendiri, menunggang kuda dengan pedang di tangan siap membunuh para pengikut Kristus. Saat ia jatuh dan menjadi buta, itulah saat ia terbuka menerima sapaan Tuhan. Dan sebagai Rasul ia sering dipenjara karena giat membela Kristus. Dan justru dari penjaralah ia menulis surat-surat penting kepada jemaat Kristen. Contoh lain, Fransiskus Assisi: Pada puncak semangat mudanya untuk menjadi prajurit perang, ia ditangkap Tuhan, bertobat menjadi bentara Kristus.

Rupanya saat ketika kita menjadi diri sendiri, kita tidak hanya semakin mengenal diri, tetapi juga semakin terbuka pada wujud lain yang jauh melampaui diri kita. Selfie adalah bahasa millenial yang menyingkap dambaan manusia yang mendalam: ingin diterima dan diakui bukan karena hal-hal yang tampak padanya, melainkan ia sendiri sebagai pribadi: apa adanya aku. Keutuhan manusia yang sesungguhnya ditemukan hanya di hadapan Tuhan: Ia mancintai tanpa pamrih. Semoga berlanjut....

|https://andreatawolo.id/|

Penulis, sejak 2016 aktif mengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

 

Editor : Farida Denura
KOMENTAR