Membangun Indonesia dari Timur


 Membangun Indonesia dari Timur Fransiscus Go, pengusaha sekaligus filantropi asal NTT. (Foto: Istimewa)

Oleh: Fransiscus Go

PEMBANGUNAN merupakan suatu aktivitas dinamis masyarakat untuk merobah keadaan, mengubah sumber alam dan merombak sistem nilai masyarakat ke tingkat yang lebih baik dan lebih maju.

Tujuan pembangunan, khususnya Indonesia adalah untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, membina ketertiban nasional dan dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial melalui wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sedangkan orientasi pembangunan adalah untuk masa depan bersama, supaya dengan demikian tujuan pembangunan dengan terciptanya kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran dapat tercapai.

Maka, pembangunan menjadi efektif dan tepat sasaran apabila setiap usaha pembangunan seharusnya dimulai dari pengembangan potensi mayoritas rakyat lapisan bawah, kelas menengah ke bawah, kemudian bergerak menuju suatu masyarakat kelas atas.

Dengan demikian, dapat menghimpun manusia seluruhnya dalam suatu tingkat komunitas hidup berbangsa dan bernegara yang sejahtera, adil dan makmur. Apabila tidak dilaksanakan dengan berpijak pada tujuan dan oritentasi pembangunan seperti itu, maka kepincangan pembangunan akan semakin terbuka lebar dan kesejahteraan bagi seluruh warga tidak tercipta.

Kesalahan orientasi pembangunan

Masalah pembangunan yang sedang dihadapi Indonesia hari ini adalah bukan saja belum terciptanya kesejahteraan bagi seluruh masyarakat karena masih banyak warga masyarakat yang hidup miskin dan jauh dari kesejahteraan, tetapi masih terdapat ketimpangan kawasan dalam pembangunan, yaitu kawasan Indonesia barat dan indonesia timur.

Pembangunan di Indonesia hingga hari ini bukan saja dikenal dengan istilah Jawa sentris tetapi juga Indonesia barat sentris. Sehingga, terjadi kepincangan dalam pembangunan. Indonesia di kawasan timur masih jauh terkebelakang dan terjadi di banyak aspek; ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lain-lain.

Orientasi pembangunan yang tidak menyeluruh dan merata di semua kawasan terutama antara Indonesia barat dan Indonesia timur, membuat kepincangan substansi pembangunan menyebar di Indonesia timur seperti NTT, NTB, Maluku dan Papua. Sehingga tidak hanya mencuatkan hasil pembangunan pada minoritas kaya yang ada di Innesia barat, tetapi juga tidak terjembataninya berbagai kesenjangan dalam pembangunan itu sendiri.

Kalau orientasi pembangunan seperti ini terus terjadi, masyarakat di Indonesia timur pun tampak semakin terasing dari “menara gading” pembangunan. Sudah puluhan tahun sejak kemerdekaan, masyarakat Indonesia timur merasa dianaktirikan dalam pembangunan nasional. Baru pada masa kekuasaan Presiden Jokowi ini pembangunan di NTT sudah mulai ada perhatian yang lumayan tinggi. Sehingga, rasa cinta masyarakat NTT terhadap Presiden Jokowi terbilang sangat tinggi.

Sedangkan masyarakat di kawasan Indonesia timur yang lain, terutama di Papua, hingga kini masih merasa kekayaan alamnya hanya dijadikan sapi perah untuk kebutuhan pusat atau untuk pembangunan kawasan Indonesia barat. Isi perut bumi tanah Papua dikuras dan dibawa ke Indonesia barat dan yang tinggal hanyalah permukaan tanah yang penuh bopeng. Lihat kasus Freeport.

Sudah sangat sering disuarakan tentang kepincangan pembangunan ini, tetapi dalam praktiknya belum telalu banyak perubahan. Orientasi pembangunan masih belum menyentuh kehidupan masyarakat Indonesia timur. Akhir-akhir ini baru terlihat dan terasa ada orientasi pembangunan yang mulai dari desa atau dari pinggiran. Kalau pembangunan dari desa, benar sudah ada realisasinya, dengan cara menggelontorkan dana desa dalam jumlah yang lumayan tinggi untuk setiap desa di seluruh Indonesia. Sedangkan pembangunan dari pinggiran, belum diketahui jelas arah dan praktiknya.

Apabila tujuan pembangunan itu jelas dengan pijakan juga jelas, tapi orientasinya dan titik mulainya tidak mengenai sasaran, maka tujuan mulia pembangunan untuk kesejahteraan bagi seluruh masyarakat pun semakin jauh panggang dari api. Apalagi pembangunan dunia saat ini semakin dikendalikan oleh para pemilik modal besar, yaitu kaum kapitalis yang hanya berorientasi pada terciptanya keuntungan sebesar-besarnya bagi para pemilik modal besar itu.

Maka, benar dalam pembangunan modern saat ini, seperti kata seorang feminis, Vandana Shiva dan seorang profesor dari Amerika Serikat, Denis Gaulet, bahwa wajah pembangunan menjadi tidak normal, dimana hasil pembangunan semakin mengasingkan dan mengalienasikan manusia dari pembangunan itu sendiri. Vandana menulis pembangunan modern sebagai mal-development dan Denis menyebut pembangunan sebagai pseudo-development.

Artinya, pembangunan yang berjalan pada era modern saat ini menjadi tidak normal, bahkan palsu. Hanya kelihatan seperti pembangunan fisik gedung-gedung megah tinggi menjulang di sejumlah daerah tetapi masyarakat di daerah lain tidak merasakan manfaat dari pembangunan tersebut. Bahkan masayarakat yang ada di sekitar bangunan-bangunan mewah itu juga tidak merasakan sebagai bagian dari dirinya.

Maka sulit dibayangkan bagaimana masyarakat di Indonesia timur bisa merasakan hasil pembangunan yang ada di Indonesia barat yang menampak dari pembangunan gedung-gedung megah yang ada di Jakarta dan di kota-kota besar lain di Indonesia barat bak jamur di musim hujan

Mari memulai dari timur matahari

Supaya lebih terciptanya pembangunan yang berkeadilan bagi segenap warga bangsa di semua kawasan di Indonesia, maka pembangunan sekarang dan ke depan dengan memulainya dari timur matahari terbit atau dari kawasan Indonesia timur, bukan saja suatu ajakan yang paling pas, tetapi telah mencapai titik urgensinya.

Pembangunan dengan memulainya dari timur adalah suatu orientasi pembangunan yang sungguh berkearifan. Pembangunan yang berkearifan akan membentuk suatu wajah pembangunan yang dapat menyentuh sisi-sisi humanitarian.

Dengan pembangunan yang memulai dari timur Indonesia yang selama ini terkenal sebagai kawasan yang masih terkebelakang maka pembangunan akan menyentuh fundamental keutuhan bangsa. Dengan itu, akan menghancurkan atau mengeliminasi pula cikal bakal disintegrasi sosial, juga disintegrasi bangsa secara politik.

Dengan terciptanya lingkungan sosial yang berkeadilan, mulai dari kawasan timur Indonesia, akan menopang material dan landasan eksistensi negara kesatuan republik Indonesia. Apabila itu tidak tercipta, maka kebersamaan, kerberbangsaan dan integrasi bangsa dalam negara kesatuan, cepat atau lambat akan ambruk.

Boleh saja bangsa ini terus menggembar-gemborkan pembangunan yang menyejahterakan seluruh masyarakat Indonesia, tetapi apabila segala ketimpangan terus terjadi antar kawasan, terutama Indonesia barat dan Indonesia timur, maka seindah apa pun propaganda pembangunan di Indonesia, hanya akan terus mendekatkan diri pada apa yang disebut sebagai pembangunan yang gagal.

Ayo mari kita bangun Indonesia dari timur matahari terbit. “Mari katong baku jaga”!!

Fransiscus Go, pengusaha sekaligus filantropi asal NTT.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Membangun NTT Terbaru