Menelisik Nelayan, Tani, Ternak di Flobamora


 Menelisik Nelayan, Tani, Ternak di Flobamora Aktivis sosial dan budaya, Simply da Flores . (Foto: Istimewa)

Oleh: Simply da Flores

SECARA tradisi, mata pencaharian masyarakat di Bumi Flobamora - pulau Flores, Sumba, Timor, Rote, Sabu, Alor serta pulau kecil lainnya adalah nelayan, tani dan ternak. Mungkin ini juga yang menjadi salah satu alasan, mengapa Propinsi Nusa Tenggara Timur - NTT, diplesetkan dengan arti Nelayan Tani Ternak.

Hemat saya, sejarah perjalanan suku adat budaya di di wilayah Flobamora, seperti titik perjumpaan atau terminal pertemuan aneka suku bangsa. Bisa juga menjadi taman suku bangsa dunia. Sedangkan di lain perspektif, ada keyakinan adat budaya bahwa wilayah Flobamora menjadi 'taman firdaus' asal usul semua suku dunia.

Beberapa Fakta Perjumpaan Suku Bangsa

Jauh sebelum kemerdekaan NKRI, wilayah Flobamora telah menjadi simpul perjumpaan suku bangsa, dan selanjutnya menetap dan beranak-pinak di daerah ini. Sejauh pengetahuan saya, ada perjumpaan dagang dan sebaran relasi kekuasaan kerajaan. Misalnya dengan suku bangsa dari Jawa, Sulawesi, Melayu, Arab, India, Siam dan China. Perjumpaan itu berlanjut dengan relasi perkawinan, mitra dagang dan persahabatan sosial budaya serta politik.

Karena latar belakang tradisi komunitas adatnya adalah tradisi tutur - oral tradition, maka banyak fakta sejarah tertinggal dalam kisah cerita lisan. Hal yang sangat kuat ada dalam ritual adat budaya serta tradisi spiritual. Ada pengaruh kepercayaan Hindu dan Budha, serta tradisi kerajinan dan teknologi lokal. Termasuk dalam tradisi kegiatan nelayan, bertani dan beternak.

Selanjutnya ada pengaruh perjumpaan dengan bangsa kolonial yakni Portugis, Belanda dan Jepang serta budaya barat umumnya. Kehadiran bangsa kolonial jelas diwarnai dengan semangat Gold, Gloria, Gospel. Pencarian rempah, khususnya Cendana dan gaharu di Flobamora, lalu penyebaran agama Kristen, serta menjadi titik transit dalam perjalanan ke Maluku.

Sisa pengaruh yang ada hingga kini adalah  kehadiran agama Kristen dan lembaga gereja yang dibawa oleh misi dan zending. Wilayah Flobamora seperti ada pembagian penguasaan. Flores tengah ke Barat oleh Belanda dan Misi, Sumba, Timor, Sabu dan Rote oleh Zending, lalu Portugis di Solor, Larantuka dan Timor Leste.

Perjumpaan dengan adat budaya dari luar Flobamora tersebut, sangat berpengaruh terhadap dinamika budaya masyarakat lokal. Bahkan dari kisah tradisi lisan, ada banyak komunitas budaya Flobamora yang dituturkan berasal dari luar. Misalnya dari Key Seram Goram di Maluku, dari Yunan - Siam - Seilon dan Banglades, juga dari China dan India. Perlu penelitian lebih lanjut, karena sumber yang ada masih dalam bentuk warisan tradisi lisan, terutama dalam tutur ada saat ritual; baik di Timor, Sumba dan Flores. Yang paling jelas dalam pengaruh hadirnya agama seperti Katholik, Kristen dan Islam serta Hindu dan Budha.

Catatan Sejarah Nelayan, Tani dan Ternak

Umumnya yang berprofesi nelayan adalah masyarakat yang hidup di daerah pesisir, yang leluhurnya berasal dari Sulawesi, Bima dan Jawa. Masyarakat lokal belajar dan sudah melai menghidupi profesi nelayan tersebut. Mereka mengupayakan hasil nafkah dari laut dengan cara tradisional, baik untuk kebutuhan keluarga maupun pasar lokal.

Para petani dan peternak pun tak jauh berbeda dengan nelayan. Upaya mengelola lahan petani, entah ladang maupun sawah, masih secara tradisional. Tujuan utama untuk kebutuhan keluarga, jika lebih akan dijual ke pasar lokal. Padi, jagung, ubi-ubian, kacang serta hortikultura dibudidayakan demi menjamin kebutuhan lokal keluarga dan komunitas. Ketika ke pasar, mereka sudah lewati sistem barter lalu dengan uang kemudian.

Wilayah NTT pernah mencatat prestasi sebagai lumbung ternak untuk kebutuhan pasar di luar Flobamora. Ternak sapi menjadi hasil yang gemilang Tempo Doeloe. Entah mengapa, sekarang sudah senyap dan tinggal kenangan. Hal yang sama soal potensi ikan laut dan rumput laut, yang memang sungguh menjanjikan, tetapi belum menjadi sumber penghasilan masyarakat nelayan NTT. Ada juga jeruk dan apel di Timor, sepertinya senyap bahkan hampir musnah.

Soal sumber alam komoditi, juga sama nasibnya: kayu Cendana, kopi dan beberapa komoditi lainnya  Apa kendala-kelemahan dan tantangan para nelayan serta petani dan peternak, masih tanda tanya dan misteri. Maka, untuk kebutuhan lokal pun sekarang banyak hasil pertanian dari luar Flobamora, apalagi jika mengharapkan hasil lokal untuk menjadi suplay pasar di luar NTT.

Sejauh yang saya ingat, dari pihak pemerintah pun sudah diupayakan banyak program untuk pertanian, peternakan dan potensi laut. Misalnya ada program Nusa hijau, Nusa makmur, gerakan masuk laut, Anggur Merah, Paronisasi dan banyak lagi dukungan pengembangan komoditi dan peternakan. Namun, nasib Nelayan, Petani, Peternak di NTT tetap miris seperti plesetan yang diberikan. NTT: artinya Nasib Tidak Tentu, Nusa Termiskin dan Terkorup, Nanti Tuhan Tolong.

Mungkinkah Nelayan Tani Ternak Milenial

Menurut saya sangat mungkin. Persoalannya kembali kepada cara berpikir generasi muda Flobamora sekarang, apakah mau mengandalkan hidupnya dengan Nelayan, Tani dan Ternak secara milenial ? Ini berarti,  soal cara pandang, ketrampilan, modal dan terutama kemauan keras berkarya membangun diri dengan potensi sumber daya alam Flobamora.

Di Maumere Kabupaten Sikka saya bertemu beberapa anak muda yang memilih hidup sebagai petani milenial. Mereka pernah ikut pelatihan di Israel, dengan sistem pertanian tetes, karena menghadapi keterbatasan sumber air. Lalu, dengan survey pasar lokal, mereka menanam apa yang dibutuhkan konsumen, dan hasilnya mengagumkan. Ada kendala modal dan jaringan pemasaran yang lebih luas.  Hal yang sama dikeluhkan para Nelayan, ketika sulit mendapat mitra jaringan pemasaran ikan dan budidaya rumput laut.

Beberapa waktu lalu, saya juga nonton video seorang warga diaspora Flobamora. Om Frans Go, yang berbagi pengalaman tentang memelihara hortikultura, ayam dan ikan, sebagai usaha rumah tangga. Satu pesan penting yang saya tangkap adalah soal kerja cerdas dan tekun berkomitmen. Beliau sudah melakukannya dan sedang membangun contoh kerja bersama jaringannya di Sumba, Timor dan Flores. Fokusnya adalah mengajak berkarya dengan contoh, lalu memulai dengan skala kecil di tingkat rumah tangga. Harapannya adalah usaha pertanian, peternakan juga nelayan harus menjadi kekuatan ekonomi rumah tangga dalam zaman milenial. Think and do smart for big and wide benefit

Contoh kerja dan gerakan terfokus melakukan kreasi inovasi dan solusi model Om Frans Go, adalah salah satu fakta untuk mengatakan sangat mungkin melakukan usaha mandiri - UMKM di Flobamora pada zaman milenial ini. Jangan hanya bicara tanpa kerja, tetapi bekerja cerdas dan bicara seperlunya.

Khusus untuk generasi muda di Flobamora, entah yang bersekolah mau pun yang putus sekolah, faktanya sedang kesulitan lapangan kerja. Jika mengharapkan menjadi ASN, apakah lowongan cukup dibanding jumlah lulusan setiap tahun. Jika harus merantau, apakah ketrampilan pribadi menunjang untuk bekerja di perantauan?

Hemat saya, petani, nelayan dan peternak milenial adalah peluang yang realistis dan menjanjikan untuk kesejahteraan ekonomi pribadi dan keluarga. Memang, ada juga peluang lain seperti Wirausaha di bidang pemasaran dan pariwisata, yang juga sedang giat di NTT. Ada harapan bahwa modal dari koperasi dan dukungan dari program BLK Pemerintah bisa diandalkan untuk menghasilkan Nelayan Tani Ternak Milenial di Bumi Flobamora.

Selalu teringat ungkapan optimisme warisan tradisi, "Bae sonde Bae, Flobamora Lebe Bae"  Spirit yang istimewa ini kiranya bisa menjadi energi pendorong generasi muda Flobamora, mau menjadi Nelayan Tani Ternak Milenial di NTT. Bukan saja berjuang sebatas memenuhi kebutuhan harian keluarga, tetapi justru menjadi sumber kekuatan ekonomi berkelanjutan bagi kehidupan pribadi dan komunitas.

Untuk mendorong semangat generasi muda Flobamora maju di zaman milenial ini, hemat saya, peran pemimpin politik, pemimpin sosial budaya dan agama sangat penting. Khusus Pemimpin Flobamora - Gubernur NTT yang baru, kiranya terlahir dari sosok yang berkualitas dan visioner, bisa memberi contoh pengalaman kerja dan membuka jaringan luas, karena  mampu memanfaatkan teknologi digital milenial. Jadi, bukan pejabat omon-omon  dan tidak tahu kerja, lalu marah-marah kepada ASN dan masyarakat Flobamora. Semoga!!

Penulis adalah Aktivis Sosial dan Budaya. Tinggal di Jakarta.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Membangun NTT Terbaru