Food Estate dan Petani Milenial


 Food Estate dan Petani Milenial Thomas Koten adalah Analis Sosial Politik. (Foto: Istimewa)

Oleh: Thomas Koten

MENARIK video youtube yang ditayangkan Arahkita TV, Sabtu 17 Pebruari 2024 yang menampilkan wawancara Arahkita TV dengan tokoh dari NTT yang kini menjadi pengusaha sukses di Jakarta, Fransiscus Go. Video tersebut berjudul: “Sikapi Food Estate dengan Smartfarming”.

Klik: https://www.youtube.com/watch?v=EL9r0H2swDA 

Sebelum menyoroti materi video tersebut, saya teringat dengan kata-kata filsuf dan sejarawan Yunani klasik, Xenophon (427-335 SM), Agriculture is the mother and nouriches of all other arts. Bahwa pertanian adalah pengayom atau ibu semua budaya. Apabila pertanian berjalan baik, menghasilkan berbagai produk bagi kehidupan masyarakat dan memenuhi semua kebutuhan segenap warga, seantero budaya akan dengan sendirinya berjalan baik. Tetapi, tatkala pertanian ditelantarkan, maka semua sisi kehidupan peradaban manusia akan rusak.

Banyak hal menarik dari apa yang dipaparkan Fransiscus Go tentang food estate. Sebuah topik sekaligus tema paparan yang benar-benar lagi aktual di saat Indonesia sedang gencar mengembangkan food estate mengingat pertambahan jumlah penduduk yang lajunya sangat cepat, berbanding terbalik dengan persediaan pangan yang terbatas. Ingat teori Maltus, bahwa dunia akan kelaparan karena pertambahan jumlah penduduk sesuai dengan deret ukur sedangkan ketersediaan pangan sesuai dengan deret hitung.

Rujukan yang Obyektif

Yang menjadi menarik dari video itu adalah pemikiran tentang food estate yang bukan lahir dari para pengamat yang hanya melihat dan membaca dari aneka sumber tentang food estate, tetapi dari seorang pengusaha sukses atau dari seorang pelaku utama di bidang food estate. Sehingga, pemikiran tersebut sungguh bernas untuk dijadikan rujukan.

Kita cuplik beberapa pemikiran dari paparan Fransiscus Go tersebut, seperti masalah proyek food estate di Gunung Mas, Kalimantan Tengah yang oleh sebagian orang dikatakan gagal, karena awalnya diperuntukan tanaman singkong, tetapi tidak tumbuh normal, sehingga diganti dengan tanaman jagung dengan biaya Rp 54 miliar.

Sebenarnya bukan gagal total, tetapi proyek itu memang belum pas untuk menghasilkan tanaman yang sesuai dengan rencana awal, yakni tanaman singkong. Akhirnya, karena tidak berhasil, lalu diganti dengan tanaman jagung. Jagung yang tumbuh di areal tersebut pun subur.

Jadi, sekali lagi bukan gagal total, tetapi untuk sementara alih fungsi dari singkong ke jagung sambil terus dilakukan lagi penelitian untuk pengembangan lebih lanjut tanaman apa yang benar-benar cocok untuk lahan tersebut. Toh, tanahnya masih tetap ada, tidak pindah pemilik.

Soal kegagalan proyek tanaman singkong itu hanya butuh kesabaran, ketekunan dan kerja keras lagi. Itu ditekankan pula Fransiscus Go dalam video tersebut. Hanya karena proyek itu masuk ke ranah debat capres-cawapres, sehingga masalahnya menjadi heboh.

Lagi pula karena Indonesia dari dulu hingga sekarang sudah dimanjakan dengan alam yang subur dan kaya raya, sehingga saat dimana kita dipaksa sedikit untuk bersabar sambil belajar, kita sudah ribut duluan.

Artinya, ini menyangkut mentalitas bangsa ini, mentalitas orang malas yang hidup di alam subur tapi miskin. Seperti tikus mati di lumbung padi. Kita harus lupakan lagu Koes Plus, “Tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu pun jadi tanaman”.

Belajar pada Israel, tapi Mental Kita Juga Harus Berubah

Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana bangsa ini menanamkan dan mengembangkan watak dan kepribadian yang tangguh dalam mengembangkan pertanian dengan teknologi tinggi dan mdern. Belajar lagi sabar, tekun dan kerja keras. Tampaknya kita harus benar-benar belajar dari negara lain, yang meski kondisi tanahnya tidak subur dan tandus, tetapi bisa berhasil mengembangkan pertanian hingga mengalami kemajuan yang pesat. Contohnya Israel.

Seperti yang dikatakan Fransiscus Go dalam video tentang pertanian di Afrika Selatan dan Israel. Khususnya Israel, daerahnya gersang dan tandus, tetapi bisa menghasilkan pertanian yang sangat maju dengan menggunakan teknologi tinggi. Karena Indonesia yang daerahnya tropis, tanahnya luas dan subur dengan air yang melimpah juga tidak bisa memajukan pertanian?

Seperti diuraikan Wikipedia, pertanian di Israel adalah industri yang sangat maju. Israel adalah eksportir utama produk-produk segar dan pemimpin dunia dalam bidang teknologi pertanian meskipun faktanya geografi negara tersebut secara alami tidak kondusif bagi pertanian.

Lebih dari separoh wilayah daratannya berupa gurun dan tandus serta iklim yang cocok untuk pertanian serta kurangnya sumber air untuk mendukung pertanian. Hanya 20% luas lahan yang ditanami secara alami.

Pada tahun 2008, pertanian di Israel memiliki 2,5% dari total PDB dan 3,6% ekspor. Meskipun pekerja pertanian hanya mencakup 3,7% dari angkatan kerja, Israel menghasilkan 95% dari kebutuhan pangannya sendiri ditambah dengan impor biji-bijian, minyak sayur daging, kopi, kaka dan gula.

Pengembangan pertanian Israel yang sangat maju dengan teknologi pertanian yang kini terlihat itu sebenarnya mereka telah memulainya sejak tahun 1950. Ternyata sudah lama. Sedangkah Indonesia, dari dulu hingga sekarang masih tetap berkubang dengan gaya lama, balam balutan mentalitas lama yang terus bermanja-manja dan berbangga-bangga dengan keadaan alam yang subur.

Saat anak-anak bangsa ini mau mencoba bangkit untuk mengembangkan pertanian dalam istilah food estate di Gunung Mas, Kalteng, yang baru mengalami kegaalan di awal sebuah usaha, banyak yang langsung protes. Seperti tidak mau ada usaha yang gagal. Memang bangsa ini senangnya ribut.

Di sini, sekali lagi kita perlu belajar ada Israel yang bukan saja tanahnya gersang , tapi juga airnya tidak ada untuk pertanian. Mereka memanfaatkan air laut dan air danau untuk pertanian. Dan pengembangan pertanian mereka bisa sangat maju dengan kondisi alam yang tandus dan gersang.

Berbeda dengan kita yang semuanya sudah disediakan oleh Sang Pencipta, tinggal kerja keras, sabar dan tekun sekaligus cerdas dalam menciptakan teknologi pertanian modern. Intinya, kerja dibarengi dengan pengembangan mentalitas kerja yang mumpuni. Bangsa sangat bisa.

Petani Milenial

Ada satu hal menarik lain dari video tersebut adalah tentang petani milenial, istilah Fransiscus Go. Anak- anak muda milenial yang senang medsos tinggal diarahkan untuk mengembangan pertanian dengan memanfaatkan medsos.

Artinya, arahkan anak-anak muda untuk memanfaatkan medsos untuk mengembangkan pertanian. Arahkan mereka bagaimana mencari informasi lewat medsos tentang pertanian, mulai dari cara pengolahan lahan, pembibitan, menanam, memelihara, memanen dan memasarkan. Biarkan mereka kreatif memanfaatkan medsos untuk hal-hal yang produktif.

Berikan mereka kepercayaan untuk menggunakan teknologi untuk memajukan pertanian dengan riang gembira. Betapa senangnya mereka jika mereka diberi kepercayaan untuk memajukan pertanian ala anak-anak milenial. Karena sekarang zamannya medsos, zamannya anak-anak generasi z mengeksplorasi dan mengekspresikan diri dengan teknologi yang mereka suka.

Penulis adalah Analis Sosial dan Politik.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Membangun NTT Terbaru