Sabtu, 15 Agustus 2026

Prabowo: Pemimpin yang Mengajak Bakar-Bakar adalah Pengkhianat, Demokrasi Harus Tetap Bermartabat


 Prabowo: Pemimpin yang Mengajak Bakar-Bakar adalah Pengkhianat, Demokrasi Harus Tetap Bermartabat Presiden Prabowo Subianto menyapa para pengurus koperasi dari berbagai daerah Indonesia saat menghadiri acara puncak peringatan Hari Koperasi Nasional Ke-79 Tahun 2026 di Indonesia Arena, Jakarta, Minggu (12/7/2026). ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Presiden.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pesan tegas mengenai pentingnya menjaga persatuan bangsa di tengah perbedaan politik. Dalam pidatonya pada peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 di Indonesia Arena, Jakarta, Minggu (12/7/2026), Prabowo menegaskan bahwa demokrasi tidak boleh dijadikan alasan untuk memicu kerusuhan atau tindakan anarkis.

Menurut Prabowo, siapa pun yang mengajak masyarakat melakukan pembakaran atau perusakan fasilitas umum setelah kontestasi politik telah usai, tidak menunjukkan sikap seorang negarawan. Ia bahkan menyebut pemimpin yang mendorong tindakan semacam itu sebagai pengkhianat.

"Mari kita bersatu. Semua unsur kita berbeda tidak ada masalah. Berbeda partai tidak ada masalah. Siapa yang menang monggo. Jangan kalau kalah mau bakar-bakar. Itu bangsa apa itu? Pemimpin yang menganjurkan bakar-bakar di Republik ini, itu adalah pemimpin pengkhianat," kata Prabowo.

Ia kemudian menambahkan bahwa setiap tindakan pada akhirnya memiliki konsekuensi.

"Saya percaya hukum karma akan kena kepada mereka semua itu," ujarnya.

Mengaku Empat Kali Kalah Pilpres, Prabowo: Tak Pernah Ajak Pendukung Berbuat Anarkis

Dalam pidatonya, Prabowo juga mengingatkan perjalanan politiknya yang telah lima kali mengikuti pemilihan presiden. Dari lima kali pencalonan tersebut, ia mengaku mengalami kekalahan sebanyak empat kali.

Namun, menurutnya, kekalahan politik tidak pernah menjadi alasan untuk menggerakkan massa melakukan aksi kekerasan ataupun pembakaran.

"Saya maju lima kali pemilihan, empat kali kalah. Gak pernah saya suruh anak buah saya bakar-bakar. Demo aja enggak. Saya datang pelantikan rival saya. Saya datang, saya hormat, saya kasih selamat," ungkapnya.

Demokrasi Harus Dijalani dengan Sportivitas

Prabowo mengibaratkan kontestasi politik layaknya pertandingan sepak bola. Persaingan, menurutnya, adalah bagian yang wajar dalam demokrasi, tetapi setelah pertandingan selesai seluruh pihak harus kembali bersatu membangun bangsa.

Ia juga mencontohkan hubungan politiknya dengan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar atau Gus Imin. Meski sempat berada di kubu yang berbeda pada Pilpres 2024, kini keduanya bekerja bersama dalam pemerintahan.

"Ini Gus Imin, pertama bersama saya, habis itu tidak bersama saya, tetapi gak ada masalah... sekarang beliau bersama saya untuk Indonesia," kata Prabowo dikutip Antara.

Pada Pilpres 2024, Muhaimin Iskandar maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Anies Baswedan dan bersaing dengan pasangan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka serta Ganjar Pranowo–Mahfud MD.

Pemerintah Terbuka terhadap Kritik

Menutup pidatonya, Prabowo kembali mengajak seluruh elemen bangsa meninggalkan perbedaan politik setelah pemilu usai. Ia menegaskan bahwa pemerintah tetap membuka ruang bagi kritik yang bersifat membangun.

Menurut Prabowo, kritik merupakan bagian penting dari proses koreksi dalam pemerintahan. Namun, ia mengingatkan agar perbedaan pendapat tidak diwujudkan melalui tindakan yang merusak persatuan maupun fasilitas publik.

"Kita ini satu bangsa, satu nusa, satu bahasa. Kita ini keluarga. Kita bersaing, habis itu bersatu. Bekerja untuk seluruh rakyat. Kita terima kritik. Kritik itu bagus. Itu artinya koreksi, waspada. Kita mau terima kritik," tutup Prabowo.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Politik Terbaru