ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Update News

Pension Plan

‘Mental Switching‘, Sudah Siapkah Anda Menghadapi Pensiun?

Kamis , 19 Maret 2020 | 23:45
‘Mental Switching‘, Sudah Siapkah Anda Menghadapi Pensiun?
Ilustrasi: Pensiun adalah saat dimana seseorang sudah berada di titik tertinggi dari kehidupannya. (Net)
POPULER
12 Bandara Indonesia Terapkan Layanan Pelanggan Virtual

Diasuh oleh: Muljono, M Ak,CFP

BICARA tentang kesiapan dan ketidaksiapan seseorang menghadapi pensiun mengutip SWA menyebut,"penemuan perencanaan pensiun di kalangan profesional sebesar 28,13% belum merancang masa pensiun. Sementara Kompas.com menyebut fakta yang terjadi 9 dari 10 pensiunan belum siap menghadapi pensiun, dan 65% bahkan tidak sanggup memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Idealnya, pensiun adalah saat dimana seseorang sudah berada di titik tertinggi dari kehidupannya, tetapi banyak dijumpai pensiunan kehilangan arti akan kehidupannya.

Sudah merupakan kodrat manusia bahwa usia kelak menjadi penghalang untuk bekerja, terutama bila bekerja sebagai karyawan di suatu perusahaan atau institusi.

Bicara soal usia pensiun, ada perusahaan yang menetapkan 55 tahun sebagai usia pensiun, ada pula yang 65 tahun, atau malah 50 tahun, tergantung kebijakan masing-masing perusahaan.

Walau berbeda-beda, tetapi ada satu hal yang sama: Pensiun adalah perkara yang sangat rumit, terutama bagi pelaku pensiun. Bagaimana tidak?

Nah, di sini dibutuhkan kesiapan mental. Mental Switching, membutuhkan penerimaan diri untuk fokus, tekad baja, pantang menyerah dan pantang berpasrah dalam menjalani hidup. Mengapa begitu?

Anda yang selama bertahun-tahun memiliki jabatan dan penghasilan tetap, punya target-target yang harus dipenuhi, serta kreativitas dan sikap untuk mengarungi samudera kompetisi kerja, tiba-tiba semua itu hilang.

Sebetulnya tidak datang tiba-tiba juga sih, tetapi tetap saja, bagi banyak pensiunan, masa pensiun mereka anggap datang terlalu cepat.

Persiapan adalah kata yang sangat relevan terkait dengan pensiun. Tanpa persiapan, Anda dapat merasa sengsara saat menjalani masa pensiun. Sengsara di sini bukan berarti hanya secara materia karena tidak cukup atau tidak tahu cara mengelola keuanggan, tetapi juga melingkupi secara mental. Yaitu, tidak memiliki persiapan secara mental untuk dapat mengarungi kehidupan di masa pensiun. Akibatnya, post power syndrome atau sindroma pasca kekuasaan, dimana seseorang merasa kehilangan kekuasaan akibat kehilangan jabatan saat pensiun melanda.

Untuk aspek kesehatan diperlukan kehidupan yang harus mempunyai rutinitas yang baik dalam makanan sehari-hari, istirahat cukup, olahraga yang teratur untuk menjaga tubuh dalam masa pensiun.

Secara finansial, bisa saja seorang pensiunan mengalami permasalahan dalam mengelola uang pensiun yang diterima misalnya: untuk mengatur pengeluaran sehari-hari (sudah tidak ada pemasukan berupa gaji yang sebelumnya diterima secara rutin sementara pengeluaran terus bertambah seiring usia), atau salah berinvestasi karena tergiur pada imbal hasil yang besar, atau bahkan menghabiskan uang pensiunan untuk hal-hal yang tidak produktif.

Lebih lanjut, hubungan dengan keluarga (pasangan, anak dapat menjadi kurang harmonis karena merasa tidak dihormati dan dihargai karena sudah tidak memiliki jabatan dan kuasa. Hubungan sosial dengan tetangga dan teman-teman tidak berjalan dengan baik karena merasa sudah tidak berdaya karena tidak memiliki pekerjaan dan kegiatan, bahkan merasa tidak diperhatikan bahkan diabaikan lagi karena usia yang sudah sepuh.

Karenanya untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang umum terjadi ketika seorang karyawan berganti kuadran memasuki purnabakti maka terjadi mental switching.

So, Anda mesti persiapkan dari awal dalam memasuki masa pensiun adalah: Siapkan mental dan psikologis, menjaga kesehatan dan kebugaran fisik, mengelola keuangan, melakukan aktivitas-aktivitas bermanfaat setelah memasuki masa pensiun.

Nah, luangkan waktu Anda, ikuti Workshop "Langkah Jitu Pensiun Bahagia". Daftarkan segera via email: marketing@arahkita.com atau hubungi Hotline Arahkita Media Network di: 08521-855-6598. Untuk workshop maksimal peserta 20 orang.

Melalui hotline ini Anda juga bisa berkonsultasi dengan Pak Muljono. Beliau bisa dihubungi melalui: jonomul@yahoo.com atau melalui handphone: 0816-146-9665

 

BIODATA:

Nama: Muljono

Pendidikan: 

⦁ Sarjana Ekonomi (STIE YAI)

⦁ Magister Akuntansi (STIE Swadaya)

⦁ Certified Financial Planner (FPSB Indonesia)

⦁ Qualified Wealth Planner (QWP Academy)

⦁ Qualified Financial Educator (FPSB Indonesia)

Pengalaman:

⦁ 1988-1993 di Bank Umum Nasional

⦁ 1993-1997 di Bank Shinta Indonesia

⦁ 2006-2012 Dewan Pengawas Koperasi BPK PENABUR Jakarta

⦁ 1996- sekarang di Yayasan Pendidikan BPK PENABUR Jakarta (Guru, Kabag Akunting, Kabag Sarpras, Kabag PPSB, Kadiv Penstra)

⦁ 2010- sekarang di Dewan Pengawas Dana Pensiun BPK PENABUR 

Contact: 

Emai: jonomul@yahoo.com               

HP: 08161469665               

Facebook: Aturdoku               

Blog: Aturdoku.blogspot.com               

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Farida Denura
KOMENTAR