ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Update News

Parenting

Orangtua Perlu Waspadai ‘Self Diagnose‘ pada Remaja

Senin , 11 Oktober 2021 | 09:30
Orangtua Perlu Waspadai ‘Self Diagnose‘ pada Remaja
Self diagnose pada remaja (Net)
POPULER
Ciptakan Rekor Lelang, Sepatu Kets Michael Jordan terjual Rp21 miliar

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Psikolog Klinis dan Pengurus Bidang Strategi Komunikasi Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK) Wilayah DKI Jakarta Masfuukhatur Rokhmah mengatakan banyak remaja telah melakukan self-diagnose (mendiagnosis diri sendiri) pada kesehatan mentalnya tanpa bantuan dari para ahli.

“Mereka mendiagnosis diri sendiri karena merasa tidak bisa konsul. Jadi mereka baca saja dari sini (internet), datang kadang-kadang karena informasi yang berasal dari internet. Ini sangat memprihatinkan,” kata Masfuukhatur di Jakarta.

Masfuukhatur menuturkan, setelah melakukan diagnosis dengan membaca informasi dari internet, para remaja akan tersugesti merasakan hal serupa sesuai dengan informasi yang dibaca sehingga berpikir bahwa mereka memiliki gangguan psikologis.

Padahal untuk mendiagnosis kesehatan jiwa, kata dia, tidak mudah dan perlu dilakukan tahap-tahap pemeriksaan lebih lanjut yang dibantu oleh para ahli seperti psikolog klinis ataupun psikiater di puskesmas maupun rumah sakit.

Menurut dia, tahapan-tahapan tersebut dimulai dengan melakukan asesmen (proses evaluasi individu) oleh psikolog, kemudian bila diperlukan akan dilakukan tes psikologi berupa wawancara klinis dan psikotes hingga observasi kesehatan.

Observasi tersebut meliputi kajian pada riwayat kesehatan seseorang baik secara fisik maupun mental, serta significant others atau orang-orang yang secara signifikan berkaitan dengan anak.

“Sehingga diharapkan, informasinya bisa objektif kemudian dari semua data dan pemeriksaan tersebut, barulah biasanya diberikan penegakan diagnosis,” kata dia.

Ia mengatakan, terdapat sejumlah langkah untuk dapat mengatasi permasalahan pada remaja yang mendiagnosis dirinya sendiri mendengarkan segala bentuk keluhan terkait apa yang dirasakan oleh anak.

Setelah mendengarkan keluhan yang disampaikan, orang tua atau orang terdekat perlu mengatakan menyetujuinya terlebih dahulu agar anak merasa nyaman dan tidak menolak saran yang akan diberikan selanjutnya.

Pada tahap tersebut, orang tua juga perlu mulai mencari informasi fasilitas kesehatan atau layanan kesehatan jiwa baik yang berbayar maupun tidak berbayar agar dapat mengetahui kondisi anak lebih jauh,

Lebih lanjut dia menjelaskan setelah mengumpulkan informasi, orang tua diharapkan dapat memberikan saran dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak untuk segera melakukan konsultasi dengan ahli seperti psikolog atau psikiater baik agar mendapat penanganan lebih lanjut dan menjelaskan manfaat dari sesi konsultasi tersebut agar diskusi dapat berjalan optimal.

“Jadi sampaikan dulu manfaatnya supaya dia mau, bukan men-judge atau langsung menyepelekan. Kita harus menerima dulu. Memang itu yang mereka rasakan, lalu sampaikan mencari bantuan bersama kita,” tegas dia.

Subkoordinator Substansi Masalah Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) Juzi Delianna mengatakan untuk dapat mengatasi permasalahan tersebut masyarakat memabng membutuhkan edukasi melalui promosi kesehatan jiwa.

“Kita tahu bahwa pentingnya edukasi pada masyarakat. Masyarakat harus tetap di edukasi mengingat semakin maraknya dari mereka melakukan diagnosis sendiri,” kata Juzi.

Menurut Juzi, saat ini masyarakat masih belum memahami pentingnya masalah yang terkait dengan kesehatan jiwa baik secara komprehensif maupun prefentif, sehingga dibutuhkan lebih banyak media guna menyampaikan promosi terkait masalah tersebut.

Ia mengatakan pihaknya juga terus melakukan upaya pencegahan, baik melalui kerja sama dengan sejumlah pihak untuk dapat mempromosikan edukasi itu seperti organisasi profesi kesehatan jiwa, televisi atau radio nasional hingga melakukan deteksi dini pada anak remaja lebih awal.

Ia berharap dengan melakukan sejumlah upaya itu dapat mencegah terjadinya peningkatan kasus orang dengan gejala berat yang ada dalam masyarakat.

“Kita diharapkan tidak ada kasus-kasus jiwa berat, itu bisa kita kurangi. Jadi saran dari kami promosi kesehatan dan prefensi ini yang lebih utama saat ini kita lakukan di masyarakat,” ucap dia.

Editor : Maria L. Martens
KOMENTAR