ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Update News

Peringati Hari Guru ke-76, Para Guru KKG Gugus Hale dan Hebing Minta Pemerintah Perhatikan Nasib Para Guru

Kamis , 25 November 2021 | 21:30
Peringati Hari Guru ke-76, Para Guru KKG Gugus Hale dan Hebing Minta Pemerintah Perhatikan Nasib Para Guru
Sebanyak 39 guru dari 62 guru yang tersebar di Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 01 Hale dan 03 Hebing, Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional ke-76 pada Kamis 25 November 2021 menggelar apel bersama di halaman SDK Watubaler, Desa Hebing, Kecamatan Mapitara. (Foto-Foto: Istimewa)
POPULER
Atletico Madrid Akhirnya Rebut Tempat 16 Besar Liga Champions

MAUMERE, ARAHKITA.COM – Sebanyak 39 Guru dari 62 Guru yang tersebar di Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 01 Hale dan 03 Hebing, Kecamatan Mapitara,Kabupaten Sikka mengikuti apel bersama dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional ke-76 pada Kamis 25 November 2021.

Apel bersama tersebut berlangsung di halaman SDK Watubaler, Desa Hebing, Kecamatan Mapitara dimulai pukul 10.00 WITA dengan Inspektur Upacara (Irup), Kepala Sekolah SD Inpres Hebing, Rikarda Lodan, SPd.

Rikarda Lodan S.Pd  dalam kesempatan tersebut juga membacakan sambutan dari Mendikbudristek, Nadiem Makarim. Dalam sambutan tersebut Nadiem mengatakan tahun lalu adalah tahun yang penuh ujian. Kita semua tersandung dengan adanya pandemi. Guru dari Sabang sampai Merauke terpukul secara ekonomi, terpukul secara kesehatan, dan terpukul secara batin.

“Guru mau tidak mau mendatangi rumah-rumah pelajar untuk memastikan mereka tidak ketinggalan pelajaran. Guru mau tidak mau mempelajari teknologi yang belum pernah mereka kenal. Guru mau tidak mau menyederhanakan kurikulum untuk memastikan murid mereka tidak belajar di bawah tekanan,”kata Nadiem dibacakan Rikarda.

Lanjut Nadiem, Guru di seluruh Indonesia menangis melihat murid mereka semakin hari semakin bosan, kesepian, dan kehilangan disiplin. Tidak hanya tekanan psikologis karena Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), banyak guru mengalami tekanan ekonomi untuk memperjuangkan keluarga mereka agar bisa “makan”.

“Sangat wajar jika dalam situasi ini banyak guru yang terdemotivasi. Tapi ternyata ada fenomena yang tidak terkira. Saat saya menginap di rumah guru honorer di Lombok Tengah, saat saya menginap di rumah Guru Penggerak di Yogyakarta, saat saya menginap bersama santri di pesantren di Jawa Timur, saya sama sekali tidak mendengar kata “putus asa,”lanjutnya.

Sambung Nadiem, saat sarapan dengan mereka, saya mendengarkan terobosan-terobosan yang mereka inginkan di sekolah mereka. Wajah mereka terlihat semangat membahas platform teknologi yang cocok dan tidak cocok untuk mereka. Dengan penuh percaya diri, mereka memuji dan mengkritik kebijakan dengan hati nurani mereka.

“Di situlah saya baru menyadari bahwa pandemi ini tidak memadamkan semangat para guru, tapi justru menyalakan obor perubahan. Guru-guru se-Indonesia menginginkan perubahan, dan kami mendengar,”katanya.

2725b334-f077-405c-a349-95f0ee37396b

Kepala Sekolah SD Inpres Hebing, Rikarda Lodan, SPd. (Busana warna merah).

Dikatakan Nadiem, guru se-Indonesia menginginkan kesempatan yang adil untuk mencapai kesejahteraan yang manusiawi. Guru se-Indonesia menginginkan akses terhadap teknologi dan pelatihan yang relevan dan praktis.

“Guru se-Indonesia menginginkan kurikulum yang sederhana dan bisa mengakomodasi kemampuan dan bakat setiap murid yang berbeda-beda. Guru se-Indonesia menginginkan pemimpin-pemimpin sekolah mereka untuk berpihak kepada murid, bukan pada birokrasi. Guru se-Indonesia ingin kemerdekaan untuk berinovasi tanpa dijajah oleh keseragaman,”ungkapnya disampaikan Rikarda.

Merdeka Belajar

Kata Nadiem, sejak pertama kali dicetuskan, sekarang Merdeka Belajar sudah berubah dari sebuah kebijakan menjadi suatu gerakan. Contohnya, penyederhanaan kurikulum sebagai salah satu kebijakan Merdeka Belajar berhasil melahirkan ribuan inovasi pembelajaran.

Gerakan ini kata dia makin kuat karena ujian yang kita hadapi bersama. Gerakan ini tidak bisa dibendung atau diputarbalikkan, karena gerakan ini hidup dalam setiap insan guru yang punya keberanian untuk melangkah ke depan menuju satu tujuan utama, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Karena itulah, saya tidak akan menyerah untuk memperjuangkan Merdeka Belajar, demi kehidupan dan masa depan guru se-Indonesia yang lebih baik,”

Kepada media ini Rikarda mengatakan dalam memperingati hari guru yang ke-76 para guru dari Gugus 01 Hale dan Gugus 03 Hebing yang tergabung dalam Kelompok Kerja Guru (KKG) melakukan apel bersama.

03539f0b-aac7-4dc2-bb6b-29cb68537ec0

Sebagian para guru foto bersama usai apel peringatan Hari Guru ke-76 di halaman SDK Watubaler.

“Kami guru-guru dari gugus Hale dan Hebing hari ini, apel bersama di halaman SDK Watubaler dalam rangka memperingati hari guru ke-76,”tuturnya.

Rikarda juga mengatakan guru adalah seorang yang diguguh dan ditiru Ia harus mampu menjalankan perannya sebagai pendidik, pengajar, pembimbing dan pengarah yang baik bagi siswa siswi yang di didiknya. Guru harus ramah rajin dalam membimbing uluran tangan dan sentuhan hati.

Namun demikian Rikarda yang juga Ketua Gugus KKG 03 Hebing mewakili para guru meminta agar Pemerintah dalam hal ini Mendikbudristek Nadiem Makarim secara serius memperhatikan nasib para guru, khususnya Guru Honorer yang mendedikasikan dirinya secara total.

Sementara Anselmia Eriance Iry, S.Pd, Guru dari SDI Hale yang merupakan salah satu Guru dari KKG 01 Hale yang juga peserta apel mengharapkan pemerintah untuk lebih fokus dan perhatikan nasib para guru di daerah-daerah terpencil dan mengangkat lebih banyak lagi tenaga guru di masa yang akan datang untuk berkarya, mengingat banyak guru yang memasuki masa purnabakti,”pinta Anselmia Iry.

Busana yang dikenakan para guru pada apel peringatan tersebut berbeda dengan guru-guru di tempat lain. Para guru mengenakan busana adat Sikka.

“Kami sepakat mengenakan busana adat Sikka waktu apel hari ini, karena kami sesuaikan dengan jadwal pemakaian seragam harian guru di Kabupaten Sikka,”pungkas Anselmia

 

 

Editor : Farida Denura
Reporter : VJ Chabarezy Jr
KOMENTAR