ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Update News

Seriusi Usulan Sultan Zainal sebagai Pahlawan Nasional, Pemkot Tikep Gandeng UNJ

Jumat , 08 November 2019 | 13:00
Seriusi Usulan Sultan Zainal sebagai Pahlawan Nasional, Pemkot Tikep Gandeng UNJ
Sejumlah Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang dipimpin Sekretaris Daerah Kota Tidore Kepulauan, Asrul Sani Soleiman, foto bersama usai menemui Pimpinan Perguruan Tinggi dan diterima langsung oleh Rektor UNJ, Dr. Komaruddin bersama jajarannya. (Arahkita/Apriyanto Daud)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Pemerintah Kota Tidore Kepulauan terbukti sangat serius berupaya mengusulkan Sultan Zainal Abidin Syah sebagai Pahlawan Nasional. Keseriusan ini ditunjukkan dengan upaya Pemkot dengan menggandeng Universitas Negeri Jakarta (UNJ) untuk dilakukan kemitraan.

Sejumlah Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang dipimpin Sekretaris Daerah Kota Tidore Kepulauan, Asrul Sani Soleiman, menemui Pimpinan Perguruan Tinggi  dan diterima langsung oleh Rektor UNJ, Dr. Komaruddin bersama jajarannya.

Kerjasama Pemkot Tidore–UNJ dilaksanakan untuk melakukan kerjasama memenuhi persyaratan dan tahapan-tahapan sebagaimana yang sudah ditentukan oleh Tim Penilai Kepahlawanan dari Kementerian Sosial, Jumat (8/11/2019)
Sebagaimana dijelaskan oleh Rektor UNJ, Dr. Komaruddin, bahwa pengusulan nama Sultan Zainal Abidin Syah sebagai

Pahlawan Nasional itu untuk tahun 2020, namun tahapan pengusulannya dimulai sejak tahun 2019 ini.

Bentuk kerjasama ini, kata Dr. Komarudin dilakukan melalui beberapa kegiatan, pertama penulisan naskah untuk pengusulan nama pahlawan, lalu seminar di bulan Februari 2020, dan kegiatan-kegiatan lain untuk penguatan ke Kementerian Sosial. bahwa peran UNJ dalam kerja sama itu adalah sebagai mitra Pemkot Tidore." Kerja sama ini dilakukan sampai keluarnya SK

Penetapan Sultan Zainal Abidin Syah sebagai Pahlawan Nasional," kata Rektor UNJ.

Sementara itu, Sekda Kota Tidore Asrul Sani mengatakan pihaknya sangat antusias untuk mengusulkan Sultan Abidin Syah ini sebagai Pahlawan Nasional karena sosok Sultan Tidore itu sangat memiliki nilai integritas.

Dijelaskan, bahwa Sultan Abidin Syah diangkat Presiden Soekarno sebagai Gubernur Papua pertama tahun 1957. Hal lain dari Sultan Abidin Syah yang menurutnya sangat memiliki nilai integritas, yaitu ketika Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Van Mook mengundang Sultan Abidin Syah untuk membicarakan tentang Irian Barat, dalam pertemuan di Malino.

Saat itu dihadirkan tokoh-tokoh Tidore bersama Sultan Abidin Syah.  Saat pertemuan itu, ada tiga opsi yang ditawarkan Van Mook kepada Sultan Abidin Syah.

“Anda merdeka, bergabung dengan Belanda, atau kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Pada saat itu Sultan Zainal Abidin Syah dengan lantang mengatakan saya ambil opsi ketiga, kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Saya melihat bahwa ini ada nilai integritas yang tinggi,” tegas Asrul Sani.

“Karena kegiatan pengusulan nama pahlawan nasional ini kan ada muatan-muatan akademik, sehingga kami bekerja di ranah akademiknya. Syukur-syukur di tahun 2020 nanti langsung disetujui.” harapnya.

Terkait bukti-bukti sejarah, seperti pertemuan di Malino, UU tentang pengangkatan Sultan Zainal Abidin Syah sebagai Gubernur Papua, Asrul Sani menyatakan masih ada semua.

“Visual-visual kaitan dengan kunjungan Presiden Soekarno ke Tidore ada semua, kami punya bukti-bukti sejarah itu. Kemarin sewaktu ada kunjungan Jokowi ke Tidore sengaja kami putar kunjungan Soekarno ke sana. Dan baru dua presiden yang kunjungan ke sana, kesatu adalah Soekarno, dan kedua Jokowi,” imbuhnya.

Terkait kerja sama dengan UNJ, Asrul Sani menegaskan bahwa Pemkot Tidore membutuhkan dukungan lembaga yang memiliki kompetensi tinggi untuk kepentingan pengusulan nama Sultan Abidin Syah sebagai Pahlawan Nasional.

“Kenapa kami kerja sama dengan UNJ? Karena kemarin UNJ dengan Mataram itu bisa. Kami juga pilih secara akademik, lembaga yang punya kompetensi yang tinggi, sehingga itu memudahkan kita, karena dukungan akademik itu punya nilai yang terukur,” pungkasnya.

Editor : Farida Denura
Reporter : Apriyanto Daud
KOMENTAR