ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Update News

Dongkrak Peringkat Pariwisata, Ini Sejumlah Strategi Menparekraf

Senin , 17 Februari 2020 | 21:30
Dongkrak Peringkat Pariwisata, Ini Sejumlah Strategi Menparekraf
Menparekraf Wishnutama Kusubandio. (Antaranews)
POPULER
12 Bandara Indonesia Terapkan Layanan Pelanggan Virtual

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Menparekraf Wishnutama Kusubandio mengatakan sejumlah strategi diterapkan untuk mendongkrak peringkat dan daya saing pariwisata Indonesia untuk mendatangkan devisa lebih besar dari sektor tersebut.

“Jadi ada beberapa hal strategis yang akan kami lakukan dalam waktu segera, yaitu bagaimana strategi secara grand strategi pariwisata Indonesia yang terkait juga dengan kementerian dan lembaga lain adalah memakai imbauan strategi,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio setelah rapat terbatas bertema Peningkatan Peringkat Pariwisata Indonesia yang dipimpin Presiden Jokowi di Kantor Presiden Jakarta, Senin (17/2/2020).

Ia mengatakan, perlunya peningkatan Travel Tourism Competitiveness Index Indonesia yang saat ini berada pada posisi 40.

Pemerintah berniat untuk meningkatkan rangking Indonesia menjadi posisi ke-38 atau antara 36-38 pada 2021. Sebagai gambaran Thailand saat ini berada pada posisi 31, Vietnam 63, dan Malaysia 29.

“Ujungnya untuk mendatangkan devisa kepada Indonesia itu sendiri, sehingga mindset dari maskapai dan lain sebagainya akan diarahkan untuk membawa orang luar yang ingin masuk ke Indonesia, bukan orang Indonesia yang keluar ke mana. Contohnya itu salah satu daripada imbauan strategi,” katanya.

Ia menambahkan soal konektivitas dan “seat capacity”. Dalam rapat terbatas tersebut diputuskan jumlah ”seat capacity” menuju Indonesia. Tercatat Thailand memiliki “seat capacity” sebanyak 57 juta, sementara Singapura ada 35 juta, Malaysia 44,8 juta, dan Indonesia 25 juta.

“Dan sebagai catatan penting 25 juta ini ternyata load factor 76 persen, ini load factor sudah termasuk paling tinggi dibandingkan negara-negara lain di sekitar kita,” katanya sebagaimana diberitakan Antara.

Itu berarti sebanyak 19 juta ditambah dengan 5,5 juta digunakan oleh masyarakat Indonesia sehingga sisa “seat” sebanyak 13,6 juta.

“Artinya ini bagaimana kita bisa meningkatkan, jumlah konektivitas dan seat capacity. Begitu juga kita harus mencari potensi-potensi dari negara-negara atau kota-kota yang menjadi target market kita, menambah kota-kota yang menjadi target market kita atau menambah frekuensi penerbangan,” katanya.

Ia membandingkan wisatawan Malaysia dan wisatawan Australia, di mana jumlah wisatawan pada 2019 hanya sebanyak 9 juta dengan devisa yang dihasilkan 31 miliar dolar AS.

Di Malaysia jumlah wisman sebanyak 25 juta namun devisa yang dihasilkan sebesar 25 miliar dolar AS.

“Jadi memang strategi meningkatkan kualitas turisme ini adalah satu hal yang penting untuk pariwisata kita ke depan,” katanya.

Editor : Farida Denura
KOMENTAR