ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Update News

Pengacara Sjamsul Nursalim Tegaskan BDNI Tidak Salurkan BLBI ke Internal

Minggu , 24 Juni 2018 | 21:37
Pengacara Sjamsul Nursalim Tegaskan BDNI Tidak Salurkan BLBI ke Internal
Pengacara mantan pemilik Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI) Sjamsul Nursalim, Otto Hasibuan. (Antara)
POPULER
Ciptakan Rekor Lelang, Sepatu Kets Michael Jordan terjual Rp21 miliar

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Pengacara mantan pemilik Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI) Sjamsul Nursalim, Otto Hasibuan, menegaskan kliennya tidak menyalurkan dana Bantuan Likuidasi Bank Indonesia (BLBI) ke perusahaan grup sendiri atau internal.

Otto di Jakarta, Minggu (24/6/2018), menyanggah keterangan saksi mantan Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Iwan Ridwan Prawiranata yang dihadirkan jaksa penuntut umum pada persidangan terdakwa mantan Ketua BPPN Syafruddin Temenggung.

"Tidak ada relevansinya dalam perkara tersebut dikaitkan dengan pemberian atau penyaluran dana BLBI oleh BDNI," kata Otto.
Otto mengungkapkan keterangan saksi Iwan mencampuradukkan antara pemberian Surat Keterangan Lunas (SKL) dan penyaluran dana BLBI yang dilakukan BDNI.

Otto menegaskan tidak ada hubungannya dakwaan terkait dugaan penyalahgunaan wewenang dalam penerbitan SKL yang dituduhkan kepada Syafruddin dengan penyaluran dana BDNI dari BLBI.

Menurut Otto, salah satu keterangan saksi Iwan yakni membenarkan BDNI menyalurkan dana BLBI ke grup perusahaan sendiri.

Namun, Otto mengungkapkan kesaksian Iwan hanya membaca laporan pengawasan Bank Indonesia (BI) dan tidak berperan sebagai saksi yang mengawasi atau mengetahui langsung penyaluran dana BDNI dari BLBI.

"Laporan pengawasan tersebut bersifat sepihak dan masih perlu dibuktikan kebenarannya, apalagi berdasarkan laporan BI sampai dengan akhir Desember 1997, BDNI masih dikategorikan sebagai bank sehat," tutur Otto.

Otto Hasibuan membantah keras dana BLBI telah disalurkan BDNI kepada grup sendiri. Namun, seluruh bantuan itu untuk memenuhi penarikan dana besar yang dilakukan nasabah saat krisis ekonomi melanda Indonesia, menutupi kerugian selisih kurs, pembayaran bunga, serta denda Bank Indonesia yang jumlahnya sangat besar.

"Perusahaan klien (BDNI) kami bahkan masih menyetor sejumlah dana ke dalam BDNI dan tetap mempertahankan depositonya untuk mendukung pendanaan BDNI ketika krisis hingga perusahaan dibekukan operasinya (BBO)," ungkap pengacara kawakan itu.

Pada tanggal 3 April 1998, manajemen BDNI diambil alih BPPN sehingga penyaluran dana BLBI sepenuhnya dalam kendali Tim Manajemen BPPN hingga kewajiban BDNI selesai dan pihak BI menyatakan tidak masalah.

"Namun, bagaimana bisa setelah lebih dari 21 tahun setelah krisis, hal ini baru dibicarakan," ucap Otto sebagaimana diberitakan Antara.

 

Editor : Farida Denura
KOMENTAR