ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Update News

Oknum TNI Terlibat Transaksi Amunisi Aktif

Selasa , 21 Mei 2019 | 21:28
Oknum TNI Terlibat Transaksi Amunisi Aktif
Sidang lanjutan terdakwa SS atas kasus jual beli amunisi di Pengadilan Negeri Timika, Papua, Selasa (21/5/2019). (Foto:MLS)

TIMIKA, ARAHKITA.COM - Sidang lanjutan kasus penjualan ratusan butir amunisi (peluru) aktif di Pengadilan Negeri (PN) Timika, Papua pada Selasa (21/5/2019), mengungkap fakta adanya keterlibatan oknum aparat.

Terdakwa SS alias Y, secara terang-terangan menyebut keterlibatan oknum TNI berinisial RK dalam transaksi jual beli amunisi di Timika,Papua.

Pasalnya, ratusan amunisi tersebut diperoleh dari oknum aparat yang sudah dikenalnya sejak lama.

“Saya kenal dia (oknum TNI) sudah lama karena sering nongkrong di pangkalan taksi gelap,” kata SS.

Dalam keterangannya pada sidang siang tadi, terdakwa juga menceriterakan alur proses sampai terjadinya transaksi jual beli amunisi.

SS mengaku ditawari RK dengan menyampaikan, kalau ada yang butuh peluru bisa menghubunginya.

RK pun minta tolong kepada SS untuk menjualkan peluru yang didapat dan dikumpulkan dari latihan menembak di satuannya.

“Dia (RK) minta saya tawarkan, tapi saya tolak karena takut. Karena dia sering datang ke pangkalan dan minta, dan waktu itu dia butuh uang, akhirnya saya bantu jual pelurunya,”terang SS.

Hubungan baik, bahkan antara SS dan oknum aparat sering pinjam uang, sehingga SS mengiyakan tawaran RK tanpa mempertimbangkan resiko yang kini menderanya.

Setelah itu terdakwa langsung menghubungi TK setelah dikenalkan oleh MH. 

“Waktu saya hubungi Titus (TK) untuk jual peluru, dia (Titus) langsung setuju dan minta 100 (seratus) butir peluru,” katanya.

Atas permintaan tersebut, SS langsung menghubungi RK, yang kemudian datang dengan membawa 60 butir peluru di tempat yang mereka sepakati.

Karena permintaan TK adalah 100 butir, maka SS dan RK kembali membuat janji dan bertemu di Jalan Ahmad Yani untuk menyerahkan 40 butir amunisi sisa.

“Setelah genap 100 butir baru saya (SS) hubungi Titus dan buat janji transaksi di SP-5,” tambah SS.

Adapun 100 butir peluru tersebut dijual Rp10 juta atau Rp100 ribu perbutir, itu terjadi pada Februari 2019 lalu.

Transaksi kedua pun masih di Bulan Februari. SS ketika itu kembali mengantarkan sebanyak 30 butir peluru ke TK dengan harga jual Rp3 juta.

Selanjutnya, transaksi ketiga, SS menjual lagi 20 butir peluru dengan harga Rp2 juta kepada TK.

Dan transaksi terakhir hanya 10 butir peluru dengan harga jual Rp1 juta.

“Dari total transaksi Rp16 juta, saya (SS) hanya ambil Rp300 ribu untuk ganti oli dan isi bensir sepeda motor demi kelancaran transaksi. Yang lainnya diambil oknum aparat,” jelasnya.

Atas keterlibatan RK, ia telah diproses hukum oleh satuan tugasnya.

Dari keterangannya itu, dihadapan majelis hakim, terdakwa mengakui kesalahannya, serta menyesali dan meminta maaf atas perbuatannya, seraya menyampaikan tidak akan mengulanginya kembali.

Tiga Jenis Amunisi
Sementara, keterangan Saksi Ahli, Maryono yang hanya dibacakan oleh JPU menerangkan bahwa 160 butir amunisi yang dijual terdakwa kepada TK masih aktif.

Adapun keterangan saksi ahli hanya dibacakan karena yang bersangkutan sedang menjalani ibadah umroh di Tanah Susi Mekah.

Joice E. Mariai selaku JPU mengatakan, berdasarkan keterangan saksi ahli dalam berita acara pemeriksaan menyebutkan, pada saat ditunjukan enam butir peluru sebagai sampel (contoh), saksi ahli mengatakan ada tiga jenis,yaitu kaliber 5.56, 7.62, dan kaliber 38.

Lanjut Joice, jenis peluru kalibar 5.56 biasa digunakan untuk Senjata Serbu (SS) 1, SS 2, AK 47 san Stayer buatan Rusia dengan jarak tembak efektif 400 meter.

Kemudian kaliber 7.62 biasa digunakan pada senjata laras panjang jenis AK 47 dengan jarak tembak sama (400 meter).
Sedangkan jenis peluru kaliber 38, ini biasa digunakan untuk senjata laras pendek, seperti Revolver dengan jarak tembak efektif 40-50 meter.

“Jenis peluru buatan Indonesia dan Rusia ini masih aktif, dan termasuk peluru tajam karena kita lihat fisiknya masih utuh, bersih dan tanpa goresan. Proyektilnya dari lapisan timah pun tidak longgar dan tidak ada bekas hentakan pelatuk senjata," sebut Joice mengeja keterangan saksi ahli pada persidangan.

Ia menambahkan, jenis-jenis peluru yang biasa digunakan TNI-Polri tentu memiliki ijin khusus, dan tidak diperjualbelikan secara bebas.

Usai mendengarkan keterangan terdakwa dan saksi ahli, Fransiscus Y. Babthista, SH selaku Majelis Hakim Tunggal menyampaikan sidang lanjutan Selasa pekan depan dengan agenda pembacaan tuntutan dari JPU Kejaksaan Negeri (Kejari) Timika.(MLS)

 

Editor : Patricia Aurelia
KOMENTAR