ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Update News

Feature

Menolong Orang Tidak Perlu Menunggu Berkelimpahan

Minggu , 19 Mei 2019 | 06:00
Menolong Orang Tidak Perlu Menunggu Berkelimpahan
Sr. Andre Lemmers FCJM bersama pasien luka bakar. (Dok. Yayasan Sinar Pelangi)

ACAPKALI orang membantu sesamanya kalau sudah merasa kaya atau berlebihan. Lain halnya dengan Theodora Antonia Maria Lemmers. Gadis yang terlahir di Belanda itu berbeda. Terlahir dari keluarga sederhana, kini menjadi penolong rinuan pasien yang membutuhkan biaya operasi besar. Bahkan, perempuan yang kini berkarya di Bekasi, Jawa Barat ini pun sempat dijuluki sebagai ‘Bapak Sumbing’. 

Kisah hidup pendiri Yayasan Sinari Pelangi ini akan diangkat dalam drama musikal yang akan dipentaskan di Balai Sarbini Jakarta, Sabtu (1/6-2019). Drama musikal ini diadaptasi dari buku biografinya yang berjudul Sr. Andre Lemmers FCJM: Penolong Bibir Sumbing dari Spaarndam. Buku yang ditulis oleh A. Bobby Pr. ini diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas.

Seluruh hasil penjualan buku dan tiket drama musikal diperuntukkan untuk panti werdha milik Yayasan Sinar Pelangi. Panti werdha hanyalah salah satu dari pelayanan dari perempuan yang pernah menjadi pembantu rumah tangga itu.

Gadis Perkasa
Ted, begitu biasa dipanggil, lahir pada 6 Juni 1943 di Pumerland, Belanda Utara. Ayahnya, Hendrikus Waladimir Albert Ernest Lemmers adalah karyawan gudang logistik tentara di Spaarndam. Sementara ibunya, Cornelia Maria van der Vaart, hanyalah ibu rumah tangga.

Suasana Perang Dunia II tidak terlalu berdampak banyak bagi keluarga Hendrik dan Cornelia. Kehidupan di desa membuat mereka dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari untuk hidup. Namun, lain halnya dengan mereka yang tinggal di kota. Mereka harus mencari bahan makan ke desa-desa yang masih punya persediaan makanan. Pemandangan ini kerap disaksikan oleh anak ketiga dari sebelas bersaudara.

Semula Hendrik adalah karyawan sebuah peternakan. Selama tinggal Pumerland, keluarga Hendrik menempati rumah di tengah peternakan yang di keliling padang rumput. Sejak kecil pula Ted sudah terbiasa di tengah sapi dan hewan ternak lainnya. Dalam perkembangannya, majikannya menyerahkan peternakan itu untuk orang lain. Hendrik harus berganti pekerjaan. Setelah sempat bekerja di pabrik susu di Ilpendam, dia akhirnya menjadi penjaga gudang tentara di Spaarndam.

Hendrik dan Cornelia mendidik anak-anaknya dalam tradisi Katolik yang taat. Mereka juga mendorong anak-anaknya untuk aktif dalam di gereja. Setiap hari Jumat sore Ted bersama teman-temannya datang ke gereja untuk menyapu, mengepel, dan membersihkan gereja. Selain itu Ted juga ikut dalam kelompok orang muda yang namanya Don Bosco. Don Bosco ini semacam karang taruna untuk orang muda di Desa Spaarndam. Dia juga terlibat dalam kelompok sandiwara (toonel) di desanya. Bakat kepemimpinan Ted tumbuh dalam kelompok-kelompok muda ini.

Setelah menyelesaikan pendidikan SD, Ted sempat bersekolah di Voortgezet Lagere Onderwys (VGLO) di Harlem Utara. Sekolah ini setingkat SMP. Sayangnya dia terpaksa putus sekolah ketika ibunya sakit keras. “Saya tidak menyesal berhenti sekolah karena saya susah untuk belajar. Saya lebih suka kerja,” ujar perempuan yang saat itu nilai rapotnya pasa-pasan saja

Ted bekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk menambah penghasilan keluarga. Dia juga bekerja sebagai pemerah sapi milik tetangganya dan menggarap ladang milik tetangganya.

Bagi Ted pekerjaan kasar bukanlah aneh. Dia tidak mengeluh atas tanggung jawab yang harus dipikul untuk membantu keluarganya. Lagi pula kedua orangtuanya juga pekerja keras. Dia melihat sendiri bapaknya meski menjadi penjaga gudang masih menjual tenaga untuk mengerjakan ladang orang lain, merawat sapi tetangga, atau mengumpulkan rumput kering untuk dijual. Ibunya sebelum sakit pun terlibat dalam pekerjaan rumah dan membantu ayahnya menggarap kebun tetangga.

Dengan berbagai pekerjaan itu, dia tumbuh menjadi gadis yang perkasa. Dia pun tumbuh menjadi gadis perkasa. Ted sungguh menikmati pekerjaan-pekerjaannya. Sembari memerah sapi, dia biasanya menyanyikan lagu Rockin Billy. Lagu ini dipopulerkan oleh penyanyi idolanya, Ria van der Valk.

Memang penghasilannya disisihkan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Sebagian lagi dia gunakan untuk foya-foya bersama teman-teman di desanya. Kafe menjadi tempat dia bergaul. Minum bir dan menghisap rokok adalah kebiasaannya. Di samping itu, Ted juga sering bersama kawan-kawannya pergi dengan menggunakan motor untuk piknik atau menghadiri pesta-pesta di desa tetangga.

Kehidupannya berubah ketika dia memutuskan untuk menjadi biarawati pada usia 21 tahun. Sebuah keputusan yang ditentang dan dianggap aneh oleh keluarga, pastor paroki, dan teman-temannya. Mereka tahu Ted adalah sosok perempuan yang tidak bisa diam dan liar. Bagaimana mungkin gadis seperti itu masuk biara? Meskipun tak ada seorang mendukung, termasuk kekasihnya, Ted sudah bulat dengan keputusannya menjadi biarawati Franciscanae Cordis Jesus et Mariae (FCJM).

Ke Irian Jaya
Sejak masuk biara Sr. Andre Lemmers FCJM, namanya setelah jadi biarawati, sudah bertekad ingin menjadi misionaris di negara berkembang. Tujuannya bukan untuk membaptis umat lain tetapi mengangkat harkat masyarakat yang masih sederhana. Dia ingin hadir bersama masyarakat yang masih sederhana sehingga mereka dapat juga menikmati kehidupan yang lebih baik.     

Tekadnya didukung oleh pimpinannya. Namun karena hanya memiliki ijazah SD maka maka Sr. Andre harus mengikuti pendidikan SMP terlebih dahulu. Dia juga mengambil pendidikan perawat. Berbagai ketrampilan dilengkapi sebagai bekal di tanah misi dengan mengikuti kursus instalasi listrik, montir, dan tukang kayu.

Setelah sempat menghadapi jalan buntu, Sr. Andre meninggalkan akhirnya menjadi misionaris dengan meninggalkan negara kelahirannya pada 13 Mei 1973 dan menuju ke Indonesia. Kemudian Sr. Andre berkarya di tengah-tengah masyarakat di pedalaman Irian Jaya, nama Papua saat itu. Di tempat itu dia memberikan penyuluhan kesehatan dan cara hidup sehat bagi masyarakat sederhana. Sayangnya karyanya hanya berlangsung selama empat tahun. Dia terserang penyakit malaria dan menghadai beberapa persoalan.

ebc68cd9-7c08-4e42-ab67-702f54959b6c

Ted (baris ketiga, kanan) bersama kedua orangtua dan saudara-saudarinya. (Dok. Pribadi)

Akhir tahun 1973, Sr. Andre kembali ke Indonesia pada. Kali ini dia berkarya untuk masyarakat sederhana yang tinggal di kolong jembatan, pinggir kali, dan tempat pembuangan sampah di Jakarta. Karyanya pun tetap sama, mendampingi masyarakat sederhana agar dapat hidup sehat dan sejahtera dengan memberikan penyuluhan gizi dan kesehatan.

Setelah sempat mendirikan Yayasan Budhi Darma Driwanti bersama dr. Warno dan Santi, Sr. Andre membentuk Yayasan Sinar Pelangi. Yayasan ini dia bentuk bersama Sr. Secilia Siringoringo FCJM dan Ryanna Mayame Kasioen. Tujuannya untuk menolong anak-anak penyandang disabilitas agar mereka dapat keluar dari isolasi yang membelenggu. Baik belenggu yang datang dari keluarga ataupun lingkungan sekitarnya.

Pada tahun pertama Yayasan Sinar Pelangi berdiri, pasien bibir sumbing banyak berdatangan. “Sampai-sampai banyak orang menyebut saya ini bapak sumbing. Karena mereka melihat penampilan saya seperti laki-laki. Rambut pendek. Suara saya seperti laki-laki. Jadinya saya dianggap bapak-bapak,” kata perempuan yang jarang menggunakan jubah suster ini sembari tertawa.

Selama dua tahun Yayasan Sinar Pelangi menggunakan tempat di Jl. Kerinci, Jakarta Selatan. Setelah itu Uskup Agung Keuskupan Agung Jakarta Mgr. Leo Soekoto SJ menyarankan agar Yayasan Sinar Pelangi pindah ke Bekasi, Jawa Barat. Setelah mendapat bantuan dari banyak pihak, Sr. Andre dapat membeli tanah di tempat yang menjadi lokasi Yayasan Sinar Pelangi sekarang ini.

Seiring perjalanan waktu, karya yayasan ini semakin berkembang. Pasien yang ditangani tidak hanya bibir sumbing tetapi juga mereka yang menderita luka bakar, hidrosefalus, microcefalus, noma, struma atau gondokan, tumor, atresia ani (tidak punya lubang anus), dan berbagai penyakit lain. Meskipun demikian pasiennya tetap dari keluarga sederhana yang tak mampu membiayai operasi.

Selain pasien disabilitas semakin bertambah jumlahnya, karya Yayasan Sinar Pelangi pun semakin berkembang. Yayasan Sinar Pelangi mendirikan balai pengobatan (1992), kamar perawatan pasien (1996), gedung kerajinan tangan (1997), gedung panti asuhan (2002), bengkel otomotif (2003), gedung fisiotrapi (2003), klinik bedah umum (2007), ruang pengasuh panti asuhan (2014), kolam renang untuk fisioterapi (2016), panti jompo (mulai pembangunan 2017). Tentunya semakin besar karya sosial yang dilakukan semakin besar pula dana yang dibutuhkan maka dia harus mencari dana ke sana ke mari untuk dapat membiaya pengobatan para pasien.

Untuk itu Yayasan Sinar Pelangi mengandalkan bantuan dari banyak donatur yang berkenan membantu sesama yang membutuhkan. Banyak di antara mereka yang tidak mengenal sosok Sr. Andre secara pribadi. Mereka tahu dari mulut ke mulut atau membaca tulisan di internet.

Seperti peristiwa beberapa waktu lalu. Ruang tamu Yayasan Sinar Pelangi kedatangan pria muda tak dikenal. Dia enggan menyebutkan nama dan asalnya. Dia hanya ingin datang untuk memberikan bantuan kepada Sr. Andre yang dia ketahui dari internet.

de35463a-5576-4ca3-a770-70f0fd82b707

Sr. Andre Lemmers FCJM (tengah, baju putih) bersama pasien dan karyawan Yayasan Sinar Pelangi. (Dok. Yayasan Sinar Pelangi)

Sr. Andre pun tertegun mendengar penuturan pria itu. Dia tak menahan air mata haru ada saja pertolongan datang untuk pasien yang sedang membutuhkan dana besar. “Seperti Bapak itu tadi. Mujizat terjadi di tempat ini. Entah kapan, kita tidak tahu. Tuhan-lah yang mengutus orang-orang untuk membantu pasien-pasien di sini,” ujar Sr. Andre masih dalam keharuan yang mendalam.

Selain dari sumbangan para donatur, Yayasan Sinar Pelangi juga menjual barang rongsokan, pupuk, sayuran, tanaman, lilin, puzle kayu, jahitan. Perhatian Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) sangat besar membantu Sr. Andre. Sejak kepemimpinan Uskup Agung Keuskupan Jakarta Mgr. Leo Soekoteo SJ (1970-1995), KAJ memberikan kesempatan Sr. Andre mencari dana keliling paroki,.

Pengganti Mgr. Leo pun memberikan dukungan senada, Kardinal Julius Darmaatmadja SJ (1996-2010) Mgr. Ignatius Suharyo (2010-sekarang). Mereka mendukung karya yang telah digulirkan Sr. Andre. “Mgr. Suharyo selalu memberikan perhatian kepada kami. Dia tidak pernah menolak permintaan kami. Setiap kali bertemu di mana pun, beliau selalu menyapa dan menanyakan keadaan kami,” ujar Sr. Andre.

Perampok Datang
Tak selamanya perjalanan Yayasan Sinar Pelangi berlangsung mulus. Kesulitan mencari dana adalah persoalan yang kerap hinggap. Untunglah Tuhan sering kali mengirimkan orang-orang yang tulus iklas untuk meringankan pasien-pasien yang membutuhkan.

Perkembangan Yayasan Sinar Pelangi telah meretas perjalanan panjang. Suka dan duka, manis dan pahit, bahagia dan sedih menjadi dinamika yang dialami Sr. Andre bersama Yayasan Sinar Pelangi. Berbagai dukungan telah banyak dialami. Namun tidak sedikit persoalan harus dihadapi dengan tegar untuk berkarya di tengah-tengah masyarakat yang membutuhkan.

Berbagai persoalan pun terjadi. Termasuk ketika penolakan, pembakaran atap biara, dan kedatangan segerombolan perampok.

Selasa, 19 September 1995. Waktu itu sudah larut malam. Sr. Andre dan rekan-rekannya sudah berada di kamar tidur, saat segerombolan pria datang. Mereka membawa senjata tajam dan senjata api. “Saya berusaha tenang padahal hati ini deg-degan. Saya diancam pakai celurit ke leher dan pistol ke sini,” ujarnya sembari menunjukkan keningnya.

Berbagai persoalan yang dihadapi tak menyurutkan Sr. Andre untuk terus menolong orang-orang yang butuh bantuannya. Doa dan terus berkarya adalah sarana dia menguatkan diri dalam menghadapi terpaan isu-isu itu. Dalam situasi itu dia terus mendekatkan diri kepada Tuhan. Hatinya semakin terbenam dalam doa.

Dia berharap dapat terus membantu sesamanya dengan tindakan nyata. Meski berasal dari keluarga yang tak berkelimpahan, Sr. Andre telah menolong banyak orang. ”Lebih penting berbuat bagi sesama yang membutuhkan dari pada berkotbah. Iman itu lebih penting diwujudkan lewat perbuatan dari pada sekedar berkotbah tapi tidak berbuat apa-apa.”

Editor : Farida Denura
KOMENTAR