ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Update News

BI Berharap Kebijakan Moneter Powell Masih Hati-hati

Kamis , 01 Maret 2018 | 18:49
BI Berharap Kebijakan Moneter Powell Masih Hati-hati
Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI), Do
POPULER

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Bank Indonesia berharap kebijakan moneter yang akan diambil Gubernur baru Bank Sentral AS, The Federal Reserve, Jerome Powell, masih serupa dengan gaya gubernur sebelumnya, Janet Yellen, yang komunikatif, hati-hati dan berbasiskan data.

"Powell dari sisi kebijakan seharusnya sama dengan Yellen yang cenderung hati-hati dalam menyesuaikan kebijakan moneternya. Jadi konteks kebijakan yang sama dengan Yellen itu dibaca pasar seperti itu," kata Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Doddy Zulverdi di Jakarta, Kamis (1/3/2018).

Namun, BI mengaku pidato perdana Powell di Kongres AS pada Selasa malam lalu cenderung berani tapi berhati-hati atau "hawkish" yang berbuntut gejolak di pasar keuangan global. Doddy menduga pernyataan "hawkish" Powell hanya bentuk afirmasi telah terjadi suksesi di Bank Sentral negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu.

"Powell ingin tunjukkan bahwa dia sudah tegas sebagai 'chairman'(pimpinan). Kemarin yang dia sampaikan dalam pidato itu sebenarnya faktor yang kita tahu, ekonomi akan lebih baik, inflasi akan naik. jadi tidak baru," ujar dia.

Powell pada pidato resmi perdananya, Selasa malam, menjelaskan The Fed melihat ruang perbaikan pertumbuhan ekonomi AS, namun akan mencegah ekonomi menjadi naik berlebihan (overheating).

Powell juga menyiratkan kenaikan suku bunga AS secara bertahap, mengingat kenaikan inflasi masih akan sesuai jangkar Bank Sentral di dua persen, yang didukung juga perbaikan data ekonomi AS dan kondisi fiskal yang stimulatif.

"The Fed akan terus menyeimbangkan antara mencegah ekonomi menjadi overheating," kata Powell.

Pasca-pidato Powell, dolar index atau indikator yang mengukur nilai tukar dolar terhadap lima mata uang dunia terus menunjukkan penguat. Mata uang negara-negara maju dan negara berkembang, termasuk Indonesia merosot.

Di Kamis pagi, rupiah sempat diperdagangkan di Rp13.800 per dolar AS, yang mengundang BI melakukan intervensi di pasar.

"Nilai Rp13.800 sudah menunjukkan rupiah terlalu lemah dan tidak sesuai fundamental," ujar dia seperti dikutip Antara.

Di perdagangan Kamis siang ini, nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp13.755 per dolar AS. Sepanjang tahun berjalan sejak 1 Januari hingga 1 Maret 2018, volatilitas rupiah sebesar 8,3 persen. Volatilitas rupiah sepanjang Januari-Februari 2018 jauh lebih tinggi dibandingkan sepanjang 2017 hanya 2-3 persen.

Editor : Farida Denura
KOMENTAR