ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Update News

Perekonomian di Negara Berkembang Asia Stabil

Sabtu , 14 Juli 2018 | 07:00
Perekonomian di Negara Berkembang Asia Stabil
OECD Secretary-General on Development Mario Pezzini. (Youtube)
POPULER
Ekonom Ini Nilai Krisis Ekonomi 2023 Berisiko Lebih Lama dan Akut

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Laporan proyeksi Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) terbaru menyatakan perekonomian di negara berkembang Asia, yang terdiri dari negara ASEAN, Tiongkok dan India, tetap dalam keadaan stabil dalam jangka pendek.

"Negara berkembang Asia dapat mempertahankan pertumbuhan kuat dalam jangka pendek apabila mampu mengendalikan tekanan domestik dan eksternal," kata Director of the OECD Development Centre and Special Advisor to the OECD Secretary-General on Development Mario Pezzini menanggapi laporan tersebut dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (13/7/2018).

Laporan terbaru berjudul "Update to the Economic Outlook for Southeast Asia, China dan India 2018" yang diluncurkan di Markas OECD, Paris, menyatakan pertumbuhan ekonomi di kawasan ini bisa mencapai 6,6 persen pada 2018 dan 6,5 persen pada 2019 melalui dukungan konsumsi rumah tangga dan investasi yang kuat.

Secara khusus, proyeksi rata-rata untuk pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Tenggara dapat mencapai 5,3 persen pada 2018 dan 2019, dengan pencapaian terbaik terjadi di Kamboja, Laos, Myanmar, Vietnam dan Filipina.

Untuk Indonesia, OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen pada 2018 dan 5,4 persen pada 2019.
Laporan ini mencatat negara-negara berkembang di Asia mempunyai neraca transaksi berjalan yang terkendali serta aliran modal masuk yang kuat.

Selain itu, otoritas moneter di berbagai negara tersebut telah menaikkan suku bunga acuan untuk merespon tekanan dari laju inflasi dan perlemahan mata uang. Otoritas moneter ini juga menggunakan instrumen cadangan devisa untuk menjaga likuditas di pasar.

Kebijakan fiskal di berbagai negara ini juga dilakukan secara tepat dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut.

Meski demikian terdapat risiko dalam proyeksi ini, yaitu dampak kenaikan suku bunga acuan di negara maju, ketidakpastian dari pelaksanaan pembangunan infrastruktur yang sudah direncanakan dan konsekuensi dari sentimen proteksionisme kepada ekonomi kawasan.

Bagian khusus dari laporan ini juga memperlihatkan kesempatan bagi negara berkembang di Asia untuk meningkatkan kerja sama "cross-border" dalam sektor perdagangan secara elektronik (e-commerce).

Hal tersebut sangat dimungkinkan karena kawasan ini merupakan salah satu pemain besar dalam e-commerce dan bisa memberikan kontribusi kepada pertumbuhan dari sektor perdagangan digital secara global di masa mendatang.

Saat ini, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (ICT), infrastruktur ICT, transportasi dan logistik, sistem pembayaran serta kerangka legal dapat memberikan dampak positif kepada pertumbuhan di masa depan.

Untuk mendapatkan manfaat dari pengembangan e-commerce "cross-border" ini, pemerintah membutuhkan konektivitas, pengembangan skill dan sumber daya manusia, implementasi kebijakan baru dalam perlindungan konsumen dan keamanan digital serta kerja sama internasional dan regional.

Editor : Farida Denura
KOMENTAR