Sabtu, 15 Agustus 2026

Uskup Larantuka Ajak Diaspora Jadikan Pemberdayaan Ekonomi sebagai Wujud Iman


  • Senin, 27 Juli 2026 | 16:00
  • | News
 Uskup Larantuka Ajak Diaspora Jadikan Pemberdayaan Ekonomi sebagai Wujud Iman Ribuan umat diaspora Keuskupan Larantuka yang bermukim di wilayah Jabodetabek memadati Gedung Zeni Angkatan Darat, Jakarta, Minggu (26/7/2026), untuk mengikuti misa syukur tahbisan episkopal Uskup Larantuka, Mgr Yohanes Monteiro. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ribuan umat diaspora Keuskupan Larantuka yang bermukim di wilayah Jabodetabek memadati Gedung Zeni Angkatan Darat, Jakarta, Minggu (26/7/2026), untuk mengikuti misa syukur tahbisan episkopal Uskup Larantuka, Mgr Yohanes Monteiro.

Para peserta merupakan warga perantau yang berasal dari Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata, dua wilayah yang berada dalam Keuskupan Larantuka. Kehadiran mereka menjadi bukti kuat ikatan emosional dan spiritual dengan tanah kelahiran, meski kini menetap di berbagai daerah di Jabodetabek.

Suasana penyambutan berlangsung hangat dan sarat makna budaya. Setibanya di lokasi, Mgr Yohanes Monteiro disambut tarian perang Hedung dari Adonara, sapaan adat dalam dialek Lamaholot, serta pengalungan selendang tenun oleh para sesepuh masyarakat perantau.

Yang menarik, penyambutan tersebut juga melibatkan warga Flores Timur dan Lembata yang beragama Islam. Mereka ikut mengantar Uskup menuju ruang transit sebelum perayaan Ekaristi dimulai, bahkan turut memeriahkan resepsi dengan menampilkan kesenian kasidahan.

Kebersamaan lintas agama itu menjadi gambaran nyata kuatnya budaya persaudaraan yang terus hidup di tengah masyarakat Lamaholot.

Menemukan Yesus sebagai Harta yang Sejati

Dalam homilinya pada misa konselebran, Mgr Yohanes Monteiro mengangkat bacaan Injil tentang seorang petani yang menemukan harta terpendam di sebuah ladang. Demi memperoleh harta tersebut, sang petani rela menjual seluruh miliknya untuk membeli ladang itu.

Menurutnya, kisah tersebut mengajarkan bahwa harta yang paling berharga bukanlah kekayaan duniawi, melainkan Yesus Kristus.

"Yang harus kita kejar adalah Yesus, harta yang akan melipatgandakan seluruh kekayaan hidup kita. Saya percaya kita hadir di sini bukan semata-mata karena saya ditahbiskan menjadi Uskup Larantuka, tetapi karena kita semua ingin menemukan berkat Tuhan dalam perjalanan hidup kita," ungkapnya.

Ia kemudian mengajak umat melakukan refleksi pribadi. Apakah mereka benar-benar telah menemukan "harta karun" itu dalam kehidupan sehari-hari, atau justru terlalu sibuk mengejar kekayaan dunia hingga melupakan perjumpaan dengan sesama.

Mgr Yohanes juga mengingatkan bahwa setiap orang dipanggil menjadi "mutiara-mutiara kecil" yang membawa sukacita dan menghadirkan Kerajaan Allah di tengah kehidupan.

Diaspora Diminta Menjadi Duta Perdamaian

Usai perayaan Ekaristi, Uskup Yohanes Monteiro kembali menyampaikan pesan khusus kepada warga perantau asal Flores Timur dan Lembata.

Ia mengajak seluruh diaspora, tanpa memandang asal kampung, pulau, maupun agama, agar tetap menjaga akar budaya yang menjunjung tinggi persaudaraan dan semangat gotong royong.

Menurutnya, kehidupan di tanah rantau justru menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya Lamaholot mampu menjadi perekat dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.

Karena itu, ia berharap warga diaspora menjadi duta perdamaian di lingkungan tempat tinggal maupun tempat kerja, sekaligus menjadi teladan dalam membangun harmoni sosial.

Pemberdayaan Ekonomi Menjadi Arah Pastoral Keuskupan

Dalam kesempatan yang sama, Mgr Yohanes Monteiro juga memaparkan arah pastoral Keuskupan Larantuka yang kini menempatkan pemberdayaan ekonomi sebagai ekspresi iman.

Ia menjelaskan bahwa kebijakan tersebut lahir dari realitas ekonomi masyarakat di Flores Timur dan Lembata yang masih menghadapi berbagai keterbatasan.Melalui pendekatan pastoral ini, Gereja ingin mendorong umat agar semakin percaya diri, mampu mengenali potensi yang dimiliki, dan mengembangkannya menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.

"Kita berusaha supaya kemampuan yang dimiliki berkembang, rasa percaya diri tumbuh, dan seluruh potensi dapat dimanfaatkan. Karena itu tema pertama yang kami dorong adalah pemberdayaan ekonomi sebagai ekspresi iman," tegasnya.

Semangat Gemohing Menjadi Perekat Persaudaraan

Ketua Panitia, Kolonel Yohanes Wain, mengatakan keterlibatan warga Flores Timur dan Lembata yang beragama Islam dalam acara tersebut bukanlah sesuatu yang dibuat-buat.

Menurutnya, hal itu merupakan cerminan budaya gemohing, filosofi hidup masyarakat Lamaholot yang mengedepankan gotong royong, persaudaraan, kesetaraan, dan toleransi lintas agama.

Nilai-nilai tersebut, katanya, telah diwariskan turun-temurun sejak zaman leluhur dan tetap dipelihara, termasuk oleh masyarakat yang hidup di perantauan.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan elemen masyarakat yang terlibat sehingga rangkaian acara dapat berlangsung sukses, meski dipersiapkan dalam waktu yang relatif singkat.

"Berkat kerja sama semua pihak dan semangat persaudaraan masyarakat Flores Timur dan Lembata, kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik," ujarnya.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru