Loading
Ilustrasi - Sejumlah warga mengenakan masker saat berada di Stasiun KA Manggarai, Jakarta, Kamis (24/8/2023). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/nym/pri. (ADITYA PRADANA PUTRA/ADITYA PRADANA PUTRA)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Polusi udara masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di dunia. Selain berdampak pada lingkungan, kualitas udara yang buruk juga berkontribusi terhadap jutaan kematian dini setiap tahun dan meningkatkan risiko berbagai penyakit, terutama pada anak-anak.
Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak polusi udara karena organ pernapasan dan sistem kekebalan tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan.
Dalam seminar media yang digelar untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup, Anggota Satuan Tugas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim (KLPI) IDAI, Riyadi, mengungkapkan bahwa sekitar tujuh juta orang di dunia meninggal lebih cepat dari yang seharusnya akibat paparan polusi udara.
Menurutnya, anak-anak menghadapi risiko yang lebih besar dibandingkan orang dewasa. Saluran pernapasan yang masih sempit dan sistem imun yang belum berkembang sempurna membuat mereka lebih mudah terpapar dan terdampak oleh berbagai zat pencemar di udara.
Berasal dari Berbagai Sumber
Polusi udara dapat muncul dari berbagai aktivitas sehari-hari. Emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, kebakaran hutan, pembakaran bahan bakar fosil, hingga kebiasaan membakar sampah menjadi sumber utama pencemaran udara yang berbahaya bagi kesehatan.
Paparan partikel berbahaya dan zat pencemar dalam jangka pendek dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), serangan asma, alergi, serta berbagai gangguan pernapasan lainnya. Sementara dalam jangka panjang, polusi udara berpotensi melemahkan sistem pertahanan tubuh sehingga seseorang menjadi lebih rentan terhadap berbagai penyakit.
Risiko bagi Ibu Hamil dan Janin
Dampak polusi udara tidak hanya dirasakan anak-anak. Ibu hamil juga termasuk kelompok yang perlu mendapatkan perhatian khusus.
Paparan partikel halus, logam berat, dan berbagai zat pencemar lainnya dapat memengaruhi kesehatan ibu serta meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin sejak masih berada di dalam kandungan.
Kondisi ini menjadi perhatian penting karena dampak kesehatan akibat polusi udara dapat berlangsung dalam jangka panjang dan memengaruhi kualitas hidup generasi mendatang dikutip Antara.
Polusi Udara dan Perubahan Iklim Saling Berkaitan
IDAI juga menyoroti hubungan erat antara polusi udara dan perubahan iklim. Aktivitas yang menghasilkan emisi gas rumah kaca umumnya turut menyumbang penurunan kualitas udara.
Karena itu, upaya mengatasi polusi udara tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan langkah bersama mulai dari pengurangan emisi kendaraan bermotor, penggunaan transportasi yang lebih ramah lingkungan, penghentian praktik pembakaran sampah, hingga penambahan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan.
Menurut Riyadi, menjaga lingkungan berarti juga menjaga kesehatan manusia. Ketika kualitas lingkungan menurun, dampaknya akan dirasakan oleh seluruh kelompok usia, terutama anak-anak yang memiliki tingkat kerentanan paling tinggi.
Ia menegaskan bahwa menciptakan lingkungan yang sehat merupakan investasi penting untuk melindungi kesehatan masyarakat saat ini maupun generasi yang akan datang.