Loading
Ratusan anak muda memadati Sekretariat PMKRI Jakarta Pusat dalam nobar film 'Pesta Babi'. (Foto: Istimewa)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Sekretariat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Jakarta Pusat “Sanctus Robertus Bellarminus” dipenuhi ratusan anak muda pada Sabtu (23/5/2026). Mereka hadir dalam kegiatan nonton bareng film Pesta Babi yang mengangkat isu sosial, kemanusiaan, dan situasi di Tanah Papua.
Mengusung tema “Gen Z, Speak Up, Take Part” dengan semangat “Perubahan di Tangan Orang Muda”, kegiatan tersebut bukan sekadar ajang menonton film bersama. Acara ini berkembang menjadi ruang diskusi kritis yang mempertemukan anak muda lintas kampus, komunitas, dan organisasi di Jakarta untuk membahas demokrasi, kebebasan sipil, hingga isu kemanusiaan di Indonesia.
Peserta mulai memadati lokasi sejak sore hari. Registrasi dibuka pukul 16.30 WIB sebelum pemutaran film dimulai pada pukul 18.30 WIB. Antusiasme tinggi terlihat dari membludaknya peserta yang mayoritas berasal dari kalangan Gen Z.
Baca juga:
Koalisi Ojol Nasional dan PMKRI Jakarta Pusat Sepakat Dorong Regulasi Resmi untuk Driver Ojek OnlineFilm Pesta Babi sendiri menampilkan realitas sosial yang berkaitan dengan ketidakadilan, eksploitasi, serta suara masyarakat yang selama ini dianggap terpinggirkan di Papua. Usai pemutaran film, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi dan refleksi bersama.
Sejumlah influencer dan figur publik muda turut hadir sebagai penanggap, di antaranya Virdian Aurelio, Indah G, Eky Priyagung, Virninda, Tommy Wibowo, Pitengz, dan Kevin Nguyem. Mereka menyampaikan pandangan mengenai kondisi demokrasi, ruang kebebasan berekspresi, serta pentingnya keterlibatan generasi muda dalam perubahan sosial.
Diskusi juga menghadirkan Mandataris PMKRI Cabang Jakarta Pusat, Jho Lau, serta Ketua PMKRI Jakarta Barat, Ruben.
Dalam penyampaiannya, Jho Lau menegaskan bahwa Sekretariat PMKRI Jakarta Pusat bukan hanya tempat berkumpul organisasi mahasiswa, tetapi juga memiliki nilai historis sebagai ruang konsolidasi gerakan mahasiswa pada berbagai momentum penting bangsa.
Ia menyebut sekretariat tersebut pernah menjadi titik pertemuan gerakan mahasiswa pada tahun 1965 dan 1998. Karena itu, menurutnya, berkumpulnya anak muda dalam kegiatan nobar tersebut memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar diskusi film.
“Anak muda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam situasi bangsa hari ini. Kita harus berani bersuara dan mengambil bagian dalam perjuangan kemanusiaan serta keadilan sosial,” ujar Jho Lau di hadapan peserta.
Pernyataan itu mendapat respons antusias dari peserta yang memenuhi ruang sekretariat hingga malam hari. Banyak peserta menilai kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi bersama mengenai kondisi bangsa, terutama terkait persoalan kemanusiaan dan ketidakadilan sosial di Papua.
Jho Lau juga menjelaskan bahwa proses kaderisasi di PMKRI berangkat dari nilai-nilai Ajaran Sosial Gereja Katolik yang menempatkan kemanusiaan dan keberpihakan terhadap kelompok tertindas sebagai bagian penting perjuangan organisasi.
Dalam kesempatan itu, ia turut menyinggung Laudato Si' yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus. Ensiklik tersebut disebut sebagai kritik moral terhadap pembangunan yang eksploitatif dan merusak lingkungan hidup.
Menurut Jho Lau, kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam berdampak langsung pada masyarakat kecil dan masyarakat adat. Ia menilai persoalan agraria, pencemaran lingkungan, serta hilangnya ruang hidup masyarakat adat di Papua menjadi bagian dari krisis ekologis sekaligus krisis kemanusiaan yang perlu mendapat perhatian serius.
Karena itu, ia menekankan pentingnya peran generasi muda untuk terus mengawal isu lingkungan, kemanusiaan, dan demokrasi agar tidak tenggelam dalam kepentingan ekonomi maupun politik.
Melalui kegiatan nobar film Pesta Babi ini, PMKRI Cabang Jakarta Pusat berharap semakin banyak anak muda yang berani bersuara, terlibat aktif, dan membangun kesadaran kritis terhadap berbagai persoalan bangsa.
Semangat “Gen Z, Speak Up, Take Part” pun menjadi simbol bahwa generasi muda masih memiliki harapan dan keberanian untuk menjaga demokrasi, memperjuangkan keadilan sosial, serta mendorong Indonesia yang lebih manusiawi dan berkeadilan.