Selasa, 10 Februari 2026

BRIN Ingatkan Bahaya Air Sinkhole, Berpotensi Mengandung Bakteri dan Logam Berat


  • Jumat, 16 Januari 2026 | 21:45
  • | News
 BRIN Ingatkan Bahaya Air Sinkhole, Berpotensi Mengandung Bakteri dan Logam Berat Sejumlah warga melihat dari jauh fenomena sinkhole yang terjadi di Nagari Situjua Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. (Antara)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari, mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan memanfaatkan air yang muncul dari fenomena sinkhole atau lubang runtuhan tanah. Pasalnya, air tersebut berpotensi mengandung bakteri berbahaya hingga logam berat.

Adrin menjelaskan, air yang terdapat di dalam sinkhole umumnya berasal dari air hujan serta aliran air bawah permukaan. Kondisi itu membuat kualitas air tidak bisa langsung dinyatakan aman untuk dikonsumsi tanpa melalui pemeriksaan laboratorium.

“Air harus dianalisis secara kimia terlebih dahulu, mulai dari kejernihan, warna, bau, rasa, pH, hingga kandungan bakteri berbahaya seperti E. coli dan logam berat, sesuai standar kesehatan dalam Peraturan Menteri Kesehatan,” ujar Adrin dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (17/1/2026).

Ia juga menekankan bahwa kawasan permukiman yang berdiri di atas lapisan batu gamping atau limestone memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi terhadap terbentuknya sinkhole. Salah satu tanda awal yang patut diwaspadai adalah hilangnya aliran air permukaan secara tiba-tiba.

“Jika aliran air mendadak menghilang, kemungkinan air masuk ke rongga bawah tanah. Kondisi ini perlu segera diselidiki karena dapat memicu runtuhan,” jelasnya seperti dikutip dari Antara

Menurut Adrin, pemahaman berbasis sains sangat penting dalam upaya mitigasi bencana geologi, termasuk sinkhole. Ia menyebut terdapat metode rekayasa geoteknik yang dapat diterapkan untuk mencegah terbentuknya lubang runtuhan di wilayah batugamping.

Salah satu metode tersebut adalah cement grouting, yakni teknik menginjeksikan semen, mortar, atau bahan kimia tertentu untuk mengisi rongga di bawah permukaan tanah. Proses ini diawali dengan pengeboran hingga mencapai rongga, lalu material grouting dimasukkan menggunakan pompa bertekanan.

“Tekanan dan volume injeksi harus dipantau secara ketat agar tidak merusak struktur batuan. Setelah itu, efektivitas grouting diuji melalui uji permeabilitas atau metode geofisika lainnya untuk memastikan rongga telah terisi dan lapisan batuan menjadi lebih stabil,” tuturnya.

Adrin berharap pemerintah daerah dan masyarakat di wilayah rawan sinkhole dapat meningkatkan kewaspadaan serta menjadikan kajian geologi dan survei geofisika sebagai dasar dalam perencanaan tata ruang dan mitigasi risiko bencana.

Sebelumnya, fenomena sinkhole terjadi di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Sejumlah warga sempat memanfaatkan air dari lubang tersebut, bahkan mengaitkannya dengan manfaat kesehatan. Namun, otoritas setempat kini telah melarang penggunaan air tersebut untuk kebutuhan sehari-hari demi keselamatan warga sekitar.

Editor : M. Khairul

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru