ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Update News

Catat! Ini Jenis Makanan Pemicu Kanker

Rabu , 11 September 2019 | 16:00
Catat! Ini Jenis Makanan Pemicu Kanker
Jenis makanan pemicu kanker. (Net)

HINGGA saat ini penyebab penyakit kanker masih sangat sulit diketahui. Meski demikian ada beragam faktor pemicu kanker yang sebetulnya bisa diantisipasi. Salah satunya adalah makanan yang bisa jadi pemicu sel kanker.

Kondisi munculnya kembali sel kanker dalam tubuh – seperti yang kini tengah dialami aktris Ria Irawan – memang sering tidak bisa dihindari oleh penderita kanker. Bahkan bagi mereka yang sudah dinyatakan “sembuh”, munculnya sel kanker juga bisa dipicu oleh makanan yang dikonsumsi.

Makanan penyebab kanker
Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa pola makan sehat dapat mengurangi risiko munculnya sel kanker. Namun begitu pula sebaliknya. Pola makan yang asal-asalan makin meningkatkan risiko munculnya sel kanker.
Setidaknya, ada tujuh jenis makanan dan minuman yang bisa memicu kanker. Berikut beberapa jenis makanan yang perlu perhatikan konsumsinya:

Makanan ultra-proses
Processed food adalah makanan yang diproses menjadi makanan “hampir jadi” sebelum dijual ke pasaran, misalnya makanan kaleng, makanan yang diasapkan, pasteurisasi, dan yang melalui proses pengeringan.

Sedangkan pada makanan ultra-proses (ultra-processed food), makanan yang sudah diproses masih lagi diberi bahan tambahan, misalnya pengawet makanan, pemanis buatan, atau penambah selera makan.
Menurut dr. Melyarna Putri, MPH, M.Gizi, dari KlikDokter, makanan ultra-proses, seperti bacon, sosis, daging asap, atau keju asap mengandung N-nitroso.

“N-nitroso adalah komponen karsinogenik yang dihasilkan selama proses memasak, dan komponen tersebut dapat meningkatkan risiko kanker,” ungkap dr. Melyarna.

Badan Internasional untuk Penelitian Kanker WHO (IARC) menyebutkan, konsumsi 50 gram daging (setara dengan 1 buah sosis berukuran sedang atau 4 lembar bacon) setiap harinya dapat meningkatkan risiko kanker usus hingga 18 persen.

Dilansir dari Healthline, makanan olahan yang tinggi gula dan rendah serat serta nutrisi dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker. Ada penelitian yang menemukan bahwa orang-orang yang terlalu banyak mengonsumsi asupan manis hingga glukosa darahnya tinggi, risiko terjadinya kanker seperti kanker payudara dan kanker perut meningkat.

Selain itu, asupan karbohidrat yang berlebih juga disebut-sebut sebagai pemicu kanker usus besar. Kadar glukosa darah dan insulin yang lebih tinggi adalah faktor risiko kanker. Insulin telah terbukti merangsang pembelahan sel, mendukung pembelahan, sekaligus meningkatkan penyebaran sel kanker.

Asupan gula dan karbohidrat berlebih juga bisa menimbulkan peradangan di tubuh, yang selanjutnya dapat memicu pertumbuhan sel-sel abnormal. Karena penderita diabetes memiliki risiko kanker 22 persen lebih tinggi ketimbang mereka yang tidak memiliki penyakit tersebut, maka kurangilah aneka makanan dan minuman yang tinggi gula.

Minuman beralkohol
Menurut penelitian yang dilakukan The National Toxicology Program of The US Department of Health and Human Services, semakin banyak dan sering Anda mengonsumsi alkohol, risiko Anda untuk mengalami kanker nasofaring, esofagus, hati, payudara, dan usus akan meningkat. Bahkan menurut data dari American Journal of Public Health, di Amerika Serikat sendiri angka kematian pasien kanker akibat alkohol diperkirakan sekitar 3,5 persen.

“Saat tubuh memetabolisme alkohol, maka akan terbentuk acetaldehyde, yaitu suatu bahan kimia yang akan merusak DNA dan menyebabkan terjadinya mutasi sel, sehingga berujung pada kanker,” kata dr. Nadia Octavia dari KlikDokter ikut menambahkan.

Makanan tinggi lemak
Lemak jahat atau lemak jenuh memang tidak berhubungan langsung dengan kanker. Namun, ada studi yang menemukan bahwa pasien kanker yang mengonsumsi makanan yang mengandung banyak lemak memiliki kemungkinan 78 persen lebih tinggi untuk meninggal dalam waktu 7 tahun sejak diagnosis. Hal ini jika dibandingkan dengan mereka yang mengurangi jenis makanan ini.

Meski lezat, dr. Avin Nursalim, SpPD, dari KlikDokter mengatakan, senyawa heterocyclic amines (HCA) dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH) akan terbentuk di dalam daging yang dibakar. Dalam sebuah penelitian, tikus yang diberikan makanan tinggi HCA dan PAH mengalami peningkatan kejadian kanker payudara, kanker hati, dan kanker paru.

Hindari memanggang daging hingga terlalu gosong dan jangan sering-sering menyantapnya. Sebaiknya rebus dulu daging yang hendak dibakar, sehingga Anda tak perlu memanggangnya terlalu lama untuk mendapatkan tingkat kematangan yang diinginkan.

Makanan kalengan
Makanan jenis ini memang praktis dan memiliki rasa yang enak. Namun berdasarkan jurnal medis “Life Sciences”, makanan kaleng mengandung senyawa bisphenol A (BPA) yang dapat meningkatkan risiko kanker.

“Pada penelitian tersebut menyebutkan kandungan BPA yang terdapat di dalam kaleng makanan dapat masuk dan mencemari makanan, sehingga jika dikonsumsi bisa meningkatkan risiko kanker,” ujar dr. Nadia. Meski tidak semua kemasan makanan mengandung BPA, tapi amannya kurangi dan batasi konsumsi makanan kalengan.

Susu dan produk olahannya
Beberapa studi observasi mengindikasikan bahwa konsumsi produk olahan susu bisa meningkatkan risiko kanker prostat.

Meski butuh penelitian lebih lanjut, tetapi ada satu studi dalam jurnal medis “Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention” tahun 2012 yang meneliti 4.000 pria dengan kanker prostat. Temuannya, asupan whole milk (susu murni) meningkatkan risiko perkembangan penyakit dan kematian.

Teori menunjukkan kemungkinan penyebabnya adalah meningkatkan asupan kalsium, insulin-like growth factor 1 (IGF-1), atau hormon estrogen dari sapi yang hamil. Semuanya telah dikaitkan dengan kanker prostat, meski asosiasinya sangat lemah.

Jika tak ingin risiko kanker meningkat, kurangi, batasi, atau kalau perlu jauhi jenis makanan yang memicu kanker seperti yang disebutkan di atas. Selain itu, jalankan pola hidup sehat mulai saat ini untuk mencegah munculnya penyakit, termasuk kanker. Hal lain yang tidak kalah penting adalah lakukan cek kesehatan rutin ke dokter. Dengan demikian gangguan kesehatan bisa dideteksi sejak dini.

Editor : Farida Denura
KOMENTAR