Sabtu, 10 Oktober 2026

Ketan Hitam Sigi Naik Kelas, dari Tradisi Badabida Menjadi Produk Perawatan Tubuh


 Ketan Hitam Sigi Naik Kelas, dari Tradisi Badabida Menjadi Produk Perawatan Tubuh Ilustrasi - Ketan hitam Sigi diolah menjadi body scrub melalui Nelamayu Tradisional. (Foto: Istimewa)

SIGI, ARAHKITA.COM – Menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, upaya tersebut justru tumbuh dari hal sederhana: mempertahankan pasar bagi ketan hitam lokal dan memanfaatkan kembali sisa produksi.

Persoalan ini menjadi penting bagi petani ketan hitam di Sigi. Ketika pasar tidak pasti, minat petani untuk menanam komoditas tersebut ikut menurun. Padahal, ketan hitam memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan masyarakat Kaili.

Selain sebagai bahan pangan, ketan hitam digunakan dalam badabida, lulur tradisional yang menjadi bagian dari rangkaian perawatan calon pengantin perempuan Kaili.Di tengah kondisi tersebut, Nelam Ayu Kusuma melihat peluang untuk menghidupkan kembali permintaan terhadap bahan lokal melalui usaha Nelamayu Tradisional, yang dirintis sejak 2018.

Ketan hitam yang dibeli dari petani di wilayah Dolo Barat diolah menjadi body scrub. Menariknya, proses produksi tidak berhenti pada produk utama. Dedak dan abu yang dihasilkan juga dimanfaatkan kembali agar tidak menjadi limbah.

Mengubah Tradisi Menjadi Produk Kekinian

Badabida merupakan bagian dari tradisi nombungu, yakni rangkaian perawatan yang dilakukan calon pengantin perempuan Kaili.

Dalam tradisi tersebut, tubuh dan wajah calon pengantin dirawat menggunakan bahan-bahan alami, termasuk lulur atau masker yang terbuat dari ketan hitam.

“Dulu badabida dipakai calon pengantin. Wajahnya ditutup dengan lulur dari ketan hitam. Itu tradisi lama perempuan Kaili,” ujar Nelam.

Jika dahulu badabida dibuat dalam bentuk bedak atau masker sederhana, Nelam kemudian mengembangkannya menjadi body scrub.

Pengembangan tersebut membuat bahan tradisional lebih mudah digunakan oleh konsumen masa kini, sekaligus membuka peluang agar pengetahuan lokal tetap memiliki tempat di tengah perubahan gaya hidup.

Nelamayu Tradisional juga memproduksi bada kumba, produk yang berangkat dari pengetahuan yang diwariskan nenek Nelam.

Pada masa pendudukan Jepang, sang nenek dikenal sebagai perawat herbal di kampungnya. Ketika obat-obatan sulit diperoleh, ia meracik bedak dingin dari beras, daun basakaling atau kodombuku, kunyit kayu, kencur, dan berbagai rempah.

Pengetahuan tersebut kemudian diteruskan dalam keluarga dan dikembangkan melalui Nelamayu Tradisional.Dengan cara itu, tradisi tidak hanya berhenti sebagai cerita masa lalu. Pengetahuan lokal justru menjadi dasar bagi kegiatan ekonomi yang tetap terhubung

dengan petani, bahan alam, dan masyarakat setempat.

Dedak dan Abu Juga Dimanfaatkan

Ada hal lain yang menjadi perhatian dalam proses produksi Nelamayu Tradisional, yakni sisa bahan.

Pembuatan badabida dan bada kumba menghasilkan dedak dari proses penggilingan beras serta abu dari proses sangrai. Alih-alih langsung membuangnya,

Nelam berupaya mengembalikan kedua hasil samping tersebut ke penggunaan lain.

Dedak dapat disalurkan kembali kepada petani atau digunakan sebagai pakan ternak. Sementara abu hasil sangrai dimanfaatkan sebagai abu gosok rumah tangga dan sebagian dijual sekitar Rp5.000 per kantong.

Praktik sederhana tersebut membuat proses produksi tidak hanya menghasilkan satu produk bernilai ekonomi. Hasil samping yang masih dapat digunakan juga memperoleh fungsi baru.

Bagi petani, keberadaan pembeli lokal seperti Nelamayu Tradisional juga memberikan kepastian tambahan. Meskipun skalanya belum besar, permintaan tersebut menunjukkan bahwa ketan hitam lokal masih memiliki peluang pasar.

Pendampingan Dorong Usaha Berbasis Alam

Pengembangan Nelamayu Tradisional turut diperkuat melalui program inkubasi Gampiri Interaksi Lestari yang diikuti pada 2023.

Selama enam bulan, Nelam mendapat pendampingan dalam penguatan kelembagaan, perizinan, pengembangan produk, pemasaran, hingga perluasan akses pasar.

“Pendampingan kami fokus pada hilirisasi berbasis alam. Kami ingin memastikan produk-produk seperti Nelamayu Tradisional bisa tumbuh secara ekonomi tanpa mengorbankan nilai budaya dan lingkungan,” kata Nedya Sinintha Maulaning, perwakilan Gampiri Interaksi Lestari.

Menurutnya, usaha berbasis sumber daya alam tidak cukup hanya menggunakan label alami. Pelaku usaha juga perlu memperhatikan asal bahan baku, penggunaan sumber daya secara bijak, keterlibatan masyarakat lokal, hingga pengelolaan sisa produksi.

“Ketika lingkungan dijaga, sumber daya alam dimanfaatkan secara bijak, dan masyarakat lokal terlibat langsung, maka pemulihan ekonomi terjadi secara alami. Pendapatan meningkat, budaya tetap hidup, dan alam tidak dieksploitasi,” ujarnya.

Pasar Meluas, Bahan Lokal Ikut Terserap

Pengembangan pasar menjadi bagian penting dalam perjalanan Nelamayu Tradisional.

Melalui kegiatan Business and Partnership Matching, Nelamayu Tradisional dipertemukan dengan 20 calon mitra.

Kini, produk Nelamayu Tradisional dipasarkan secara daring, melalui reseller, serta berbagai mitra lokal. Jangkauan pemasarannya meliputi Sigi, Palu, Parigi, Poso, hingga Morowali.

Produk tersebut juga mulai diperkenalkan sebagai amenities di homestay dan penginapan lokal.

Meluasnya pasar bukan hanya berpotensi meningkatkan penjualan usaha. Semakin banyak produk yang terserap, semakin besar pula peluang penggunaan bahan baku dari petani lokal.

Namun, pertumbuhan tetap perlu disesuaikan dengan ketersediaan bahan dan kapasitas produksi petani.

Bagi Nelam, tujuan jangka panjangnya bukan semata-mata memperbesar produksi, tetapi membuat produknya dikenal melalui cerita yang menghubungkan tradisi, perempuan, kesehatan, dan alam.

“Saya ingin produk ini tidak hanya dikenal karena hasilnya di kulit, tapi juga karena ceritanya. Tentang perempuan, tradisi, kesehatan, dan alam yang saling terhubung,” katanya.

Ekonomi Restoratif dari Tingkat Lokal

Nelamayu Tradisional merupakan satu dari 74 pelaku usaha dan kelembagaan lokal yang mengikuti program inkubasi Gampiri Interaksi Lestari.

Peserta tersebut terdiri dari 64 tenant program Gampiri Inkubasi Usaha Lestari dan 10 tenant Koperasi Growth. Mereka berasal dari UMKM lokal, koperasi, kelompok sadar wisata, hingga Kelompok Usaha Perhutanan Sosial.

Komoditas yang dikembangkan juga beragam, mulai dari kopi, vanili, tanaman atsiri, hingga berbagai produk berbahan alam lainnya.Program tersebut berangkat dari gagasan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah tidak harus berjalan berlawanan dengan upaya menjaga lingkungan.

Potensi alam tetap dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat selama dikelola secara hati-hati, diproses di daerah, dan memberikan manfaat kepada pelaku ekonomi lokal.

Pendekatan tersebut didukung Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), asosiasi pemerintah kabupaten yang mendorong kemandirian daerah melalui model ekonomi restoratif.

Dalam pendekatan tersebut, keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat ditempatkan sebagai bagian yang saling melengkapi dalam pembangunan.

Di Sigi, gagasan tersebut terlihat dari hubungan sederhana antara petani ketan hitam dan sebuah usaha perawatan tubuh.

Hasil panen memperoleh pasar, tradisi lokal tetap digunakan, sementara sisa produksi mendapatkan fungsi baru.

Dampaknya mungkin belum besar jika hanya diukur dari volume produksi. Namun, praktik tersebut menunjukkan bahwa ekonomi yang lebih ramah lingkungan tidak selalu harus dimulai dari proyek berskala besar.

Ia bisa dimulai dari keputusan sederhana di sebuah dapur produksi: membeli bahan dari petani sekitar, menggunakan sumber daya secukupnya, dan tidak buru-buru membuang sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan.

Tentang Gampiri Interaksi Lestari

Gampiri Interaksi Lestari merupakan wadah yang dimiliki dan dijalankan bersama oleh para anggotanya untuk mengembangkan usaha berkelanjutan berbasis potensi lokal.

Melalui program inkubasi, Gampiri memperkuat pelaku usaha dan kelembagaan ekonomi lokal melalui pendampingan usaha, tata kelola, pengembangan produk, dan perluasan jejaring.

Saat ini, Gampiri Interaksi Lestari menjalankan program Gampiri Inkubasi Usaha Lestari (GIAT) dan Koperasi Growth.

Sebanyak 74 tenant telah mengikuti program inkubasi, yang terdiri dari pelaku usaha lokal, koperasi, kelompok sadar wisata, dan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Lifestyle Terbaru