Selasa, 20 Januari 2026

Dari Wulingyuan ke Chongqing: Melihat Lebih Dekat Plat Hijau Mobil Listrik China


 Dari Wulingyuan ke Chongqing: Melihat Lebih Dekat Plat Hijau Mobil Listrik China Prof. Tjandra Yoga Aditama di sebuah rest area memperhatikan sesuatu yang berbeda dimana dua mobil terparkir berdampingan, tetapi warna plat nomornya tidak sama. (Foto: Dok. Pribadi)

Catatan Perjalanan Prof Tjandra Yoga Aditama

PERJALANAN darat dari Wulingyuan menuju Chongqing melalui Peng Shui membawa pengalaman kecil namun menarik bagi Prof. Tjandra Yoga Aditama. Di sebuah rest area, ia memperhatikan sesuatu yang berbeda: dua mobil terparkir berdampingan, tetapi warna plat nomornya tidak sama. Di kanan, sebuah mobil listrik—di kiri, mobil konvensional. Bukan sekadar beda teknologi, namun juga berbeda identitas visual.

Di China, mobil listrik diberi plat putih-hijau, sementara mobil bermesin bensin atau diesel tetap menggunakan plat biru. Warna hijau dipilih sebagai simbol transisi energi bersih yang kini sedang digencarkan di seluruh negeri. Lebih dari sekadar estetika, warna ini punya fungsi sosial: warga lebih mudah mengenali kendaraan listrik, sekaligus menunjukkan keberpihakan pemerintah pada teknologi ramah lingkungan.

Menariknya, proses mendapatkan plat hijau ini jauh lebih sederhana. Warga bisa langsung membeli mobil listrik dan menggunakannya. Sebaliknya, untuk mendapatkan plat biru pada mobil konvensional, ada prosedur yang jauh lebih panjang—bahkan di beberapa kota harus melalui sistem undian. Regulasi ini secara efektif mendorong masyarakat beralih ke kendaraan listrik.

Kebijakan tersebut terlihat dampaknya pada statistik nasional. Sepanjang 2025, China diperkirakan menjual 34 juta unit mobil, dan hampir setengahnya—sekitar 16 juta—merupakan new energy vehicles (NEV) yang terdiri dari BEV (Battery Electric Vehicle) dan PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle).

Data Juni 2025 menunjukkan sudah ada 36,9 juta NEV beroperasi di jalan raya, atau sekitar 10,3% dari seluruh kendaraan di negara itu. Angka ini menjadikan China sebagai pasar mobil listrik terbesar di dunia.

Tak hanya memenuhi kebutuhan domestik, produksi kendaraan listrik China juga merambah dunia. Pada 2025, negara tersebut diproyeksikan mengekspor sekitar 6,8 juta unit mobil, termasuk yang masuk ke pasar Indonesia. Fenomena inilah yang membuat “mocin”—mobil buatan China—kian sering terlihat di jalan-jalan Tanah Air, terutama karena fitur menarik dan efisiensi energinya.

Dari perjalanan singkat Prof. Tjandra di antara tebing-tebing Wulingyuan menuju kota modern Chongqing, kita mendapat gambaran seperti apa masa depan mobilitas: lebih bersih, lebih sunyi, dan lebih hijau—secara literal maupun simbolis.

 

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Leisure Terbaru