Trauma Persalinan Bisa Tinggalkan Luka Psikologis pada Ibu, Ini Penjelasannya


 Trauma Persalinan Bisa Tinggalkan Luka Psikologis pada Ibu, Ini Penjelasannya Ilustrasi depresi pada ibu pascamelahirkan. ANTARA/HO-Shutterstock

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Persalinan sering dianggap sebagai momen membahagiakan dalam kehidupan seorang perempuan. Namun di balik proses tersebut, tidak sedikit ibu yang mengalami pengalaman melahirkan penuh tekanan hingga meninggalkan trauma psikologis mendalam.

Dilansir dari Psychology Today, Rabu (6/5/2026) waktu setempat, sejumlah kondisi seperti operasi caesar darurat, perdarahan pascamelahirkan, hingga bayi yang harus dirawat di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) dapat membuat proses persalinan terasa menegangkan dan membekas secara emosional.

Berbagai penelitian menunjukkan banyak perempuan mengalami persalinan traumatis. Sebagian bahkan mengalami gejala Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) setelah melahirkan atau dikenal sebagai postpartum PTSD.

Meski tidak semua ibu memenuhi diagnosis klinis PTSD, pengalaman tersebut tetap dapat memengaruhi kondisi emosional mereka setelah persalinan.

Sebagian ibu mengaku terus teringat momen melahirkan, merasa cemas saat menjalani pemeriksaan medis, hingga mengalami mati rasa emosional atau merasa berbeda dari dirinya sendiri setelah memiliki anak.

Salah satu hal yang kerap membuat ibu semakin tertekan adalah anggapan bahwa mereka harus selalu bersyukur karena bayi lahir dengan selamat. Padahal, rasa syukur dan trauma dapat hadir secara bersamaan.

Selain trauma, banyak perempuan juga mengalami rasa kehilangan terhadap proses persalinan yang sebelumnya telah mereka bayangkan. Harapan tentang momen melahirkan yang tenang dan membahagiakan terkadang tidak berjalan sesuai kenyataan.

Kondisi tersebut dapat memunculkan duka emosional, terutama ketika rasa kecewa bercampur dengan cinta terhadap bayi yang baru lahir.

Sebagian perempuan bahkan menyalahkan diri sendiri karena merasa kesulitan secara emosional setelah melahirkan. Para ahli menegaskan bahwa kondisi itu bukan berarti seorang ibu tidak mencintai anaknya, melainkan respons alami terhadap pengalaman yang berat.

Trauma persalinan juga dapat memengaruhi hubungan emosional antara ibu dan bayi. Ada ibu yang tetap mencintai bayinya, namun merasa terlepas secara emosional atau kesulitan membangun kedekatan di awal kelahiran.

Menurut para ahli, ikatan ibu dan bayi tidak selalu terbentuk secara instan, tetapi berkembang perlahan melalui perhatian, perawatan, dan hubungan emosional sehari-hari.

Pemulihan trauma pun tidak selalu berarti melupakan pengalaman buruk. Pendekatan Acceptance and Commitment Therapy (ACT) menilai pemulihan dapat dimulai dengan menerima emosi sulit tanpa membiarkannya sepenuhnya mengendalikan hidup seseorang.

Para ibu disarankan mencari dukungan melalui orang terdekat, kelompok pendampingan, menulis pengalaman pribadi, atau menjalani terapi dengan tenaga profesional yang memahami kesehatan mental perinatal.

Dukungan psikologis dinilai penting agar ibu memiliki ruang aman untuk memproses pengalaman traumatis tanpa rasa takut dihakimi atau diremehkan.


Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kesehatan Terbaru