Amankah Pil KB Dipakai Bertahun-tahun? Simak Risiko dan Manfaatnya!


 Amankah Pil KB Dipakai Bertahun-tahun? Simak Risiko dan Manfaatnya! Amankah Pil KB Dipakai Bertahun-tahun? Simak Risiko dan Manfaatnya!. (Pixabay)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Pil KB menjadi salah satu metode kontrasepsi yang banyak digunakan karena praktis dan efektif mencegah kehamilan. Namun, penggunaan dalam jangka panjang kerap menimbulkan pertanyaan, terutama soal keamanan dan risiko kesehatan yang mungkin muncul seiring waktu.

Secara umum, dilansir Medical Daily, pil KB dinilai aman digunakan selama bertahun-tahun bagi banyak orang yang sehat, terutama jika penggunaannya diresepkan dan dipantau dengan baik. Meski begitu, pemakaian pil KB jangka panjang tetap perlu dievaluasi secara berkala karena kondisi kesehatan setiap orang bisa berubah.

Cara Kerja Pil KB

Pil KB bekerja dengan kandungan estrogen sintetis, progestin, atau kombinasi keduanya. Hormon tersebut mencegah kehamilan dengan menghentikan ovulasi, mengentalkan lendir serviks, dan menipiskan lapisan rahim. Jika diminum pada waktu yang sama setiap hari, pil KB sangat efektif. Namun, pil yang terlewat dapat menurunkan perlindungannya.

Jenis pil KB yang paling umum adalah pil kombinasi yang mengandung estrogen dan progestin. Sementara itu, pil progestin saja biasanya digunakan ketika estrogen tidak dianjurkan. Masing-masing jenis memiliki profil risiko yang berbeda.

Apakah Aman Digunakan? 

Penelitian selama beberapa dekade menunjukkan bahwa banyak orang sehat dan bukan perokok dapat menggunakan pil KB dengan aman selama bertahun-tahun jika mereka secara teratur dievaluasi oleh profesional kesehatan.

Keamanan penggunaan pil KB dalam jangka panjang sangat bergantung pada sejumlah faktor, seperti usia, kebiasaan merokok, tekanan darah, riwayat migrain, berat badan, serta kondisi kesehatan tertentu seperti diabetes atau gangguan pembekuan darah. Karena itu, penggunaan pil KB jangka panjang tidak bisa diputuskan sekali saja, melainkan perlu peninjauan ulang secara rutin.

Risiko Jangka Panjang

Dalam pemakaian jangka panjang, pil KB dapat menimbulkan efek samping ringan hingga risiko komplikasi yang lebih serius. Efek yang umum terjadi antara lain mual, nyeri payudara, perubahan suasana hati, dan bercak darah tidak teratur, terutama pada bulan-bulan awal penggunaan.

Selain itu, ada pula risiko yang lebih serius, seperti pembekuan darah, stroke, serangan jantung, dan beberapa jenis kanker. Risiko ini terutama berkaitan dengan pil yang mengandung estrogen, terlebih pada orang yang memiliki faktor risiko tambahan.

Salah satu risiko yang paling sering dibahas adalah tromboembolisme vena, yakni pembekuan darah di kaki atau paru-paru. Kandungan estrogen dapat meningkatkan kecenderungan darah untuk membeku, sehingga risiko pembekuan darah menjadi sedikit lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak menggunakan pil KB. Meski begitu, pada orang muda yang sehat dan tidak merokok, risiko absolutnya tetap relatif rendah.

Risiko pembekuan darah menjadi lebih tinggi pada perokok, orang berusia di atas 35 tahun, mereka yang mengalami obesitas, memiliki gangguan pembekuan darah bawaan, atau mengalami imobilitas berkepanjangan. Dalam kondisi tersebut, metode kontrasepsi lain mungkin lebih aman untuk dipertimbangkan.

Soal risiko kanker, pengaruh pil KB bersifat kompleks. Sejumlah penelitian mengaitkan penggunaan pil KB kombinasi saat ini atau yang baru-baru ini digunakan dengan peningkatan kecil dan sementara pada risiko kanker payudara dan kanker serviks.

Di sisi lain, penggunaan pil KB jangka panjang juga diketahui dapat menurunkan risiko kanker ovarium dan kanker endometrium. Perlindungan ini bahkan dapat bertahan selama bertahun-tahun setelah penggunaan dihentikan. Selain itu, pil KB juga disebut mungkin sedikit menurunkan risiko kanker kolorektal.

Penggunaan pil KB dalam jangka panjang juga dapat berkaitan dengan masalah kesehatan lain, seperti tekanan darah tinggi, memburuknya migrain terutama yang disertai aura, perubahan kolesterol, dan gangguan hati yang jarang terjadi. Sebagian pengguna juga melaporkan perubahan suasana hati, perubahan libido, atau fluktuasi berat badan, meski hasil penelitian mengenai hal ini bisa berbeda-beda.

Karena respons tubuh terhadap hormon tidak sama pada setiap orang, efek samping yang menetap atau terasa berat sebaiknya menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Dalam beberapa kasus, perubahan formulasi pil atau pergantian metode kontrasepsi dapat menjadi pilihan.

Apakah Pil KB Pengaruhi Kesuburan?

Meski kerap dikhawatirkan, penggunaan pil KB jangka panjang tidak menyebabkan gangguan kesuburan secara permanen. Sebagian besar orang akan kembali berovulasi dalam beberapa minggu hingga beberapa bulan setelah berhenti menggunakan pil KB. Banyak pula yang bisa hamil dalam waktu satu tahun, selama tidak ada masalah kesuburan lain.

Ketidakteraturan siklus haid memang bisa terjadi sementara setelah penggunaan pil KB jangka panjang dihentikan. Namun, jika menstruasi atau kehamilan tidak juga terjadi setelah beberapa bulan, pemeriksaan lebih lanjut disarankan untuk mencari kemungkinan penyebab lain yang tidak berkaitan dengan penggunaan pil sebelumnya.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kesehatan Terbaru