Loading
Ilustrasi Tabel yang menunjukan kadar kolesterol ANTARAFreepikam
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kolesterol tinggi masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan global. Setiap tahunnya, kondisi ini dikaitkan dengan sekitar 4,4 juta kematian di seluruh dunia. Sayangnya, banyak orang justru keliru dalam menerapkan pola diet saat didiagnosis kolesterol tinggi.
Mengutip laporan Hindustan Times, Rabu (4/2/2026), dokter Sermed Mezher menjelaskan bahwa diagnosis kolesterol tinggi sering memicu kepanikan. Tak sedikit orang langsung menerapkan diet sangat ketat atau bahkan menghindari semua jenis lemak.
“Respons ini muncul karena keinginan membersihkan arteri secepat mungkin. Namun, pembatasan kalori yang terlalu drastis justru bisa menjadi bumerang,” kata Dr. Sermed Mezher.
Ia menjelaskan, ketika tubuh berada dalam kondisi seperti setengah kelaparan, organ hati justru dapat meningkatkan produksi kolesterol.“Dalam situasi krisis, hati akan memproduksi lebih banyak kolesterol untuk menjaga fungsi membran sel dan sintesis hormon,” ujarnya.
Padahal, kolesterol tetap dibutuhkan tubuh untuk memproduksi hormon, vitamin D, serta zat penting yang membantu proses pencernaan. Diet ekstrem dalam jangka panjang bahkan bisa menurunkan metabolisme basal dan memicu efek rebound, di mana kadar kolesterol justru menjadi lebih buruk dari sebelumnya.
Baca juga:
Ini Kunci agar Diet Anda SuksesSebagai gantinya, Dr. Mezher merekomendasikan pendekatan yang lebih realistis dan berkelanjutan. Langkah pertama adalah mengurangi konsumsi lemak trans yang banyak ditemukan pada margarin, gorengan, biskuit, dan kue kering.
“Periksa label makanan. Jika tertulis minyak nabati terhidrogenasi atau sebagian terhidrogenasi, itu pertanda adanya lemak trans yang bisa menaikkan kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kolesterol baik (HDL),” jelasnya.
Langkah berikutnya adalah meningkatkan asupan ikan berlemak atau sumber omega-3 alami dari ikan segar. Asam lemak ini terbukti membantu meningkatkan HDL sekaligus mengendalikan kadar trigliserida.
Terakhir, ia menekankan pentingnya asupan serat, yang masih kurang pada sebagian besar orang dewasa.“Target idealnya sekitar 30 gram serat per hari, tetapi ini jarang tercapai,” ungkap Mezher.
Serat berperan mengikat asam empedu yang kaya kolesterol di dalam usus sehingga dikeluarkan dari tubuh, bukan diserap kembali. Proses ini dapat membantu menurunkan kadar LDL secara signifikan dan mengurangi risiko jangka panjang seperti penyakit jantung dan stroke.