Loading
Arsip Presiden Iran Masoud Pezeshkian. ANTARA/Anadolu/py
TEHERAN, ARAHKITA.COM – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tetap berkomitmen pada jalur diplomasi untuk mengakhiri konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah. Namun, di saat yang sama, Teheran juga menegaskan tidak akan mengabaikan aspek pertahanan dan kesiapan militernya.
Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian melalui akun resminya di platform X setelah militer Iran mengumumkan penghentian operasi serangan terhadap Israel.
Menurut Pezeshkian, diplomasi dan kekuatan pertahanan harus berjalan beriringan dalam menjaga kepentingan nasional Iran.
“Kami dengan tegas membela hak-hak rakyat dan tidak akan mundur di hadapan ancaman apa pun. Diplomasi dan pertahanan adalah dua sayap kekuatan nasional. Kami tidak meninggalkan medan perang maupun meja perundingan,” tulisnya.
Pernyataan itu muncul setelah ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir. Kedua negara dilaporkan saling melancarkan serangan pada Minggu dan Senin waktu setempat.
Eskalasi terbaru dipicu oleh serangan Israel ke wilayah pinggiran ibu kota Lebanon yang menjadi lokasi sejumlah fasilitas milik Hizbullah, kelompok yang selama ini mendapat dukungan dari Iran. Menanggapi perkembangan tersebut, Teheran sebelumnya memperingatkan kemungkinan intervensi dan kemudian mengklaim telah melakukan serangan balasan terhadap Israel sebelum akhirnya menghentikan operasinya.
Situasi yang kembali memanas tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai masa depan proses diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat yang tengah berupaya mencari jalan keluar atas konflik regional.
Meski demikian, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa komunikasi dan negosiasi dengan Amerika Serikat masih terus berlangsung. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup.
Konflik terbaru bermula pada akhir Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk wilayah Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur serta korban sipil dikutip Antara.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan kemudian mereda setelah Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata pada 7 April. Kedua pihak selanjutnya melanjutkan pembicaraan diplomatik di Islamabad. Namun, perundingan tersebut berakhir tanpa menghasilkan kesepakatan konkret.
Hingga kini, komunitas internasional masih menaruh harapan pada jalur negosiasi untuk mencegah konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah, terutama di tengah meningkatnya risiko ketidakstabilan regional yang dapat berdampak pada keamanan dan perekonomian global.