Loading
Direktur Jenderal Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) Francesco La Camera menyampaikan pernyataan dalam Sidang Majelis Umum ke-16 IRENA di Abu Dhabi, UAE, Minggu (11/1/2026). (ANTARA/HO-IRENA Assembly)
ABU DHABI, ARAHKITA.COM – Rencana Amerika Serikat untuk menarik diri dari keanggotaan Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) dipastikan tidak akan menggoyahkan dukungan lembaga tersebut terhadap transisi energi di Asia Tenggara dan negara-negara berkembang lainnya.
Direktur Jenderal IRENA, Francesco La Camera, menegaskan bahwa langkah politik satu negara tidak serta-merta mengubah arah kerja organisasi yang telah dibangun bersama puluhan negara anggota.
Pernyataan itu ia sampaikan dalam media roundtable di sela Sidang Majelis Umum ke-16 IRENA, rangkaian dari Abu Dhabi Sustainability Week (ADSW) 2026 di Abu Dhabi, Minggu (12/1/2026).
AS Masih Anggota Penuh, Proses Belum Final
La Camera menekankan, sampai saat ini belum ada keputusan resmi yang diterima IRENA terkait penarikan diri Amerika Serikat. Menurutnya, yang beredar baru sebatas memorandum presiden.
Baca juga:
Danantara Siapkan 33 Proyek Waste to Energy, Dorong Indonesia Capai Net Zero Emission 2060Artinya, proses keluar belum benar-benar berjalan secara formal. Selama dokumen resmi belum diserahkan, Amerika Serikat masih tercatat sebagai anggota penuh, lengkap dengan hak dan kewajiban, termasuk kewajiban pembayaran kontribusi.
“Kami tidak melihat dampak pada kawasan tertentu,” kata La Camera saat menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan efek langsung terhadap Asia Tenggara dikutip Antara.
Antisipasi Celah Anggaran: IRENA Cari Sumber Alternatif
Meski menilai dampaknya tidak langsung, IRENA tidak menutup mata terhadap kemungkinan adanya celah pendanaan bila AS benar-benar mengakhiri keanggotaannya.La Camera menyebut, IRENA mulai menyiapkan berbagai opsi—mulai dari membuka kerja sama dengan beragam entitas lain, hingga mencari sumber pendanaan alternatif agar program-program transisi energi tetap berjalan.
Jika gap pendanaan belum dapat ditutup, Dewan IRENA akan mempertimbangkan penyesuaian atau revisi anggaran lembaga.
ASEAN Tetap Jadi Prioritas karena Permintaan Energi Naik Cepat
Yang paling ia garis bawahi: fokus IRENA ke negara berkembang tidak berubah, termasuk kawasan Afrika dan Asia Tenggara. Alasannya jelas: dua kawasan ini termasuk yang paling cepat mengalami pertumbuhan permintaan energi—namun di saat yang sama masih memiliki ketergantungan tinggi pada energi fosil.
La Camera mengingatkan, bila negara-negara dengan lonjakan kebutuhan energi tidak didorong untuk mempercepat energi terbarukan, maka target global pengurangan emisi akan semakin sulit dicapai.
Ia juga menyinggung bahwa kegagalan mengendalikan pertumbuhan emisi di kawasan-kawasan tersebut bisa memperburuk peluang dunia memenuhi target Perjanjian Paris.
IRENA Sesalkan, tapi Tetap Lanjut Bekerja
La Camera mengakui, rencana mundurnya AS tetap disayangkan, mengingat posisi negara tersebut sebagai kekuatan besar sekaligus mitra penting dalam kerja sama energi global.
Namun, ia menegaskan IRENA akan tetap bergerak. Baginya, perubahan arah politik di sebuah negara tidak boleh menghentikan agenda transisi energi yang semakin mendesak.
Latar Belakang: Trump Ingin Keluar dari 66 Organisasi Internasional
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan rencana menarik AS dari 66 organisasi PBB dan lembaga internasional, termasuk sejumlah kerja sama terkait isu iklim, energi, kemanusiaan, perdamaian, hingga demokrasi. Kebijakan itu tertuang dalam memorandum presiden yang dirilis Gedung Putih pada 7 Januari 2026