ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Update News

Air Power Corner

Andaikan Indonesia Berhasil Ambil Alih Pengendalian FIR Singapura

Kamis , 04 Oktober 2018 | 20:44
Andaikan Indonesia Berhasil Ambil Alih Pengendalian FIR Singapura
Ilustrasi: FIR Singapura (Net)

Oleh: DR Koesnadi Kardi, M.Sc, RCDS

KITA berharap pada kepemimpinan Presiden Jokowi, Indonesia berhasil mengambil-alih pengendalian FIR Singapura atas Kepulauan Riau, Batam, dan Natuna. Sudah kurang lebih 73 Indonesia merdeka, dan tepatnya sudah 72 tahun wilayah kedaulatan kita diatur oleh negara lain, sehingga membawa dampak kerugian dalam bidang Keamanan Nasional (karena merugikan baik dalam bidang ekonomi, bidang pertahanan, dan harga diri suatu bangsa yang telah berdaulat).

Kepemimpinan Presiden Jokowi telah terbukti mampu mengembalikan saham 51 % untuk Freeport, suatu usaha yang tidak hanya berani namun menghadapi rersiko yang sangat besar, karena yang dihadapi adalah negara Amerika Serikat.

Nah, masalah FIR Singapore yang dihadapi adalah negara kecil, masa membiarkan mengatur wilyah kita yang berdaulat. Kita tidak boleh gamang, termasuk para Menteri yang menangani masalah tersebut. Pada tahun 1946, 72 tahun yang silam, wilayah Kepulaun Riau, Bata, dan Natuna dikendalikan oleh FIR Singapore (yang sa’at itu masih dikuasai Inggris, karena Indonesia masih dianggap belum mampu menjamin keamanan dan keselamatan terbang).

Bayangkan saja, Indonesia baru saja merdeka tahun 1945 dan masih penuh perjuangann dan pengorbanan.dalam mengisi kemerdekaan.

Kurang lebih dua tahun yang lalu, tepatnya tanggal 25 Nopember 2015, Presiden Jokowi telah memberikan instruksi untuk merebut kembali pengontrolan wilayah udara dari FIR Singapore. Karena situasi tersebut sangat merugikan Indonesia, ditinjau dari aspek Keamanan Nasional.

Dari aspek ekonomi, wilayah tersebut memberikan masukan sekitar 600 milyar dollar AS per-tahun (hanya di wilayah blok A, belum termasuk blok B dan blok C). Dari aspek pertahanan, wilayah tersebut untuk latihan Singapore, Inggris, Australia, New Zealand, dan Malaysia yang tergabung dalam FPDA (Five Power Defence Arrangement).

Belum lagi peran pesawat AWACS, khususnya untuk mencari data-data intelijen. Yang paling parah adalah harga diri bangsa, terasa dinjak-injak karena kalau kita akan terbang di wilayah kita sendiri harus minta ijin kepada Singapore. Dengan berbagai alasan, hal seperti ini tidak bisa diterima akal sehat.

Kita memerlukan keberanian dengan pemimpin yang berkharakter kuat untuk membebaskan ini semua. Hayo .... kobarkan semangat 45 sehingga negara Indonesia bisa berdaulat secara penuh. Selamat Berjuang !!!

Editor : Patricia Aurelia
KOMENTAR