ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | ARAH DESA | SCHOLAE

Update News

Herbal Medicine

Tentang Curcumin feat COVID-19 yang Jadi Polemik

Rabu , 18 Maret 2020 | 21:00
Tentang Curcumin feat COVID-19 yang Jadi Polemik
Curcumin berbeda dengan kunyit. Curcumin adalah salah satu senyawa aktif kunyit dan temulawak yang diekstrak tunggal diujicobakan ke tikus. (Foto: Herbal Medicine Class)
POPULER
12 Bandara Indonesia Terapkan Layanan Pelanggan Virtual

Diasuh oleh: dr. Prapti Utami, M.Si

DUA hari ini trending topik COVID-19 ditebengi jamu yang disebut malah meningkatkan reseptor COVID-19. Banyak yang bingung, kecewa, bahkan tidak minum karena dianggap berbahaya.

Mengutip arahan dari Dr. Taufikurrahman, Dosen Biologi ITB agar jangan konsumsi/minum kunyit dan temulawak karena mengandung curcumin. Beberapa penelitian dari jurnal ilmiah telah membuktikan bahwa curcumin meningkatkan ekspresi enzim ACE2 (Angiotensin-converting-enzyme2) yang merupakan receptor Covid19, sehingga membuat tubuh lebih mudah menerima Covid19. Contoh referensi: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4651552/

Begitu pula masukan dari Prof. Daryono, Dekan Sekolah Farmasi ITB tentang teori ini bahwa dari literatur yang mereka baca, curcumin dapat meningkatkan ekspresi ACE2 receptor. Begitu juga dari correspondence yang dikeluarkan The Lancet, disebutkan bahwa coronavirus berikatan dengan targetnya dibantu oleh ACE2 receptor.

"Human pathogenic coronaviruses (severe acute respiratory syndrome coronavirus [SARS-CoV] and SARSCoV-2) bind to their target cells through angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2), which is expressed by epithelial cells of the lung, intestine, kidney, and blood vessels."

Data tersebut diambil dari jurnal ini: https://jvi.asm.org/content/early/2020/01/23/JVI.00127-20

Sehingga sebagai kesimpulan, untuk sementara kunyit dan temulawak justru dihindari khusus untuk tipe virus ini.

Terhadap arahan tersebut, Founder Herbal Medicine Class, dr. Prapti Utami, M.Si mengulasnya dalam kolom yang diasuhnya soal Curcumin feat Covid-19 sebagai berikut:

1. Curcumin berbeda dengan kunyit. Curcumin adalah salah satu senyawa aktif kunyit dan temulawak yang diekstrak tunggal diujicobakan ke tikus. Sedang jamu dalam hal ini dalam bentuk utuh kunyit dan temulawak, memiliki ratusan senyawa aktif. Jadi curcumin tidak bisa di bandingkan dengan jamu.
Beda obyek. Bisa dipahami ya...

2. Curcumin meningkatkan reseptor justru secara imunologis bagus, karena sebuah antigen (kimia, virus, bakteri dsb) hanya bisa diproses kalau reseptornya banyak. Jadi kalau curcumin meningkatkan reseptor ACE berarti virus coronanya lebih mudah diproses. Studi-studi faktor risiko kematian karena covid justru adalah penggunaan obat anti hipertensi golongan penghambat ACE.

Walaupun bisa jadi karena pasiennya hipertensi jadi dia pakai obat antihypertensive golongan penghambat ACE. Kerusakan organ karena Covid 19 karena inflamasi yg tdk terkontrol sedangkan curcumin dan sumber alamnya spt kunyit dan temulawak memiliki kekuatan antiinflamasi (Dr. Stevent Sumantri, DAA, SpPD Divisi Publikasi Ilmiah Marisza Cardoba Foundation).

3. Ketika Corona Virus masuk tubuh akan dikenali dan segera disimpan datanya dan disimpan di sel memory utk selanjutnya tubuh membentuk antibody selama 7 hari, logikanya jika semakin dikenal semakin cepat tubuh membentuk antibody. Lebih bagus, bukan?

Selalu ingat Corona Virus TIDAK ADA OBATNYA, DIA AKAN HILANG SENDIRI KARENA DAYA TAHAN TUBUH KITA YANG KUAT.

Maka minum rempah-rempah bukan menangkal, tapi lebih kepada membereskan peradangan untuk kemudian meningkatkan daya tahan tubuh supaya saat virus datang kita sedang punya kekuatan antibodi. Ingat juga keseimbangan kehidupan yang lain, tidur cukup, makan bergizi dan seimbang, kelola stress ini yang memperparah daya tahan tubuh karena kortisol yang meningkat akan menghambat suplai oksigen ke seluruh sel tubuh kita.

Demikian semoga bisa membantu.

 

Salam Sehat,

WA: 08788 2000 782
IG: Herbal Medicine Class
Youtube: Herbal Medicine Class

Editor : Farida Denura
KOMENTAR