Warga mengamati informasi pergerakan nilai saham secara daring di Denpasar, Bali, Kamis (18/6/2026). ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
DENPASAR, ARAHKITA.COM – Minat masyarakat Bali untuk berinvestasi di pasar modal terus menunjukkan tren positif. Di tengah berbagai tantangan ekonomi global dan ketidakpastian akibat dinamika geopolitik dunia, kepercayaan investor terhadap saham justru semakin menguat.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai kepemilikan saham di Provinsi Bali mencapai Rp7,95 triliun pada triwulan I 2026. Angka tersebut melonjak 48,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp5,35 triliun.
Kepala OJK Bali, Parjiman, mengatakan pertumbuhan ini menjadi sinyal bahwa masyarakat masih melihat pasar modal sebagai instrumen investasi yang menjanjikan.
"Realisasi itu tumbuh signifikan yakni 48,40 persen dibandingkan periode sama 2025 sebesar Rp5,35 triliun," ujar Parjiman di Denpasar, Kamis (18/6/2026).
Menurutnya, peningkatan nilai kepemilikan saham tersebut mencerminkan optimisme investor Bali yang tetap terjaga meskipun perekonomian global masih dibayangi berbagai risiko.
Baca juga:
BI Gaungkan ‘Run From Scam;, Masyarakat Diminta Waspada Tautan Palsu dan Aplikasi APK BerbahayaJumlah Investor Terus Bertambah
Tak hanya nilai investasinya yang meningkat, jumlah investor saham di Bali juga mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi.
Berdasarkan data per Maret 2026, jumlah investor saham yang tercatat melalui Single Investor Identification (SID) mencapai 392.841 SID. Angka ini naik hampir 30 persen dibandingkan Maret 2025 yang tercatat sekitar 302 ribu SID.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin banyak masyarakat yang mulai melirik investasi sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.
Investor Saham Tumbuh Paling Tinggi
OJK juga mencatat kenaikan pada seluruh kategori investor, baik saham, reksa dana maupun Surat Berharga Negara (SBN).
Dari keseluruhan investor pasar modal di Bali, investor reksa dana masih mendominasi dengan jumlah 369.562 investor. Sementara itu, investor saham mencapai 199.394 investor, dan investor SBN sebanyak 34.085 investor.
Menariknya, investor saham menjadi kelompok yang mengalami pertumbuhan paling tinggi.
"Investor saham tumbuh paling tinggi, yakni 31,97 persen," kata Parjiman.
Kondisi ini menunjukkan semakin meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap instrumen investasi yang memiliki potensi imbal hasil lebih tinggi dibandingkan produk keuangan konvensional.
Literasi dan Inklusi Pasar Modal Masih Menjadi Tantangan
Meski tren investasi terus meningkat, OJK menilai pekerjaan rumah di sektor literasi dan inklusi pasar modal masih cukup besar.
Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi pasar modal tercatat sebesar 17,78 persen, sementara indeks inklusinya baru mencapai 1,34 persen.
Angka tersebut masih jauh di bawah capaian literasi dan inklusi keuangan nasional secara umum yang masing-masing mencapai 66,46 persen dan 80,51 persen.
Meskipun demikian, capaian tersebut menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, indeks literasi keuangan nasional tercatat sebesar 65,43 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan berada di angka 75,02 persen.
OJK Perkuat Edukasi Keuangan di Bali
Untuk mendorong pertumbuhan pasar modal yang lebih inklusif, OJK Bali terus memperluas program edukasi dan literasi keuangan kepada masyarakat.Berbagai strategi dilakukan mulai dari edukasi tatap muka, seminar dan pelatihan daring, penguatan aliansi strategis dengan berbagai pihak, hingga penyelenggaraan program edukasi tematik yang menyasar kelompok masyarakat tertentu.
Langkah tersebut menjadi bagian dari implementasi Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia, sekaligus upaya mempersempit kesenjangan antara tingkat literasi dan inklusi keuangan di Bali dikutip Antara.
Dengan meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap investasi dan pengelolaan keuangan, OJK berharap semakin banyak warga Bali yang dapat memanfaatkan pasar modal sebagai sarana membangun kesejahteraan finansial secara berkelanjutan.