Gubernur BI Pastikan Cadangan Devisa Indonesia Masih Kuat, Mampu Redam Tekanan Rupiah


 Gubernur BI Pastikan Cadangan Devisa Indonesia Masih Kuat, Mampu Redam Tekanan Rupiah Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Di tengah dinamika pasar keuangan global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, Bank Indonesia (BI) memastikan kondisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang kuat dan memadai.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kemampuan Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Menurutnya, cadangan devisa yang dimiliki saat ini masih jauh di atas batas aman yang direkomendasikan secara internasional.

“Jadi jangan khawatir, jumlah cadangan devisa lebih dari cukup,” ujar Perry Warjiyo saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Perry menjelaskan, kecukupan cadangan devisa Indonesia diukur menggunakan standar internasional yang diterbitkan Dana Moneter Internasional atau IMF melalui indikator reserve adequacy. Indikator tersebut digunakan untuk menghitung kemampuan suatu negara menghadapi tekanan ekonomi eksternal, termasuk gejolak nilai tukar.

Berdasarkan perhitungan tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia saat ini masih berada di atas 115 persen dari kebutuhan yang direkomendasikan. Selain itu, nilainya juga setara dengan pembiayaan sekitar enam bulan impor.

“Masih lebih dari cukup. Di samping setara sekitar enam bulan impor,” kata Perry.

Cadangan Devisa Turun dalam Lima Bulan Terakhir

Meski dinilai masih kuat, data menunjukkan cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir.

Sejak akhir Desember 2025 hingga Mei 2026, cadangan devisa menyusut sekitar 11,6 miliar dolar Amerika Serikat atau turun sekitar 7,4 persen. Jika pada akhir Desember 2025 nilainya mencapai 156,5 miliar dolar AS, maka pada akhir Mei 2026 tercatat sebesar 144,9 miliar dolar AS.

Bank Indonesia menjelaskan penurunan tersebut antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Meski demikian, penurunan cadangan devisa sebenarnya berhasil ditahan oleh masuknya tambahan devisa dari penerbitan global bond pemerintah, penerimaan pajak, serta berbagai transaksi jasa.

BI menilai posisi cadangan devisa saat ini tetap berada pada tingkat yang aman karena mampu membiayai sekitar 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut juga masih jauh di atas standar kecukupan internasional yang umumnya berada pada level tiga bulan impor.

BI Kembali Naikkan Suku Bunga Acuan

Selain menjaga stabilitas melalui cadangan devisa, Bank Indonesia juga melanjutkan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan yang digelar Selasa, BI memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

Sebelumnya, pada RDG Bulanan 19–20 Mei 2026, BI juga telah menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin. Langkah tersebut menjadi penyesuaian pertama setelah suku bunga acuan bertahan di level 4,75 persen sejak September 2025 dikutip Antara.

Sepanjang tahun 2025, Bank Indonesia sebenarnya sempat melakukan pelonggaran kebijakan moneter dengan memangkas suku bunga sebanyak lima kali atau total 125 basis poin. Namun perubahan kondisi global dan tekanan terhadap nilai tukar mendorong BI kembali mengambil langkah pengetatan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan inflasi.

Pasar kini menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada 17–18 Juni 2026. Keputusan BI nantinya akan menjadi salah satu indikator penting bagi arah kebijakan moneter Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru