Pengunjung melintas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jakarta, Jumat (10/4/2026). ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona hijau pada perdagangan Senin (25/5/2026). Penguatan pasar saham Indonesia terjadi seiring membaiknya sentimen global, terutama dari harapan tercapainya kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Pada penutupan perdagangan sore, IHSG menguat 44,30 poin atau naik 0,72 persen ke level 6.206,35. Sementara indeks saham unggulan LQ45 juga melonjak 10,77 poin atau 1,74 persen menjadi 631,21.
Penguatan ini sejalan dengan pergerakan mayoritas bursa saham Asia yang turut menghijau sepanjang perdagangan.
Baca juga:
IHSG Melesat 1,59 Persen, Pasar Sambut Positif Target Fiskal dan Pertumbuhan Ekonomi 2027Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus atau Nico, mengatakan pasar regional Asia mendapat dorongan positif dari membaiknya risiko geopolitik global.
“Bursa regional Asia bergerak menguat, ada sentimen membaiknya risiko global seiring harapan akan kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran,” ujarnya dalam kajian di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Baca juga:
IHSG Melesat 1,59 Persen, Pasar Sambut Positif Target Fiskal dan Pertumbuhan Ekonomi 2027Kabar mengenai peluang tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran menjadi perhatian utama investor global. Sejumlah pejabat senior AS disebut mengindikasikan bahwa kedua negara semakin dekat menuju kesepakatan yang dapat membuka kembali Selat Hormuz, jalur penting perdagangan minyak dunia.
Meski keputusan final belum tercapai, sinyal positif tersebut sudah cukup memberi optimisme kepada pelaku pasar. Investor berharap pembukaan kembali Selat Hormuz dapat memulihkan distribusi minyak global dan membantu menjaga stabilitas ekonomi dunia.
Di sisi lain, pasar domestik masih dibayangi sejumlah sentimen negatif. Salah satunya berasal dari tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan laporan terbaru Bank Indonesia terkait Neraca Pembayaran Indonesia (NPI).
Bank Indonesia mencatat NPI mengalami defisit sebesar 9,15 miliar dolar AS pada kuartal I-2026. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap ketahanan eksternal ekonomi Indonesia dan mendorong peningkatan permintaan terhadap dolar AS.
Meski begitu, sentimen positif dari global tampaknya masih lebih dominan sehingga mampu menjaga IHSG tetap bergerak di zona hijau sejak awal perdagangan hingga penutupan sesi kedua.
Sektor Transportasi Pimpin Penguatan
Berdasarkan data Indeks Sektoral IDX-IC, sebanyak tujuh sektor ditutup menguat. Sektor transportasi dan logistik menjadi pemimpin kenaikan dengan lonjakan sebesar 4,20 persen.
Selain itu, sektor properti naik 1,23 persen, sedangkan sektor keuangan menguat 1,14 persen
Namun, tidak semua sektor mengalami penguatan. Sektor energi justru mencatat pelemahan terdalam sebesar 1,94 persen. Disusul sektor barang baku yang turun 1,23 persen serta sektor kesehatan yang melemah 0,70 persen.
Beberapa saham yang mencatat kenaikan tertinggi antara lain GRIA, LAJU, TALF, RONY, dan BBHI. Sedangkan saham dengan pelemahan terbesar diisi oleh DFAM, LCKM, ASPR, DAAZ, dan AREA.
Aktivitas perdagangan saham juga terbilang ramai. Frekuensi transaksi tercatat mencapai 2 juta kali lebih dengan volume perdagangan sebanyak 27,66 miliar lembar saham senilai Rp16,95 triliun dikutip Antara.
Secara keseluruhan, sebanyak 470 saham menguat, 236 saham melemah, dan 114 saham stagnan.
Bursa Asia Kompak Menghijau
Penguatan IHSG juga sejalan dengan tren positif di kawasan Asia. Indeks Nikkei melonjak 3,04 persen, Shanghai Composite naik 0,96 persen, Hang Seng menguat 0,86 persen, sementara Straits Times turut naik tipis 0,05 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar regional tengah merespons positif perkembangan geopolitik global, khususnya terkait potensi meredanya ketegangan di Timur Tengah.