Pemerintah Tambah SAL Rp100 Triliun, Likuiditas Aman tapi Konsumsi Belum Tentu Naik


 Pemerintah Tambah SAL Rp100 Triliun, Likuiditas Aman tapi Konsumsi Belum Tentu Naik Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendi Manilet. (Foto : Istimewa).

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah menambah penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp100 triliun ke perbankan. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, terutama menjelang momen Lebaran ketika aktivitas ekonomi meningkat.

Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menyebut kebijakan ini relevan untuk memastikan likuiditas tetap longgar di tengah lonjakan kebutuhan dana masyarakat.

Menurutnya, injeksi dana ini berfungsi sebagai “penyangga” agar sistem keuangan tetap stabil. Apalagi, menjelang Lebaran biasanya terjadi peningkatan transaksi dan kebutuhan uang tunai.

“Langkah ini cukup tepat untuk memastikan tidak ada tekanan likuiditas dan transaksi tetap berjalan lancar,” jelas Yusuf.

Efeknya ke Konsumsi Tidak Langsung

Meski begitu, Yusuf mengingatkan bahwa tambahan dana SAL ini tidak otomatis mendorong konsumsi masyarakat.

Hal ini karena dana tersebut ditempatkan melalui perbankan. Artinya, penyalurannya sangat bergantung pada strategi bank dalam mengelola dana.

Dalam praktiknya, bank cenderung menempatkan dana ke instrumen yang lebih aman seperti Surat Berharga Negara (SBN), dibanding langsung menyalurkannya sebagai kredit konsumsi atau usaha.

Akibatnya, dampak ke daya beli masyarakat bersifat tidak langsung.

Tambahan likuiditas ini lebih berperan menjaga:

  • stabilitas sistem keuangan
  • suku bunga tetap terkendali
  • kepercayaan pasar tetap terjaga

Namun, untuk mendorong konsumsi rumah tangga, faktor lain tetap lebih dominan.

Apa yang Lebih Efektif Dorong Konsumsi?

Yusuf menegaskan bahwa konsumsi masyarakat lebih dipengaruhi oleh:

  • tingkat pendapatan
  • bantuan sosial (bansos)
  • belanja pemerintah yang langsung menyentuh masyarakat

Dengan kata lain, kebijakan SAL Rp100 triliun ini lebih kuat sebagai instrumen stabilisasi, bukan stimulus langsung untuk meningkatkan belanja masyarakat.

“Kalau tujuannya mendorong permintaan, kebijakan seperti bansos atau insentif konsumsi biasanya jauh lebih efektif karena dampaknya langsung terasa,” ujarnya dikutip Antara.

Total SAL di Perbankan Tembus Rp300 Triliun

Sebelumnya, pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan penambahan dana SAL Rp100 triliun ke perbankan.

Kebijakan ini dilakukan sekitar sepekan sebelum Lebaran untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan likuiditas.

Dengan tambahan tersebut, total dana SAL yang ditempatkan di perbankan kini mencapai sekitar Rp300 triliun.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru