Loading
Ilustrasi Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung. (Net)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah berhasil menguat pada penutupan perdagangan Selasa (10/3/2026), didorong oleh meredanya kekhawatiran pasar global setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut konflik dengan Iran mendekati penyelesaian.
Berdasarkan data perdagangan di Jakarta, rupiah menguat 86 poin atau 0,51 persen menjadi Rp16.863 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.949 per dolar AS.
Analis Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan pernyataan Trump memberi sentimen positif bagi pasar keuangan global, termasuk bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Menurutnya, pernyataan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran kemungkinan akan segera berakhir membantu meredakan kecemasan investor terhadap risiko konflik berkepanjangan.
Pasar sebelumnya khawatir perang tersebut bisa mengganggu pasokan energi global dan menekan prospek pertumbuhan ekonomi dunia,” ujarnya.
Meski demikian, Trump menegaskan bahwa konflik tersebut belum akan berakhir dalam waktu dekat, walaupun ia optimistis penyelesaiannya tidak akan berlangsung lama.
Pernyataan itu muncul setelah Iran menunjuk Ayatullah Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru menggantikan ayahnya, Ayatullah Ali Khamenei, yang dilaporkan gugur dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Naiknya Mojtaba Khamenei ke pucuk kepemimpinan Iran memicu perhatian dunia internasional. Ia dikenal memiliki kedekatan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), sehingga sejumlah negara khawatir konflik yang kini memasuki pekan kedua dapat memperbesar ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan tersebut dinilai memiliki dampak langsung terhadap stabilitas ekonomi global, terutama terkait harga energi dan arus modal di pasar keuangan.
Faktor Dolar AS dan Kebijakan The Fed
Selain faktor geopolitik, penguatan rupiah juga dipengaruhi oleh koreksi indeks dolar AS, yang memberikan ruang bagi mata uang lain untuk bergerak lebih stabil.
Namun pasar masih mencermati arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) terkait suku bunga.
Data ekonomi Amerika Serikat yang masih relatif kuat—terutama inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja—membuat kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lebih lama tetap terbuka. Jika hal tersebut terjadi, dolar AS berpotensi kembali menguat.
Investor kini menunggu rilis data inflasi AS, yang diperkirakan akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat.
Harga Minyak Masih Jadi Risiko
Di sisi lain, faktor domestik juga ikut memengaruhi pergerakan rupiah. Salah satunya adalah kenaikan harga minyak dunia yang dipicu potensi gangguan pasokan energi akibat konflik geopolitik.
Kondisi ini dapat meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
“Lonjakan harga energi dapat meningkatkan beban subsidi pemerintah serta memicu tekanan inflasi domestik,” kata Amru dikutip Antara.
Jika konflik geopolitik berlangsung dalam jangka panjang, volatilitas pasar keuangan global juga diperkirakan meningkat. Hal ini berpotensi memicu arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, yang pada akhirnya dapat menekan nilai tukar rupiah.
Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia pada hari yang sama juga menunjukkan penguatan rupiah, yakni di level Rp16.879 per dolar AS, dari sebelumnya Rp16.974 per dolar AS.