Ekonomi Singapura Gaspol, Target Pertumbuhan 2026 Direvisi Naik


 Ekonomi Singapura Gaspol, Target Pertumbuhan 2026 Direvisi Naik Ekonomi Singapura Gaspol, Target Pertumbuhan 2026 Direvisi Naik. (Pixabay)

SINGAPURA, ARAHKITA.COM - Pemerintah Singapura merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2026 menjadi 2 persen hingga 4 persen, menyusul kinerja ekonomi yang solid sepanjang 2025. Produk domestik bruto Singapura tercatat tumbuh 5 persen pada tahun lalu, melampaui perkiraan awal Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI).

Angka tersebut, dilansir CNA, sedikit lebih rendah dibanding pertumbuhan 5,3 persen pada 2024, namun tetap menunjukkan ketahanan ekonomi di tengah tekanan global. Pada kuartal keempat 2025, ekonomi Singapura tumbuh 6,9 persen secara tahunan, meningkat tajam dari 4,6 persen pada kuartal sebelumnya. Secara kuartalan, pertumbuhan tercatat 2,1 persen setelah disesuaikan musiman.

MTI menjelaskan bahwa proyeksi sebelumnya yang dirilis pada November 2025 dibuat dengan asumsi perlambatan ekonomi global akibat dampak tarif Amerika Serikat. Namun, realisasinya menunjukkan sejumlah ekonomi utama tumbuh lebih kuat dari perkiraan, sementara perdagangan global tetap tangguh.

Ketahanan tersebut, menurut MTI, dipengaruhi oleh tarif efektif AS yang lebih rendah dari pengumuman awal, penyesuaian rantai pasok global, serta lonjakan permintaan ekspor terkait kecerdasan buatan di tengah pesatnya investasi AI.

Pertumbuhan ekonomi Singapura pada 2025 terutama ditopang oleh sektor manufaktur, perdagangan grosir, serta jasa keuangan dan asuransi. Klaster elektronik mencatat pertumbuhan signifikan seiring tingginya permintaan produk semikonduktor dan perangkat elektronik terkait AI. Sektor keuangan dan asuransi juga mencatat pertumbuhan merata, meskipun sektor jasa makanan dan minuman mengalami kontraksi akibat perubahan preferensi konsumen.

Memasuki 2026, MTI memperkirakan momentum pertumbuhan akan berlanjut, didukung oleh ekspansi investasi AI global serta kebijakan fiskal yang lebih longgar di sejumlah ekonomi besar seperti Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang. Kondisi keuangan global yang relatif akomodatif juga diperkirakan menopang pertumbuhan.

Meski demikian, laju pertumbuhan ekonomi Singapura diperkirakan melambat dibanding 2025 akibat dampak tarif AS yang berlangsung sepanjang tahun dan meningkatnya hambatan perdagangan. MTI mencatat bahwa eskalasi ketegangan geopolitik atau kebijakan proteksionis baru dapat membebani sentimen bisnis dan rumah tangga.

Dalam rilis terpisah, Enterprise Singapore melaporkan bahwa ekspor domestik non-minyak Singapura tumbuh 4,8 persen pada 2025, melonjak dari 0,2 persen pada tahun sebelumnya. Ekspor elektronik, terutama semikonduktor dan perangkat komputer, mencatat kenaikan dua digit dan diperkirakan tetap kuat pada 2026. Proyeksi pertumbuhan ekspor non-minyak tahun ini pun direvisi naik menjadi 2 persen hingga 4 persen.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru