Loading
Warga mengecek tensi tekanan darah saat cek kesehatan gratis di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Minggu (23/11/2025). ANTARA FOTO/Nirza/agr/bar (ANTARA FOTO/NIRZA)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Kawasan Asia-Pasifik (APEC) kini tak lagi memandang kesehatan hanya dari balik pintu rumah sakit. Lewat pernyataan resminya, APEC menegaskan bahwa reformasi kesehatan adalah fondasi utama bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Di tengah bayang-bayang populasi yang menua secara cepat, sistem kesehatan kini menjadi variabel ekonomi yang sangat krusial.
Mengapa ini penting? Saat ini, wilayah APEC menghadapi tantangan "tiga serangkai": penduduk yang menua, menyusutnya jumlah angkatan kerja, dan melonjaknya biaya perawatan medis. Jika tidak segera dibenahi, beban ini akan menekan produktivitas dan stabilitas keuangan negara.
Choi Junho, Ketua Kelompok Kerja Kesehatan APEC, menekankan bahwa fokus saat ini telah bergeser. Kita tidak lagi sekadar memitigasi pandemi, tapi bersiap menghadapi tantangan struktural seperti digitalisasi dan perubahan demografi. Menariknya, pada tahun 2050, jumlah penduduk usia 65 tahun ke atas di APEC diprediksi melonjak hingga 22 persen diolah dari berbagai sumber.
Angka ini adalah pengingat keras. APEC mendorong setiap anggotanya untuk menciptakan sistem "penuaan sehat" (healthy aging). Tujuannya agar tekanan finansial pada keluarga dan anggaran negara tidak meledak di masa depan. Dengan belanja kesehatan yang mencapai 4% dari PDB di seluruh wilayah, kesehatan bagi 2,9 miliar penduduk
APEC bukan lagi soal obat-obatan, melainkan bahan bakar utama bagi ekonomi yang stabil dan berkelanjutan.