Loading
Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/bar)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah diperkirakan menghadapi tekanan dalam waktu dekat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global setelah penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, oleh Amerika Serikat.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai sentimen tersebut berpotensi mendorong investor global menjauhi aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.
“Ketegangan geopolitik ini dapat memicu penguatan dolar AS karena investor cenderung mencari aset aman. Dampaknya, rupiah berpeluang melemah dalam jangka pendek,” ujar Lukman kepada Antara di Jakarta, Senin (5/1/2025).
Baca juga:
Gejolak dan Mengawal RupiahPenangkapan Maduro terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan operasi militer besar terhadap Venezuela. Mengutip laporan Sputnik, operasi tersebut disebut melibatkan serangan ke Caracas yang berujung pada penahanan Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, lalu pemindahan keduanya ke luar negeri.
Sejumlah laporan media internasional menyebutkan adanya ledakan di ibu kota Venezuela dan mengaitkan operasi tersebut dengan keterlibatan unit elite militer AS, Delta Force. Harian The New York Times melaporkan ribuan korban jiwa akibat eskalasi konflik, termasuk dari kalangan militer dan warga sipil.
Sementara itu, Anadolu Agency menyebut Amerika Serikat mengambil alih kendali sementara atas Venezuela, termasuk opsi pengerahan pasukan tambahan jika diperlukan. Maduro dan Cilia Flores dilaporkan tiba di New York pada Sabtu malam dan kini ditahan di Metropolitan Detention Center, Brooklyn.
Keduanya menghadapi dakwaan federal terkait perdagangan narkoba dan dugaan kerja sama dengan jaringan kriminal yang dikategorikan sebagai organisasi teroris. Maduro secara terbuka membantah seluruh tuduhan tersebut.
Meski demikian, Lukman menilai dampak sentimen geopolitik ini terhadap rupiah tidak akan berlangsung lama.
“Reaksi pasar kemungkinan hanya bersifat sementara. Selama tidak ada eskalasi lanjutan yang signifikan, tekanan terhadap rupiah seharusnya terbatas,” ujarnya.
Berdasarkan kondisi tersebut, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.650 hingga Rp16.800 per dolar AS dalam waktu dekat.