Sabtu, 17 Januari 2026

Alih Lahan Sawit Dinilai Ancam Masa Depan Industri dan Kedaulatan Pangan Indonesia


 Alih Lahan Sawit Dinilai Ancam Masa Depan Industri dan Kedaulatan Pangan Indonesia Ilustrasi - Perkebunan sawit di Kalbar (ANTARA/Dedi)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, mengingatkan bahwa alih fungsi lahan secara masif menuju perkebunan sawit dapat membawa risiko besar bagi Indonesia. Menurutnya, keputusan yang terlalu fokus pada perluasan sawit dapat menekan ruang untuk sektor strategis lain, termasuk pangan, industri inovatif, serta pengembangan teknologi masa depan.

Novita menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan keseimbangan yang matang antara kepentingan ekonomi dan perlindungan lingkungan. “Ekonomi harus tetap bergerak, tapi masa depan generasi kita dan kelestarian lingkungan tidak boleh dikorbankan,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (5/12/2025).

Dengan tekanan global terhadap perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan energi ramah lingkungan, ia menilai bahwa teknologi hijau adalah arah paling realistis untuk memastikan Indonesia tetap kompetitif. Menurutnya, industri dalam negeri harus mulai meninggalkan ketergantungan pada sumber daya alam mentah dan beralih ke teknologi bernilai tambah tinggi.

“Kita tidak bisa terus mengandalkan SDA mentah. Transformasi industri menuju teknologi tinggi dan energi bersih itu wajib,” tegasnya.

Novita juga menyoroti pentingnya kemandirian bahan baku nasional. Tanpa rantai pasok yang kuat dan memenuhi standar keberlanjutan, Indonesia akan terus terjebak pada ketergantungan impor dan rentan krisis. Ia menilai, pemasok bahan baku dalam negeri harus dibina dan memenuhi standar hijau agar inovasi industri dapat berjalan optimal.

Lebih jauh, ia mengatakan bahwa arah pembangunan nasional harus diarahkan pada industri masa depan seperti kendaraan listrik, energi bersih, serta ekosistem teknologi yang tidak merusak lingkungan. “Teknologi kendaraan listrik bukan lagi tren, tapi kebutuhan nasional,” tambahnya dikutip Antara.

Novita menilai peta jalan (roadmap) pembangunan industri harus mempertimbangkan keberlanjutan jangka panjang. Keputusan hari ini, katanya, akan menentukan kualitas lingkungan hidup generasi mendatang. Ia meminta pemerintah dan pemangku kepentingan memastikan bahwa ekspansi lahan, termasuk untuk sawit, tidak mengabaikan dampak ekologis.

“Industri harus mulai menghitung dampak lingkungan secara serius. Kita butuh arah pembangunan yang aman secara bisnis sekaligus ramah lingkungan,” tutupnya.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru