IHSG Ditutup Menguat, Sinyal Optimisme Ekonomi RI di Akhir 2025


 IHSG Ditutup Menguat, Sinyal Optimisme Ekonomi RI di Akhir 2025 Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/10/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin (27/10) ditutup melemah 154,57 poin atau 1,87 persen ke level 8.117,15. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/YU

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia menutup perdagangan Kamis (6/11/2025) di zona hijau, menandakan sentimen positif pasar terhadap prospek ekonomi nasional menjelang akhir tahun.

IHSG naik 18,55 poin atau 0,22 persen ke level 8.337,06. Sementara indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga menguat tipis 0,09 persen ke posisi 847,65.

Menurut Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, penguatan IHSG dipicu oleh meningkatnya optimisme terhadap pemulihan ekonomi domestik di kuartal IV-2025. Selain itu, pengumuman review kuartalan indeks MSCI yang memasukkan beberapa saham baru ke dalam perhitungan indeks turut menjadi katalis positif di pasar.

«“Kombinasi antara ekspektasi ekonomi yang lebih baik dan kabar baik dari MSCI membuat investor kembali percaya diri,” ujar Ratna di Jakarta.»

Investor Pantau Cadangan Devisa dan Nilai Tukar Rupiah

Fokus pelaku pasar kini tertuju pada rilis data cadangan devisa Oktober 2025 yang akan diumumkan pada Jumat (7/11/2025). Angka ini menjadi penting karena sebelumnya cadangan devisa sempat menyentuh titik terendah sejak Juli 2024 akibat pembayaran utang luar negeri dan intervensi stabilisasi rupiah oleh Bank Indonesia.

Kondisi kurs rupiah yang sempat melemah membuat data tersebut semakin ditunggu sebagai indikator daya tahan ekonomi Indonesia terhadap tekanan global.

Sentimen Global: China dan AS Jadi Sorotan

Dari kawasan Asia, investor menanti laporan ekspor-impor China untuk Oktober 2025. Ekspor Negeri Tirai Bambu diperkirakan tumbuh 7,3 persen (yoy), sedikit melambat dari bulan sebelumnya yang mencapai 8,3 persen. Impor juga diproyeksikan tumbuh 7 persen (yoy).

Sementara dari Amerika Serikat, data Michigan Consumer Sentiment Preliminary bulan November 2025 diprediksi berada di level 53,2, menurun tipis dibanding Oktober (53,6), yang menandakan kehati-hatian konsumen terhadap kondisi ekonomi.

Sektor Industri Pimpin Penguatan

Dari sisi sektoral, delapan dari sebelas sektor di Bursa Efek Indonesia mencatatkan penguatan. Sektor industri memimpin dengan kenaikan 2,16 persen, disusul energi naik 1,86 persen, dan transportasi & logistik meningkat 1,21 persen.

Tiga sektor yang tertekan adalah barang konsumen primer (-0,77%), barang baku (-0,67%), dan kesehatan (-0,09%).

Beberapa saham yang mencatat lonjakan harga tertinggi antara lain LABA, UNTD, NIRO, PJHB, dan DFAM. Sementara saham yang mengalami koreksi terbesar di antaranya BABY, ATIC, PTSP, BAPA, dan KICI.

Aktivitas Perdagangan Tetap Ramai

Volume perdagangan mencapai 25,96 miliar lembar saham dengan nilai transaksi Rp18,47 triliun. Frekuensi transaksi tercatat 2,39 juta kali, dengan 394 saham menguat, 259 melemah, dan 158 stagnan.

Bursa Asia Bergerak Variatif

Bursa saham regional sore ini bergerak beragam. Nikkei melemah tajam 2,33 persen ke 50.297,00, Hang Seng turun 0,07 persen ke 25.935,41, sedangkan Shanghai Composite justru menguat 0,23 persen ke 3.969,25. Straits Times sedikit terkoreksi 0,13 persen ke 4.417,12.

Dengan tren positif IHSG dan keyakinan terhadap perbaikan ekonomi nasional, pelaku pasar berharap penguatan ini bisa berlanjut hingga akhir tahun, terutama jika data fundamental mendukung.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru