ARAH DESA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE
Kemendes

Eriko Sotarduga: Media Harus Diberi Kesempatan Menggali Sosok Kandidat RI 1 dan RI 2

Jumat , 15 Maret 2019 | 11:10
Eriko Sotarduga: Media Harus Diberi Kesempatan Menggali Sosok Kandidat RI 1 dan RI 2
Anggota DPR RI Fraksi PDIP, Eriko Sotakterduga (pegang mike) saat jadi pembicara dalam diskusi tentang Debat Capres ketiga antara Cawapres 01 KH Maruf Amin dan Cawapres 02 Sandiaga Uno, di Ruang Media Center Parlemen, Jakarta, Kamis (14/3/2019). (Arahkita/Dominikus Lewuk)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Eriko Sotakterduga menilai bahwa, berdasarkan hasil survei debat pertama capres-cawapres pasangan 01 Joko Widodo-KH.Ma'ruf Amin dan paslon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pada Minggu (17/1/2019) itu hanya disaksikan 50,6% penonton. Lalu, apa yang ditangkap oleh rekan-rekan media dengan 50,6% penonton?

"Jadi, ternyata masyarakatnya sudah cerdas, sudah sangat dewasa. Publik sudah sangat memahami ini waktu debat pertama ini kurang begitu menarik. Saya juga harus menyampaikan jujur kita harus apa adanya, bukan mau mengatakan ini jelek, tidak. Namun, kita kan harus kritik dan otokritik. Itu berarti masyarakat memahami waktu debat pertama ini nanti substansi dan juga cara berdebat ini masih belum terlalu menarik," kata Eriko saat jadi pembicara dalam diskusi tentang Debat Capres ketiga antara Cawapres 01 KH Ma'ruf Amin dan Cawapres 02 Sandiaga Uno, di Ruang Media Center Parlemen, Jakarta, Kamis (14/3/2019).

Namun, lanjutnya, pada debat kedua ini sudah berbeda. Sudah jauh lebih menarik daripada debat pertama. "Tetapi, apakah ini sudah seperti yang diinginkan masyarakat di Indonesia? Saya harus jawab belum,"ungkapnya bertanya.

Sebenarnya dirinya sudah mengusulkan secara kongkrit di media-media televisi. Pada awal Oktober 2018 dirinya sudah menyampaikan bahkan bersama komisioner KPU di salah satu media televisi. "Saya sampaikan bahwa hal-hal seperti ini yang membuat menarik itu adalah kalau media televisi diberikan sedikit banyak kebebasan untuk mengelaborasi sosok kandidat sekaligus visi,misinya menjelang debat,"katanya.

Bahkan usulan konkritnya begini, sebelum masuk ke debat yang utama, bagaimana setiap stasiun televisi diberikan kesempatan menggali dari seluruh calon-calon ini, baik itu bagaimana kehidupan mereka, bagaimana sih sebenarnya apa yang akan mereka lakukan sebagai seorang calon pemimpin bangsa kita. Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden itu , melakukan yang terbaik bagi rakyatnya. Ini bukan sesuatu hal, oh kalau ini kalah terus ini habis, bukan begitu, ini pesta demokrasi yang ditunggu rakyat indonesia sekali 5 tahun," ibuhnya.

Lanjut dia, seharusnya digali dengan diberikan kesempatan kepada setiap stasiun televisi , katakanlah dua kali satu minggu selama 1 hingga 1,5 jam . Dan, tentu media televisi atau media online, dan mereka paham bagaimana cara menyajikan yang terbaik. Nanti dari sini masyarakat sudah tahu bagaimana kondisi sesungguhnya, bagaimana kehidupannya, bagaimana track recordnya, apa yang akan dilakukan pada saat beliau-beliau ini dipercaya rakyat untuk memimpin Negara ini.

Dengan demikian pada waktunya nanti rakyatlah yang bertanya. Nah, ini menurut saya yang bertanya apa yang perlu ditanyakan di sana, tidak harus misalnya katakan masalah ketenagakerjaan, pendidikan tidak harus seperti itu, kaku.

"Katakan dibatasi misalnya yang mau ditanyakan saat ini adalah bidang ini, kan yang paling ditanyakan paling penting bidang ekonomi, tenaga kerja asing atau Pekerja Migran Indonesia (PMI), tax (perpajakan), pertumbuhan ekonomi ke depan, pengangguran, dan lain-lain. Kalau ini diberi kepada rakyat untuk bertanya, ini akan bagus sekali, nah di situlah silahkan di kembangkan. Tentu saja, dengan cara media, media yang tahu bagaimana yang terbaik agar ini menarik bagi rakyat," saran Eriko.

Dijelaskan juga jika itu dilakukan, maka tak perlu lagi ada kampanya besar-besaran, tidak perlu karena penetrasi televisi 93% , ditambah media online ditambah media cetak seluruh yang ada. Maka, sebenarnya inilah yang diinginkan masyarakat sesungguhnya, bahwa mereka mengetahui siapa calon pemimpin yang nanti akan mereka pilih, kan ini hanya ada dua pilihan dan kita hanya boleh memilih salah satu.

"Jadi, sebenarnya ini inti dari debat itu. Selanjutnya tinggal masyarakat akan mengetahui luar dalam dari calon ini nya. Karena, bagaimanapun ini adalah calon-calon yang terbaik dari bangsa ini dan ini kita harus sadari. Sekali lagi, ini pesta demokrasi, ini bukan perang demokrasi tetapi ini pesta demokrasi, media menyajikan, rakyatlah yang menentukan dan memilihnya."

Lanjut Eriko, di di debat ketiga ini sebelum terlambat, paling tidak diberikan keleluasaan kebebasan. "Saya mau sampaikan juga bagaimana dari sudut kami dari petahana. Mungkin banyak yang berpikir, bagaimana menghadapi yang muda, bagaimana menghadapi yang muda seperti calon kami Pak Kyai Haji Ma'ruf Amin .

"Sekarang saya tanyakan, apakah ukuran umur itu menjadi menyatakan bahwa dia lebih baik lebih dari yang lain? Kan tidak juga. Selama ini apa yang sudah dilakukan. Kyai Haji Ma'ruf Amin ini sekarang sebelum maju kepada calon Wakil Presiden. Beliau adalah Ketua Umum MUI, sebelum itu track record politiknya dari mulai DPRD sampai DPR RI , lengkap bahkan beliau pernah jadi Ketua Fraksi PKB saat Gus Dur jadi Presiden," tutup Eriko.

Laporan: Dominikus Lewuk

 

Editor : Farida Denura
KOMENTAR