ARAH DESA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE

Mewujudkan Bangunan Hijau, Kota Cerdas, dan Kota Berkelanjutan antara Pandemi COVID-19 dan Protokol Kesehatan

Minggu , 22 November 2020 | 14:39
Mewujudkan Bangunan Hijau, Kota Cerdas, dan Kota Berkelanjutan antara Pandemi COVID-19 dan Protokol Kesehatan
Prof. Dr-Ing. Ir.Uras Siahaan, lic.rer, reg, Guru Besar Program Magister Arsitektur, PPs- UKI dalam paparannya bertajuk:"Green Building, Smart City and Sustainable City" pada online seminar yang digelar FT UKI bekerja sama dengan PPs UKI pada Rabu, 28 Oktober 2020 lalu. (Foto-Foto: Istimewa)

BANGUNAN Hijau (Green Building), Kota Cerdas (Smart City), dan Kota Berkelanjutan (Sustainable City) menjadi isu tren di awal abad 21. Namun demikian karena merebaknya virus COVID-19 semuanya berubah drastis.

Prof. Dr-Ing. Ir.Uras Siahaan, lic.rer, reg, Guru Besar Program Magister Arsitektur, PPs- UKI dalam paparannya bertajuk:"Green Building, Smart City and Sustainable City" pada online seminar yang digelar FT UKI bekerja sama dengan PPs UKI pada Rabu, 28 Oktober 2020 lalu mengatakan semua regulasi hijau dan ramah lingkungan,yang belum bisa dicapai seratus persen lantaran diinterupsi oleh serangan pandemi COVID-19. Kota Berkelanjutan tentunya akan dan harus memikirkan masalah ini, sehingga anggapan bahwa Kota Cerdas karena era digital semakin harus diterima dengan kondisi terkini serangan pandemi.

Karenanya kata Prof Uras, metode perencanaan, desain bangunan dan kota juga harus memperhatikan protokol kesehatan yang ditentukan oleh COVID-19 yakni Cuci Tangan, Pakai Masker dan Jaga Jarak. Hal ini bermuara pada sikap menjaga kebersihan, menghindari kuman dan mencegah penyebaran virus melalui sentuhan dan nafas. Ketentuan ini dengan cepat didukung oleh kemajuan teknologi, melalui kemampuan digital.

Dengan kemajuan teknologi tersebut, manusia bisa terhindar dari kontak langsung, menyebarkan kuman, dan masih bisa berkomunikasi hingga ribuan kilometer.

Prof Uras mengatakan Bangunan Hijau (Green Building) hingga akhir tahun 2019 masih menjadi standar Pembangunan Kota Berkelanjutan. Smart Building Indonesia masih dalam tahap pembelajaran, dan baru diimplementasikan di Jakarta, Surabaya dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Kedua elemen ini menjadi bahan kajian untuk Kota Berkelanjutan. Faktor pandemi COVID-19 maka harus diperhatikan dalam menyusun konsep Bangunan Hijau, Kota Cerdas, dan Kota Berkelanjutan

Dijelaskan Prof Uras, bangunan hijau mulai dibahas pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, dimana masalah ekologi telah menjadi kebutuhan untuk pembangunan kota. Cara membangun ekologi mulai dipikirkan, bagaimana proses pembangunan yang ramah lingkungan, efisiensi penggunaan sumber daya selama siklus hidup bangunan, mulai dari perencanaan awal, konstruksi, pengoperasian, pemeliharaan, renovasi hingga pembongkaran.

Lebih lanjut Prof Uras mengatakan bangunan hijau juga dirancang untuk mengurangi dampak lingkungan binaan terhadap kesehatan manusia, alam, hewan, dan tumbuhan, dan penggunaan energi, air, dan sumber daya lainnya secara efisien.

04b06f2a-6530-4208-b1b8-d2aa1d5c4a1c_1

Penerapan aspek Bangunan Hijau dalam hal desain bangunan mencakup:

  1. Teknik pemilihan bentuk dan orientasi bangunan yang tepat, untuk mengantisipasi kondisi iklim.
  2. Menggunakan pelindung (sun shading) untuk mereduksi panas matahari dan radiasi
  3. Penggunaan sistem pencahayaan cerdas dalam disain bangunan
  4. Memaksimalkan pengolahan limbah, penggunaan kembali serta menghemat penggunaan air

Konsep Pembangunan Bangunan Hijau memperhatikan aspek-aspek sebagai berikut:

  1. Penggunaan material yang semaksimal mungkin dari alam, dapat didaur ulang, memiliki daya tahan tinggi
  2. Penggunaan energi terbarukan, panel surya, dalam pembangunannya
  3. Penggunaan air seefisien mungkin, hindari penggunaan air tanah
  4. Menghindarkan penggunaan bahan yang mengandung racun seperti PVC.

Sementara masalah Kota Cerdas tidak lepas dari isu Pandemi COVID-19. Untuk itu, pemecahan masalah perkotaan harus menambahkan elemen standar untuk mencegah pandemi COVID-19, yaitu: Pakai Masker, Cuci Tangan dan Jaga Jarak.

Menurut Prof Uras, Kota Cerdas berhubungan erat  dengan Revolusi Industri. Perkembangan Revolusi Industri dari tahun ke tahun, dari tahap ke tahap, selalu mempunyai pengaruh sosial terhadap perkembangan kota dan masyarakat kotanya pula, sehingga dinamakan Revolusi Sosial.

Pada setiap tahapan revolusi industri ternyata diiringi dengan perubahan tata kota. Dampak buruk Revolusi Industri 2.0, berdampak pada kondisi perkotaan pada saat itu dan sering kali diiringi dengan wabah penyakit dari waktu ke waktu. Para perencana kota mulai memikirkan kota-kota idealis, seperti kota taman.

Kota-kota di era Revolusi Industri 3.0, di era revolusi digital, penggunaan sistem elektronik dan teknologi informasi, otomatisasi produksi, penemuan sistem kendali logika (PLC, yang disebut modem 084-969), dampak pembangunan industri dan otomotif, membawa dampak lingkungan lebih lanjut. Dengan demikian dimulai era "Kota Ramah Lingkungan".

Pemerintah Kota di era ini berupaya mengajak partisipasi masyarakat dalam pembangunan kota, melalui sistem pengelolaan Good Governance, dimana Pemerintah Kota lebih berperan sebagai Fasilitator, Warga sebagai Partisipan Pembangunan. Hal ini termasuk dalam target kota pintar.

Salah satu permasalahan kota padat penduduk adalah tekanan urbanisasi yang terus berlanjut, tanpa batas, sehingga mengganggu perekonomian kota dan keseimbangan pendapatan dan anggaran belanja kota.

Perubahan iklim global juga berdampak di seluruh dunia. Bagaimana hal ini harus ditangani, ditambah Pandemi COVID-19?

Dengan demikian, kota pintar di era revolusi industri 4.0 menjadi:

  • Kota yang memfasilitasi dan menggunakan pola teknologi disruptif baru, yang memunculkan pemain ekonomi baru
  • Kota yang memanfaatkan super komputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, pengeditan genetik, dan pengembangan teknologi saraf yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak.
  • Kota-kota yang mengalami ancaman pengangguran besar-besaran, yang membawa guncangan sosial & politik yang berlebihan
  • Kota-kota yang tidak membutuhkan usaha eceran grosir yang terpusat (Tanah Abang, Pusat-pusat perdagangan besar), tetapi lebih ke arah perdagangan yang menghubungkan konsumen langsung dengan produsen, mengakibatkan berkembangnya usaha ekspedisi.
  • Kota yang dapat merusak bisnis persewaan kantor dan menggantinya dengan bisnis rumahan, yang dapat mengurangi biaya perjalanan dan transportasi umum

Kota Pintar sendiri dapat dideskripsikan sebagai :

  • Kota yang telah mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi ke dalam tata kelola kota sehari-hari, untuk meningkatkan efisiensi, pelayanan publik, dan meningkatkan kesejahteraan warganya.
  • Integrasi teknologi dalam tata kelola kota dimungkinkan berkat adanya internet of things, yaitu jaringan perangkat elektronik yang saling berhubungan dan mampu mengirimkan data atau menindaklanjuti campur tangan manusia yang minimal.
  • Implementasi Kota Cerdas di Indonesia sendiri memiliki berbagai kendala, mulai dari infrastruktur pendukung yang belum memadai, kesiapan pemerintah daerah, hingga masyarakat sendiri yang belum mampu memanfaatkan teknologi digital secara maksimal.

Indonesia sendiri sedang berjuang untuk mengembangkan kotanya menjadi Kota Pintar.

Ketika situasi terbaru berkembangnya pandemi COVID-19 terjadi, hal berikut harus disiapkan:

  • Dibutuhkan transformasi infrastruktur TI, data, undang-undang perlindungan data pribadi
  • Jaringan mobilitas perkotaan akan berubah, alat transportasi listrik akan berkembang pesat, kemajuan di bidang transportasi merupakan syarat mutlak dalam Revolusi Industri 4.0, namun hal ini juga akan diiringi dengan pembatasan jumlah penumpang
  • Kondisi keuangan kota bisa kritis, karena lompatan pembangunan akibat revolusi industri 4.0, jika kota kita tidak siap untuk itu. Kondisi ini semakin diperumit dengan pandemi COVID-19, pengeluaran ekstra besar harus disediakan untuk mengerem aktivitas kota.
  • Prediksi 2/3 penduduk perkotaan yang tinggal di perkotaan tetap harus dibuktikan, karena kondisi pandemi juga akan menghambat arus urbanisasi.
  • Penyebaran penduduk dari kota ke pedesaan perlu didorong, untuk mencegah terbentuknya clustering penyakit di perkotaan.
  • Masih banyak lagi keterbatasan yang akan kita temui, yang mengubah semua paradigma yang telah dibahas selama ini.
  • Posisi pulau Jawa sebagai pulau terpadat di Indonesia yang juga mengalami beban terbesar dari pandemi COVID-19. Antisipasi penyebaran penduduk menjadi hal yang penting saat ini.

Masalah pembangunan Kota Berkelanjutan telah berlangsung selama beberapa dekade, dan akan tetap menjadi perhatian para ahli kota. Isu pandemi COVID-19 sangat penting diperhatikan, untuk kelanjutan pembangunan Kota Cerdas.

Keterlambatan Indonesia dalam mengembangkan kotanya untuk mencapai Standar Kota Cerdas telah mendapat manfaat dari pandemi COVID-19 ini. Sekarang saatnya kita mencari standar yang lebih sesuai untuk Kota Cerdas di abad ke-21.

 

 

 

Editor : Farida Denura
KOMENTAR