ARAH DESA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE
Kemendes

Di China, Kemendes Paparkan Kesuksesan Pemanfaatan Dana Desa dan Empat Program Prioritas

Jumat , 18 Oktober 2019 | 23:01
Di China, Kemendes Paparkan Kesuksesan Pemanfaatan Dana Desa dan Empat Program Prioritas
Kepala Biro Humas dan Kerjasama Kemendes PDTT Bonivasius Prasetya Ichtiarto saat menjadi pembicara dalam the 2019 Global Poverty Reduction and Development Forum yang diselenggarakan oleh The State Council Leading Group Office of Poverty Alleviation and Development of China (LGOP) di Beijing, Tiongkok pada Kamis (17/10/2019). (Foto: Humas Kemendes PDTT)

BEIJING, ARAHKITA.COM - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) berhasil mengurangi kemiskinan di Indonesia melalui pemanfaatan dana desa dan empat program prioritas Kemendes PDTT dalam kurun waktu lima tahun.

Keempat program tersebut yakni pengembangan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades), pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pembangunan Embung Desa dan pembangunan Sarana Olahraga Desa.

Hal itu disampaikan Kepala Biro Humas dan Kerjasama Kemendes PDTT Bonivasius Prasetya Ichtiarto saat menjadi pembicara dalam the 2019 Global Poverty Reduction and Development Forum yang diselenggarakan oleh The State Council Leading Group Office of Poverty Alleviation and Development of China (LGOP) di Beijing, Tiongkok pada Kamis (17/10/2019).

Bonivasius menyampaikan bahwa program-program pengentasan kemiskinan yang telah dilakukan di Indonesia sifatnya adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya dibidang pendidikan dan kesehatan melalui program-program antara lain Program Keluarga Harapan, Program Raskin, Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, Kartu Keluarga Sejahtera, dan dana desa.

"Pemanfaatan dana desa bertujuan untuk mengoptimalkan pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa untuk meningkatkan kesejahteraan 74.952 desa di Indonesia," katanya.

Lebih lanjut, Bonivasius menyampaikan bahwa program Dana Desa yang direalisasikan tahun 2015-2018 memfokuskan pada pembangunan infrastruktur kawasan perdesaan untuk mendukung aktivitas ekonomi seperti pembangunan 201.899 km jalan desa, 9.329 Pasar Desa, 1.181.659 meter jembatan desa, 38.140 unit BUMDesa, dan untuk meningkatkan kualitas hidup antara lain, pembangunan sarana air bersih 966.350 unit, 10.101 unit Polindes, dan 53.002 PAUD.

"Pemanfaatan dana desa tersebut berhasil menurunkan angka kemiskinan Indonesia 9,41 persen pada 2019 dari 11,22 persen pada 2014. Selain itu, dana desa berdampak menurunkan angka stunting dari 37,2 persen pada 2013 menjadi 30,8 persen pada 2018," katanya.

The 2019 Global Poverty Reduction and Development Forum atau Forum Pengurangan Kemiskinan dan Pembangunan Global 2019 merupakan kegiatan internasional yang mempertemukan para pejabat tingkat tinggi, organisasi internasional, sektor swasta, masyarakat sipil, dan lembaga penelitian dari seluruh dunia untuk berbagi pengalaman dan berdiskusi tentang masalah pengurangan kemiskinan. Tema besar forum pada tahun 2019 ini adalah “Tata Kelola Kemiskinan: Pengalaman Global dan Praktik China”.

Forum diikuti oleh 200 peserta dengan pembicara yang terdiri dari Menteri dan pejabat tinggi dari berbagai negara antara lain Laos, China, Republik Uganda, Filipina, Korea Selatan, Tanzania, Myanmar, Botswana, Pakistan, Ethiopia, Kamboja, Seychelles, Nepal, World Bank, Profesor dari China Agriculture University, Profesor dari Universitas Oxford, Universitas Peking, IPRCC, IFAD, ISSCAD, CFPA, UNESCO Representative untuk China, Korea, Japan, Mongolia, UNICEF, GABAR.

Beberapa peserta perwakilan negara antara lain Botswana, Ethiopia dan Pakistan, yang hadir pada forum tersebut tertarik mengadopsi program pengentasan kemiskinan di Indonesia. Selain itu, beberapa stake holders NGO di Tiongkok tertarik dengan program pemberdayaan masyarakat desa di Indonesia seperti BUMDes.

"Harapannya agar dikemudian hari dapat tercipta peluang kerjasama dengan negara Tiongkok dalam peningkatan kualitas ekonomi masyarakat desa," katanya.

Editor : Farida Denura
KOMENTAR