ARAH DESA | ARAH DESTINASI | ARAH PROPERTI | ARAH POLITIK | SCHOLAE
Kemendes

Menghidupkan Surga Baru Belanja Buku di Jakarta

Rabu , 24 Juli 2019 | 07:30
Menghidupkan Surga Baru Belanja Buku di Jakarta
Warga berbelanja buku di Jakbook, sentra buku Pasar Kenari, Salemba, Jakarta Pus

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Ruang luas sejuk nan bersih akan menyambut setiap pengunjung saat menjejakkan kaki di lantai tiga Pasar Kenari, salah satu sentra penjualan alat listrik yang telah sekitar 20 tahun berdiri di Jakarta.

Berbeda dengan tiga lantai di bawahnya yang sedikit kotor dan pengap, lantai tiga pasar di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, itu lebih terlihat seperti pusat perbelanjaan modern yang banyak bertebaran di belantara beton Ibu kota.

Namun bukan lampu, kabel maupun pompa air listrik yang dijual di lantai tiga itu, tetapi pengunjung akan disuguhi dengan buku-buku.

Ya, pada 29 April 2019, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meresmikan lantai tiga Pasar Kenari sebagai salah satu sentra belanja buku di Jakarta. Namanya Jakbook.

Sentra buku Pasar Kenari yang dikelola Pemprov DKI melalui Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Jaya itu digadang-gadang menjadi surga baru bagi para pecinta buku sekaligus dapat meningkatkan minat baca masyarakat.
Beragam fasilitas
"Lokasinya strategis, harganya (buku) murah harapannya nanti warga Jakarta bisa lebih cepat pertumbuhan minat bacanya," kata Gubernur Anies usai meresmikan sentra buku Pasar Kenari pada 29 April 2019.

Di lantai tiga gedung Pasar Kenari ini sebanyak 66 kios pedagang dan satu gerai besar buku Jakbook akan memanjakan siapa saja yang ingin berburu buku.

Beraneka ragam jenis buku, dari baru maupun bekas, baik keluaran Indonesia maupun buku impor berbahasa Inggris, Arab, hingga Jepang, semua tersedia di tempat ini.

Pengunjung tidak akan berpeluh keringat saat mencari buku yang mereka inginkan karena instalasi pendingin udara aktif menyala mendinginkan ruang seluas sekitar 714 meter persegi itu.

Selain itu, sejumlah fasilitas lainnya seperti eskalator (tangga berjalan otomatis), mesin-mesin anjungan tunai mandiri (ATM), ruang menyusui bayi (laktasi), ruang kerja (coworking space) dan tiga titik tempat membaca yang didesain sesuai selera anak muda kekinian turut memanjakan pengunjung di pasar buku ini.
Belum lagi di salah satu sudut lantai tiga itu juga ada gerai kopi dengan sifat-sifatnya yang empuk menjadi pilihan tempat membaca buku yang nyaman.

Minimarket Jakmart pun beroperasi di lantai tiga itu menjual produk makanan, minuman dan sejumlah kebutuhan Sembako masyarakat.

Tak hanya itu, dalam area yang sama Pasar Jaya juga menghadirkan layanan pendidikan anak usia dini (PAUD) yang bernama Tempat Penitipan Anak (TPA) Negeri Bina Tunas Jaya 4.

Layanan gratis ini memfokuskan pada pengembangan anak usia dini, khususnya bagi anak dari pedagang dan penjaga toko.

"Semua fasilitas yang terintegrasi ini diharapkan menjadi magnet Pasar Kenari sebagai obyek wisata edukasi favorit bagi masyarakat Jakarta dan daerah-daerah sekitarnya, khususnya untuk generasi milenial" kata Staf Pemasaran Perumda Pasar Jaya, Astri Vinasty.

Kemudahan tidak hanya diberikan kepada pengunjung, Pasar Jaya juga memberikan kemudahan kepada para pedagang buku yang berjualan di lokasi tersebut.

Dari 66 kios yang ada, semuanya diisi pedagang dari sentra buku terdahulu di Kwitang dan Pasar Senen tanpa biaya sewa kios selama setahun.

Biaya yang dibayar para pedagang, kata Astri, hanya untuk biaya perawatan, kebersihan, dan pelayanan yang berkisar Rp250.000-Rp500.000 per kios tergantung ukurannya.

Salah seorang pedagang buku di Pasar Kenari, Labora Sitorus mengatakan, suasana berjualan di lokasi barunya ini jauh lebih nyaman dibandingkan kios lamanya yang berada tak jauh dari Terminal Bus Pasar Senen.

Dahulu panas dan bising suara kendaraan bermotor. Kini setiap hari selalu sejuk dan tidak pernah merasakan polusi udara saat berjualan.

Apalagi Labora kini dalam proses pemulihan dari sakit berat yang diderita beberapa bulan terakhir. "Kondisi lokasi jualan yang tidak panas seperti di sini membantu pemulihan sakit saya," kata Labora.
Kondisi sepi
Berdasarkan pantauan ANTARA, semua fasilitas yang ada di pasar buku itu berfungsi dengan baik. Suasana pasar buku itu terasa nyaman dan bersih karena sejumlah tenaga kebersihan selalu siap siaga membersihkan kotoran yang ada.

Namun, dari 66 kios yang ada, banyak di antaranya yang tidak beroperasi.Sebagian kios lainnya yang buka tampak pedagang yang menyibukkan diri dengan menata buku-buku dagangan mereka.

Sesekali para pedagang melayani pembeli yang menanyakan buku yang dicari. Pembelinya pun tak jarang merupakan pengemudi ojek sepeda motor berbasis daring yang mendapatkan orderan pelanggan untuk membeli buku di pasar itu.

"Ramainya pembeli hanya pada sepekan awal setelah tempat ini dibuka Gubernur Anis Baswedan pada akhir April 2019 ," kata salah satu pedagang buku..

Setelah itu, kata dia, jumlah pengunjung semakin menurun hingga saat ini atau hampir tiga bulan sentra buku yang sebagian besar berasal dari sentra buku Pasar Senen dan Kwitang, Jakarta Pusat.

"Kalaupun ramai, ya Sabtu, Minggu atau hari libur. Saat hari biasa ya seperti sekarang, sepi," kata Labora.

Sejak pekan kedua sentra buku di Pasar Kenari ini dibuka, banyak pedagang yang menutup kiosnya dan memilih berjualan di kios maupun lapak lama mereka di Pasar Senen maupun Kwitang.

"Di sana penjualannya lebih menjanjikan. Saya pun masih membuka satu lapak di Pasar Senen dengan hasil penjualan yang lebih bagus dibandingkan di Pasar Kenari ini," kata pedagang yang sudah sejak 2013 berjualan buku di Pasar Senen.

Dia membandingkan, untuk penjualan "offline" di Pasar Kenari hanya mencapai rata-rata sepuluh buku per hari. Sedangkan di Pasar Senen bisa mencapai 40 buku per hari.

"Untuk ujung tombak pemasukan penjualan buku dagangan saya berasal dari penjualan melalui toko daring. Itu memang sudah tiga tahun terakhir semenjak maraknya penjualan secara daring," kata Labora.

Senada dengan Labora, seorang pedagang lainnya, Indah Suciati mengaku merasakan berkah dari ramainya penjualan di Pasar Kenari berlangsung pada sebulan pertama.

Setelah itu berangsur sepi. "Untuk mencapai penjualan Rp100 ribu per hari susahnya bukan main," kata pemilik kios buku di Pasar Senen.

Padahal di kiosnya yang lama di Pasar Senen, penjualan rata-rata per hari bisa mencapai Rp300.000. Kondisi lebih parah dialami pedagang lainnya, Naomi Peda.

Bahkan, Naomi beberapa kali mengalami tanpa ada buku satu pun yang lalu dalam sehari. Naomi berharap pemerintah terus gencar mempromosikan sentra buku Pasar Kenari tempat dia berjualan.

"Jangan sampai karena semakin sepi, semua pedagang pindah dari tempat ini," kata pedagang yang khusus berjualan buku bekas itu.

Padahal fasilitas yang ada di lantai tiga Pasar Kenari ini sangat lengkap dan nyaman. "Jangan sampai fasilitas yang bagus di Pasar Kenari ini tidak dinikmati masyarakat karena promosi yang kurang gencar," kata perantau asal Sumba, Nusa Tenggara Timur itu.

Editor : Patricia Aurelia
KOMENTAR